Jenderal Hitoshi Imamura, Panglima Jepang Paling Ramah Sekaligus Sahabat Soekarno

1 day ago 15

Jenderal Hitoshi Imamura merupakan salah satu tokoh militer Jepang yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Indonesia. Di balik berbagai kebijakan penjajah Jepang yang keras, Hitoshi Imamura justru terkenal ramah dibandingkan jenderal lainnya. Ia cukup diplomatis, menghargai masyarakat, bahkan mampu menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh nasional, termasuk Presiden Soekarno.

Baca Juga: Kisah Cinta Soekarno dan Heldy Djafar, Romansa Terakhir Sang Proklamator

Menariknya, kedekatan Soekarno dan Imamura telah terjalin lama. Kisah keduanya menjadi cerita unik bagi banyak orang. Hubungan yang saling bantu-membantu turut membuat sosok Imamura sering masuk pembahasan penting di negeri ini. Hal itu mengingat tidak semua tokoh militer Jepang memiliki hubungan serupa dengan para pemimpin bangsa.

Mengenal Sosok Jenderal Hitoshi Imamura

Hitoshi Imamura lahir di Prefektur Miyagi, Jepang, pada 27 Juni 1886. Karier militernya berlangsung setelah lulus dari Akademi Militer Kekaisaran Jepang pada 1907. Ia lulus dengan pangkat letnan dua. Berkat kemampuan kepemimpinan dan prestasinya, karier Imamura berkembang cukup pesat.

Imamura pernah menduduki berbagai jabatan penting. Mulai dari komandan sekolah militer hingga menjadi bagian dari staf Tentara Kwantung di Manchuria. Pada akhir dekade 1930-an, pangkatnya telah mencapai letnan jenderal. Bahkan dipercaya memimpin Divisi ke-5 Tentara Kekaisaran Jepang dalam Perang Tiongkok-Jepang.

Menjelang pecahnya perang di kawasan Asia Tenggara, Imamura kembali memperoleh tugas strategis. Ia bekerja sebagai komandan Pasukan Angkatan Darat ke-23 yang bermarkas di Guangdong. Tidak lama kemudian, ia memimpin Tentara ke-16 dengan misi yang jauh lebih besar. Salah satunya yaitu merebut Pulau Jawa dari tangan pemerintah Hindia Belanda.

Penugasan tersebut tentu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup sang jenderal. Apalagi tugas krusial ini membawa Imamura berhadapan langsung dengan kekuatan kolonial Belanda yang cukup kuat di eranya. Sekaligus mempertemukannya dengan para tokoh nasional Indonesia sambil menghadapi beragam gejolak.

Pendudukan Jepang di Indonesia di Bawah Komando Hitoshi Imamura

Tahun 1942, pasukan Jenderal Imamura bergerak menuju wilayah Hindia Belanda sebagai bagian dari ekspansi Jepang di Asia Tenggara. Operasi militer tersebut berlangsung cepat. Setelah Jepang mendarat di berbagai wilayah Nusantara, termasuk Tarakan dan kemudian Pulau Jawa, kekuatan Belanda semakin terdesak.

Baca Juga: Kamar Soekarno di Savoy Homann Kaya Sejarah, Jadi Rebutan Pejabat

Awal Maret 1942, pemerintah Hindia Belanda akhirnya menandatangani penyerahan tanpa syarat kepada Jepang. Proses ini berlangsung melalui Perjanjian Kalijati di Subang, Jawa Barat. Peristiwa itu menandai berakhirnya kekuasaan Belanda yang telah berjalan selama ratusan tahun di Negara Indonesia.

Keberhasilan tersebut tidak mereka raih dengan mudah. Dalam perjalanan menuju Pulau Jawa, Imamura bahkan nyaris kehilangan nyawa. Tepatnya ketika kapal yang ia tumpangi terkena torpedo di Selat Sunda. Pasukan harus bertahan di laut selama beberapa waktu sebelum akhirnya berhasil selamat oleh kapal Jepang lainnya.

Meski menghadapi situasi berbahaya, Imamura tetap melanjutkan operasi militer hingga berhasil menguasai Jawa. Selama memimpin pemerintahan militer di Jawa, Imamura terkenal memiliki metode yang relatif lunak. Apalagi jika membandingkannya dengan sejumlah penerusnya. Ia menilai masyarakat Jawa bersikap kooperatif dan tidak sepenuhnya memandang Jepang sebagai musuh.

Taktik yang lebih persuasif dari Jenderal Hitoshi Imamura membuat sejumlah tokoh nasional bersedia bekerja sama. Termasuk Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara dan K.H. Mas Mansyur. Mereka bekerja sama dalam beberapa program pemerintahan Jepang, meski tujuan akhirnya tetap mengarah pada cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Penahanan Warga Hindia Belanda dan Akhir Jabatan Imamura

Setelah kekuasaan Belanda runtuh, tentara, pejabat sipil, serta keluarga warga Belanda menjalani penahanan oleh pemerintahan Jepang. Mereka menempati berbagai kamp interniran dan menjalani kehidupan biasa. Banyak di antaranya yang mengalami kekurangan pangan, keterbatasan fasilitas, hingga harus menjalani kerja paksa selama Jepang berkuasa.

Di sisi lain, Imamura tidak lama memimpin pemerintahan di Jawa. Pada November 1942, ia pindah ke Rabaul, Papua Nugini. Tugasnya berganti memimpin Tentara ke-8 Jepang dalam menghadapi serangan Sekutu di kawasan Pasifik. Kepindahan tersebut menjadi titik balik yang cukup besar. Apalagi karena penggantinya menerapkan kebijakan yang jauh lebih keras terhadap masyarakat Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, simpati rakyat kepada Jepang pun mulai memudar. Terutama akibat meningkatnya tekanan, kerja paksa dan berbagai kebijakan yang membebani kehidupan masyarakat. Kondisinya sangat berbanding terbalik dengan ketika Jenderal Hitoshi Imamura masih berkuasa.

Akhir Perang hingga Upaya Penyelamatan Imamura oleh Soekarno

Pasca Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, Imamura menjalani proses hukum sebagai tersangka penjahat perang. Mula-mula ia diadili oleh pengadilan militer Australia. Kemudian pindah ke Jakarta yang saat itu kembali berada di bawah kendali Belanda untuk menghadapi tuntutan lain.

Bahkan, sempat muncul rencana agar Imamura mendapat hukuman mati sebagai bentuk pembalasan atas kekalahan Belanda pada 1942. Kabar mengenai rencana tersebut sampai kepada Presiden Soekarno. Berdasarkan berbagai catatan sejarah, Soekarno memandang Imamura sebagai perwira yang menjalankan tugas militernya secara profesional.

Ia bukan sosok yang melakukan kekejaman secara langsung terhadap rakyat Indonesia. Karena alasan itulah, Soekarno berusaha membantu menyelamatkan mantan panglima Jepang tersebut. Sejumlah orang kepercayaannya dikabarkan pernah menawarkan jalan pelarian kepada Imamura ketika berada di Penjara Cipinang.

Hanya saja, Imamura menolak, ia memilih tetap menjalani proses hukum karena merasa tidak bersalah atas tuduhan pihak Belanda. Sebagai perwira yang menjunjung tinggi kehormatan, ia memilih menghadapi pengadilan daripada melarikan diri. Imamura juga khawatir upaya diplomasi Soekarno memberi pengaruh terhadap jalannya proses hukum.

Baca Juga: Mengungkap Misteri 57 Ton Emas Soekarno di Bank Swiss

Akhir kisah, sekitar tahun 1949, pengadilan Jakarta akhirnya membebaskan Jenderal Hitoshi Imamura dari tuntutan hukuman mati. Setelah itu, ia pulang ke Jepang untuk menjalani hukuman yang sebelumnya telah dijatuhkan oleh pengadilan Australia. Jenderal Hitoshi Imamura kemudian bebas beberapa tahun kemudian. Ia sempat menjalani kehidupan sebagai warga biasa lalu wafat 4 Oktober 1968 saat berusia 82 tahun. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |