harapanrakyat.com,- Di tengah persoalan sampah plastik yang terus menjadi tantangan di berbagai daerah, dua pemuda asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, menghadirkan sebuah inovasi sederhana namun menjanjikan. Berbekal keprihatinan terhadap banyaknya sampah yang berserakan di lingkungan sekitar, mereka berhasil menyulap limbah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif. BBM alternatif tersebut memiliki karakteristik setara minyak tanah.
Baca Juga: Viral! Konsumen BBM Non Subsidi Asal Garut Kaget, Beli Dex Bayar Rp 1,4 Juta, Ternyata…
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Agung Sakti Gumilar (42) dan Ukas Budiman (42), warga Desa Cibatu, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut. Keduanya melakukan uji coba pengolahan sampah plastik menjadi energi alternatif, melalui proses pirolisis atau penyulingan sederhana.
Meski masih dalam skala kecil, hasil percobaan tersebut menunjukkan bahwa sampah plastik berpotensi memiliki nilai guna yang lebih tinggi. Hal ini jauh lebih bermanfaat dibanding sampah yang hanya berakhir di tempat pembuangan akhir.
Ide mengubah sampah plastik jadi BBM alternatif ini, lahir dari keresahan mereka saat melihat tumpukan sampah yang kerap ditemukan di berbagai sudut jalan. Kondisi tersebut mendorong keduanya untuk mencari cara, agar limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menariknya, bukan hanya bahan baku yang berasal dari sampah, tetapi hampir seluruh peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan juga memanfaatkan barang-barang bekas. Kaleng biskuit bekas digunakan sebagai wadah pemanasan. Selain itu, pipa kondensasi dibuat dari limbah antena. Sementara bahan bakar untuk proses pembakaran memanfaatkan sampah daun kering.
Baca Juga: BBM Bobibos Masuki Tahap Uji Kelayakan Ditjen Migas Sebelum Edar
Sampah Plastik yang Jadi BBM Alternatif Baru Bisa Dipakai untuk Kompor Minyak
Agung menjelaskan, proses pembuatan BBM alternatif dilakukan dengan memanaskan sampah plastik pada suhu sekitar 300 derajat Celsius di dalam kaleng bekas biskuit. Pada suhu tersebut, plastik akan mengalami proses pirolisis dan menghasilkan uap panas. Selanjutnya, uap kemudian dialirkan melalui pipa kondensasi untuk didinginkan hingga berubah menjadi cairan yang menyerupai bahan bakar minyak.
“Sampah dipanaskan pada kaleng bekas. Karena volume kaleng hanya mampu menampung 250 gram sampah plastik, maka hasilnya pun masih sedikit yaitu menghasilkan sekitar 30 mililiter BBM alternatif,” jelas Agung, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, praktik daur ulang sampah plastik menjadi BBM alternatif kali ini memang volumenya masih kecil. Namun jika diterapkan pada alat yang lebih besar, maka hasil daur ulangnya pun tentu akan banyak. Ia juga mengupamakan, jika kaleng bekas itu diubah dari bahan drum besar, maka hasil BBM alternatifnya pun tentu akan besar.
“Kalau pakai drum misalnya, tentu kapasitas pemanasan plastiknya akan besar. Sehingga, volume hasil BBM alternatifnya pun akan lebih banyak,” ujarnya.
Meski berhasil menghasilkan bahan bakar alternatif, Agung mengakui produk tersebut belum dapat digunakan untuk kendaraan bermotor. Masih diperlukan serangkaian pengujian lanjutan, termasuk pengukuran kualitas dan kadar oktan atau Research Octane Number (RON). Hal ini guna memastikan keamanan dan kelayakannya sebagai bahan bakar kendaraan.
“Belum bisa digunakan untuk kendaraan, karena perlu tahapan selanjutnya. Tapi untuk alternatif kompor minyak atau keperluan rumah tangga tentu bisa,” jelasnya.
Baca Juga: DLH Kota Banjar Apresiasi Inovasi BBM Limbah Plastik Kujangsari
Agung dan Ukas bukan kali pertamanya menciptakan terobosan untuk menangani sampah plastik. Sebelum mengubah sampah plastik menjadi BBM alternatif, mereka telah membuat alat pembakaran sampah yang ramah lingkungan. Sehingga, dengan alat tersebut tidak mengganggu, ketika polisi asap pembakaran membumbung tinggi dan menyebabkan bau tak sedap. (Pikpik/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

11 hours ago
13

















































