Bahan kimia PFAS merupakan kelompok senyawa sintetis yang kini menjadi perhatian global karena dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan. Senyawa kimia ini terkenal sangat persisten dan sulit terurai secara alami. Sejak pertama kali diproduksi pada era industri modern, PFAS terus digunakan luas di berbagai sektor.
Baca Juga: Proses Terjadinya Lengkap dengan Contoh Gaya London
Bahan Kimia PFAS dan Dampaknya terhadap Air Minum, Pangan, dan Tubuh Manusia
PFAS adalah singkatan dari per- and polyfluoroalkyl substances. PFAS memiliki rantai karbon terfluorinasi. Struktur ini membuatnya tahan panas, air, dan minyak. Karena sifat tersebut, PFAS sering mendapat julukan sebagai forever chemicals.
Kelompok PFAS mencakup lebih dari 10.000 jenis senyawa menurut OECD tahun 2018. Dua jenis yang paling banyak jadi objek penelitian adalah PFOA dan PFOS. Keduanya mulai dikembangkan secara massal sejak tahun 1940-an hingga 1950-an.
Pengertian dan Karakteristik PFAS
PFAS adalah zat buatan manusia yang tidak bisa kita temukan secara alami di alam. Ikatan karbon–fluorin pada senyawa ini termasuk yang paling kuat dalam kimia organik. Ikatan tersebut membuat PFAS hampir tidak dapat terurai secara biologis.
PFAS bersifat oleophobic dan hydrophobic. Artinya, senyawa ini mampu menolak minyak dan air secara bersamaan. Sifat ini menjadikannya sangat bernilai dalam industri manufaktur.
Menurut jurnal Environmental Science & Technology, waktu paruh PFAS di lingkungan bisa mencapai ribuan tahun. Hal ini menyebabkan akumulasi jangka panjang di tanah dan air. Akumulasi tersebut meningkatkan risiko paparan kronis pada manusia.
Sejarah Penggunaan dan Perkembangan Industri
Proses produksi bahan kimia PFAS secara komersial mulai pada dekade 1940-an. Industri kimia mengembangkannya untuk kebutuhan militer dan manufaktur. Salah satu produk awalnya adalah polytetrafluoroethylene atau PTFE.
PTFE kemudian terkenal secara luas sebagai bahan pelapis anti lengket pada peralatan masak. Selain itu, PFAS berguna dalam industri elektronik, otomotif, dan semikonduktor. Penggunaan masif ini rupanya telah berlangsung selama puluhan tahun.
Baca Juga: Contoh Zat Radioaktif dan Fungsinya, Uranium hingga Iodium
Pada tahun 2000-an, penelitian mulai menunjukkan risiko kesehatan PFAS. Organisasi seperti US EPA dan WHO mulai mengkaji dampaknya. Sejak 2009 hingga 2022, beberapa jenis PFAS masuk daftar Konvensi Stockholm.
Sumber PFAS dalam Kehidupan Sehari-hari
Bahan kimia PFAS banyak terdapat pada produk konsumen harian. Contohnya adalah peralatan masak anti lengket, kertas tahan minyak, dan tekstil tahan air. PFAS juga terdapat pada karpet dan pelapis furnitur.
Produk perawatan pribadi juga tidak luput dari PFAS. Studi tahun 2021 menemukan PFAS pada kosmetik dan benang gigi berlapis PTFE. Bahkan, beberapa produk pembersih rumah tangga mengandung senyawa ini.
Penelitian IPEN tahun 2023 mendeteksi PFAS pada kemasan makanan sekali pakai di 17 negara. Studi lain pada 2024 menemukan PFAS pada pakaian dari 13 negara. Data ini menunjukkan sebaran PFAS yang sangat luas.
Jalur Paparan dan Kontaminasi Lingkungan
PFAS dapat masuk ke tubuh manusia melalui berbagai jalur. Air minum yang terkontaminasi menjadi sumber utama paparan. CDC bahkan melaporkan sebagian besar populasi AS memiliki PFAS dalam darah.
PFAS juga terdapat pada ikan dari perairan tercemar. Tanah dan debu rumah tangga dapat menjadi media paparan tambahan. Anak-anak lebih rentan karena kebiasaan memasukkan benda ke mulut.
Di Asia Tenggara, kasus kontaminasi PFAS muncul di Thailand dan Indonesia. Literatur Brigden et al mencatat PFAS pada air limbah tekstil di Bandung. Mobilitas tinggi PFAS membuatnya mudah menyebar melalui air tanah.
Dampak PFAS terhadap Kesehatan Manusia
Banyak yang mengaitkan bahan kimia PFAS dengan berbagai gangguan kesehatan. Studi epidemiologi menunjukkan hubungan dengan peningkatan kolesterol darah. Penelitian juga mencatat gangguan sistem imun.
PFOS dan PFOA dikaitkan dengan kanker ginjal dan testis. Jurnal The Lancet melaporkan risiko penyakit tiroid akibat paparan jangka panjang. PFAS juga memengaruhi respons tubuh terhadap vaksin.
PFHxS rupanya berdampak pada sistem saraf dan hormon tiroid. UNEP 2018 menyebut PFAS dapat berpindah melalui plasenta dan ASI. Paparan pada janin berpotensi memengaruhi perkembangan.
Regulasi, Standar, dan Upaya Pengendalian
Peraturan tentang PFAS terdapat di berbagai kebijakan internasional. Konvensi Stockholm bahkan melarang atau membatasi PFOS sejak 2009. PFOA masuk daftar eliminasi global pada 2019.
Pada 2025, Departemen Layanan Kesehatan menetapkan pedoman air minum untuk 18 jenis PFAS. Batas PFOA dan PFOS berada di 4 ng/L atau bagian per triliun. Standar ini bertujuan untuk menilai risiko kesehatan masyarakat.
Upaya penanganan mencakup teknologi osmosis terbalik dan filtrasi membran. Metode thermal desorption juga sedang dikembangkan. Deteksi PFAS hanya dapat dilakukan melalui uji laboratorium.
Baca Juga: Memahami Konsep Pelepasan dan Penerimaan Elektron
Bahan kimia PFAS merupakan tantangan serius bagi kesehatan dan lingkungan global. Sifatnya yang persisten membuat pengendalian menjadi sangat kompleks. Emisi masa lalu masih berdampak hingga puluhan tahun ke depan. Penelitian terus berlanjut untuk memahami toksisitas ribuan jenis PFAS. Transisi ke alternatif yang lebih aman menjadi fokus utama kebijakan. Pembatasan seluruh kelompok PFAS terbilang lebih efektif. (R10/HR-Online)

1 hour ago
3

















































