Beberapa Permintaan DN Aidit Sebelum Dieksekusi Mati di Sumur Tua Jawa Tengah

20 hours ago 6

Ada beberapa permintaan DN Aidit sebelum dieksekusi mati yang menarik untuk jadi materi pembahasan lebih lanjut. Berdasarkan catatan sejarah, pemimpin Partai Komunis ini mengalami nasib tragis usai petugas melakukan penangkapan pada 22 November 1965 silam. DN Aidit sempat menjalani proses interogasi di markas tepatnya Brigade Infanteri 4 sebelum nasibnya berakhir di sumur tua wilayah Jawa Tengah.

Baca Juga: Penyebab Kematian DN Aidit, Eksekusi Mati di Balik Peristiwa G30S PKI

Permintaan DN Aidit Sebelum Dieksekusi oleh Algojo

Melihat dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia, nama DN Aidit tentu sudah tidak asing lagi. Namanya meroket tajam di masa Gerakan 30 September 1965 atau G 30 S PKI. Ia merupakan tokoh antagonis utama dalam peristiwa tersebut bersama tokoh lain bernama Untung.

Setelah terjadi peristiwa berdarah yang menewaskan sejumlah pahlawan revolusi nasional itu, Aidit langsung melarikan diri ke wilayah Jakarta. Ia lantas masuk dalam daftar pencarian utama pasukan militer pimpinan Soeharto. Sebelum akhirnya sukses mengambil alih kekuasaan Soekarno, Soeharto sukses menjalankan misi menumpas G30S PKI pimpinan DN Aidit.

Dari Jakarta, Aidit pergi ke Yogyakarta untuk bertemu tokoh PKI lainnya seperti Nyoto dan Sudisman. Di sana, DN Aidit dan kawan-kawan berencana memperkuat PKI di wilyah Jawa Tengah. Namun sayang, usahanya itu gagal total karena pasukan militer Soeharto pimpinan Yassir berhasil menangkapnya tepat pada 22 November 1965 di Solo. Kemudian, ia segera akan menjalani eksekusi mati sehingga Aidit mengajukan beberapa permintaan terakhir seperti berikut ini:

Meminta Kopi dan Rokok

Permintaan DN Aidit sebelum dieksekusi mati yang pertama adalah meminta kopi dan rokok. Singkat cerita, kala itu, Kolonel Yasir Hadibroto selaku Komandan Brigif 4 Infanteri sebagai kepercayaan Soeharto memerintahkan supaya Aidit menjalani eksekusi mati.  Kemudian, ia menugaskan Mayor Trisno mencari lokasi untuk proses eksekusi tersebut.

Semua lokasi sumur tua telah terpilih untuk menjadi tempat peristirahatan terakhir nyawa pimpinan utama PKI tersebut. Sebelum proses eksekusi mati berlangsung, DN Aidit sempat meminta sebuah kopi dan juga rokok. Bahkan, ketika proses interogasi, ia juga mengakui kesalahannya dan akan bertanggung jawab penuh atas tragedi berdarah G30S 1965.

“Boleh ya rokok ini buat saya bawa,” ucap Aidit. Kemudian seorang tentara yang bertugas menangkapnya menjawab “Bawa saja rokok itu. Nanti itu semua buat kamu merokok bersama Gatot Subroto”. Jawaban itu menyiratkan bahwa DN Aidit akan menyusul Gatot Subroto yang terlebih dahulu meninggal tahun 1962.

Meminta Bertemu Presiden Soekarno

Kemudian, permintaan DN Aidit sebelum dieksekusi mati yang kedua adalah meminta untuk bertemu Presiden Soekarno. Kala itu, Aidit meminta supaya ia bisa bertemu dengan Presiden Soekarno. Akan tetapi, permintaannya tersebut mengalami penolakan keras.

Baca Juga: Sejarah DN Aidit Sosok Besar Pimpinan PKI

Salah satu alasan penolakan tersebut karena Yasir khawatir Presiden Soekarno akan memutar balikan fakta nantinya. Rencananya, DN Aidit akan ke Semarang untuk proses pengadilan lebih lanjut. Di sana, Kolonel yasir menunjukkan sebuah sumur berumur tua milik Mayor Trisno selaku komandan di batalyon wilayah tersebut.

Menyampaikan Pidato untuk Terakhir Kali

Di tepi sumur tua itu, DN Aidit hanya memiliki waktu kira-kira setengah jam saja untuk menyampaikan pesan terakhir. Alih-alih takut atau menyampaikan pesan penyesalan, Aidit justru ingin berpidato berapi-api untuk mengkritik tajam Soeharto dan juga Nasution sebagai pengkhianat revolusi.

Menariknya, Aidit menyebutnya sebagai seorang Menteri Koordinator di Kabinet Dwikora. Sontak saja, aksinya ini sukses membuat algojo murka. Tak lama kemudian, beberapa peluru menembak tubuhnya hingga membuat Aidit roboh.

Jasadnya pun lalu masuk ke dalam sumur tua dengan timbunan batang pisang, kayu-kayu kering, serta tanah. Kemudian, jasad tokoh PKI ini habis terbakar oleh tindakan petugas guna menghilangkan jejak. Aidit adalah pemimpin terakhir tokoh PKI di awal 1960-an. Bahkan ia sukses memimpin PKI menjadi partai komunis terbesar nomor tiga setelah negara Uni Soviet dan Tiongkok. 

Meneriakan “Hidup PKI”

Sebelum nasibnya berakhir tragis, permintaan DN Aidit sebelum dieksekusi adalah berteriak “Hidup PKI”. Ia seolah sadar bahwa ajalnya semakin dekat. Lalu, meminta waktu untuk melakukan pidato. “Jangan terlalu tergesa-gesa ya, saya mau lakukan pidato dulu,” ucap Aidit.

Mengakhiri pidatonya, Aidit langsung berteriak keras “Hidup PKI!”. Seruan tersebut menjadi kata terakhir Aidit sebab peluru langsung menembus daging-dagingnya. Hal ini seolah menunjukkan begitu kuatnya idealisme Aidit terhadap Partai Komunis yang selama ini ia perjuangkan. 

Baca Juga: Cerita PKI Kalah Pemilu di Ciamis, Bikin DN Aidit Kesal

Demikian ulasan seputar beberapa permintaan DN Aidit sebelum dieksekusi mati oleh algojo. Kisahnya berhasil menjadi catatan kelam dalam sejarah bangsa Indonesia. Selain itu, permintaan DN Aidit sebelum dieksekusi mati ini sekaligus menjadi bukti kuat bahwa ia sangat bangga menanamkan paham Komunis di Tanah Air. Meskipun paham ini mengalami penolakan keras hingga membuat nyawanya berakhir tragis di sumur tua. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |