Begini Potret Pendidikan di Pelosok Garut, Ratusan Siswa Belajar di Tenda Darurat karena Bangunan Kelas Rusak

2 weeks ago 22

harapanrakyat.com,- Potret dunia pendidikan di pelosok Kabupaten Garut, Jawa Barat, terlihat memprihatinkan. Ratusan siswa terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di bawah tenda darurat, setelah bangunan sekolah mereka mengalami kerusakan parah akibat bencana pergerakan tanah. Meski harus menghadapi panas, kebisingan kendaraan, hingga kondisi tanah becek, aktivitas belajar tetap berlangsung demi memastikan siswa tidak tertinggal pelajaran.

Baca Juga: Empat Ribu Lebih Sekolah di Jabar Dapat Smartboard, Bisa Dukung Digitalisasi Pembelajaran

Sebanyak 105 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Hikmah yang berlokasi di Kampung Cipadung, Desa Bojong, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, kini harus rela mengikuti pembelajaran di tenda sederhana. Seluruh ruang kelas sekolah tersebut dinyatakan tidak layak digunakan, karena mengalami kerusakan serius dan berisiko roboh.

Keputusan pihak sekolah memindahkan proses belajar ke tenda darurat diambil, demi mengutamakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik. Kondisi bangunan kelas dinilai sudah tidak dapat ditoleransi, apabila tetap digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Perjuangan Berat Guru dan Siswa Belajar di Tenda Darurat

Sedangkan untuk tenda darurat yang digunakan berdiri di atas lapangan tanah di sekitar sekolah. Namun sayangnya kondisinya jauh dari kata layak.

Saat cuaca panas, suhu di dalam tenda terasa menyengat. Ketika hujan turun, lantai tanah berubah becek. Kebisingan kendaraan yang melintas di sekitar lokasi pun kerap mengganggu konsentrasi belajar siswa. Gambaran ini menunjukkan betapa berat perjuangan guru dan murid di daerah pelosok, untuk tetap memperoleh hak atas pendidikan yang layak.

Baca Juga: Sempat Kesulitan Cari Tempat Belajar Sementara, Inilah Sedikit Cerita SLB Negeri Cinta Asih Soreang

Pihak sekolah menegaskan, memaksakan kegiatan belajar di bangunan kelas yang rusak bukanlah pilihan. Selain membahayakan keselamatan, kekhawatiran akan terjadinya bangunan roboh sewaktu-waktu terus menghantui siswa maupun guru.

“Bangunan sudah rusak, tapi kan jika dipaksakan murid dan guru takut, tentu beresiko. Ya terpaksa belajar di tenda,”  kata Siti Saadah, salah seorang guru MI Darul Hikmah, Rabu (14/1/2026).

Ketidaknyamanan belajar di tenda darurat juga dirasakan langsung oleh para siswa. Belajar di bawah tenda dengan alas tanah membuat konsentrasi sulit terjaga. Terlebih, seluruh siswa dari jenjang PAUD hingga kelas enam harus belajar bersama dalam satu tenda yang sama.

“Ya tidak nyaman. Berisik kalau sering ada kendaraan yang lewat, becek, panas juga. Belum lagi semuanya siswa disatukan,” ungkap Adil salah seorang siswa.

Baca Juga: Lagi, Atap Bangunan Sekolah di Garut Ambruk Diterjang Cuaca Ekstrim

Kondisi ini menjadi cerminan lambannya penanganan rehabilitasi bangunan sekolah yang tidak layak oleh pemerintah. Berbagai jargon tentang pendidikan gratis dinilai belum cukup menjawab persoalan mendasar di lapangan, khususnya bagi warga di daerah terpencil seperti Kecamatan Banjarwangi. Hingga kini, siswa dan guru masih harus bertahan belajar di tenda darurat, sembari menyimpan harapan agar perbaikan sekolah segera direalisasikan. (Pikpik/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |