Dolar Hampir 17 Ribu, Purbaya Optimis Nilai Bisa Kembali Menguat

2 hours ago 3

Dolar hampir 17 ribu membuktikan Rupiah yang semakin melemah. Kini dolar AS semakin menguat dan berpotensi membuat ekonomi tidak stabil. Apalagi jika mengingat kondisi keuangan Indonesia yang sedang memanas.

Baca Juga: Memahami Penawaran Umum Obligasi Berikut Jenis-jenisnya

Harga dolar yang hampir mencapai Rp17.000 seharusnya sudah menjadi peringatan keras untuk memperbaiki tatanan ekonomi negara. Apabila Rupiah semakin jatuh, maksa bisa menyebabkan ketidakstabilan harga bahan pokok.

Dolar Hampir 17 Ribu, Ekonomi Indonesia Terancam

Nilai tukar Rupiah belakangan ini kembali tertekan ke level psikologis. Bahkan, nilainya kini sudah mendekati Rp17.000 per dolar AS.

Hal tersebut tentu saja memicu kekhawatiran pelaku pasar dan masyarakat luas. Banyak yang takut jika Rupiah akan terus melemah karena artinya akan sangat berdampak kepada ekonom lokal.

Mentari Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sendiri masih optimis jika nilai tukar rupiah akan kembali menguat. Kini nilai tukar Rupiah sudah di angka Rp16.955 per dolar AS pada penutupan perdagangan (19/1).

Pergerakan Rupiah

Saat dikonfirmasi langsung, Purbaya menyatakan bahwa pergerakan Rupiah akan sangat bergantung pada fundamental suatu negara. Dalam konteks Indonesia, kinerja ekonomi yang bergerak resilien ini banyak pihak meyakininya.

Hal tersebut salah satunya tampak pada bursa saham. IHSG alias Indeks Harga Saham Gabungan pada hari Senin sore tutup dengan mencetak level tertinggi baru atau All Time High (ATH) ke posisi 9.133,87.

Apabila indeks naik, maka akan ada aliran asing masuk juga. Dengan begitu, Purbaya menekankan bahwa hanya tinggal tunggu waktu saja agar Rupiah kembali menguat karena suplai dolar akan terus bertambah.

Baca Juga: Dasar Hukum E Money sebagai Landasan Transaksi Uang Elektronik di Indonesia

Nilai tukar Rupiah dalam penutupan perdagangan Jakarta, Senin bergerak melemah 0,40 persen atau 68 poin jadi Rp16.955 per satu dolar AS. Dolar hampir 17 ribu itu naik karena sebelumnya hanya Rp16.887 per dolar AS.

Penyebab Melemahnya Rupiah

Lantas, apa yang membuat pelemahan Rupiah semakin tajam? Menurut beberapa pakar, kemungkinan ini terjadi karena kabar Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono akan menempati posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk mengganti salah satu pejabat senior yang mengundurkan diri.

Isu sentral tersebut membuat pasar bereaksi negatif. Beredar spekulasi soal independensi Bank Indonesia sebagai otoritas moneter negara menyebabkan reaksi melemahnya Rupiah.

Sementara itu, Purbaya sudah menampik kabar ini. Menkeu tersebut menegaskan bahwa masuknya wakil menteri keuangan ke BI tak akan mempengaruhi independensi otoritas moneter.

Pengamat pasar mata uang dan aset digital Ibrahim Assuaibi menganggap pelemahan ini terjadi karena ancaman tarik dari Presiden AS Donald Trump sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa. Negara yang terkena tarik tersebut adalah penentang rencana Washington untuk mengakuisisi Greenland.

Baca Juga: Jenis Inflasi Ekonomi dan Dampaknya terhadap Stabilitas Perekonomian

Jadi, dolar hampir 17 ribu ini memang memberikan keresahan kepada masyarakat. Namun, Purbaya lagi-lagi meyakinkan bahwa dolar hampir 17 ribu tidak akan bertahan lama. Ia masih positif bahwa nilai Rupiah akan kembali naik. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |