harapanrakyat.com,- Wajah baru gerbang Kantor Wali Kota Cimahi, Jawa Barat kini tampil megah dengan dua gapura ikonik di sisi kanan dan kiri kawasan perkantoran. Namun, penataan tersebut justru menuai sorotan setelah ditemukan dugaan kekeliruan dalam penggunaan aksara Sunda baku pada relief yang terpasang.
Maestro Aksara Sunda, Yudistira Purana Sakyakirti, menilai pembangunan gapura tersebut sejatinya patut diapresiasi. Ia menyebut, konsep gerbang baru dapat menjadi simbol identitas Kota Cimahi jika dikerjakan dengan ketelitian budaya.
“Sebagai warga Cimahi, saya tentu mengapresiasi upaya penataan gerbang dan halaman kantor wali kota yang kini tampak lebih representatif,” ujar Yudistira, yang akrab disapa Mang Ujang Laip, Rabu (14/1/2026).
Baca Juga: Alasan Gaji Minim, Oknum Sekuriti Pemkot Cimahi Nekat Edarkan Ganja
Meski demikian, ia menyayangkan tidak adanya pelibatan ahli aksara Sunda dalam proses perancangan. Akibatnya, tulisan aksara Sunda baku yang dipasang justru mengandung kesalahan mendasar.
Menurut Mang Ujang Laip, kekeliruan tersebut kemungkinan muncul karena lemahnya koordinasi antara pihak pelaksana dengan tenaga yang memiliki kompetensi keaksaraan daerah.
“Ini terkesan dikerjakan dengan rasa percaya diri berlebihan, seolah sudah benar, padahal tidak pernah dikonsultasikan kepada ahlinya,” katanya.
Dua Persoalan Gapura Kantor Wali Kota Cimahi
Ia kemudian menyoroti dua persoalan utama. Pertama, tidak adanya keselarasan antara aksara Sunda yang terpasang di gapura kantor wali kota dengan papan penunjuk jalan di sejumlah ruas kota yang lebih dulu menggunakan aksara serupa.
“Perbedaan gaya penulisan yang mencolok ini bisa membingungkan masyarakat dan menimbulkan tanda tanya soal sejauh mana pemahaman pemerintah terhadap aksara daerah,” ujarnya.
Persoalan kedua dinilai lebih serius, karena berkaitan langsung dengan makna tulisan. Aksara Sunda baku yang dimaksudkan sebagai ‘Saluyu Ngawangun Jati Mandiri‘, justru tertulis berbeda dan berubah menjadi ‘Saluyu Gawagun Jati Mandiri‘.
“Kesalahan seperti ini bukan sekadar teknis, tetapi menyangkut arti dan pesan yang ingin disampaikan,” katanya.
Ia menilai kekeliruan tersebut berpotensi mencoreng citra Kota Cimahi, mengingat gapura tersebut berada di pintu utama pusat pemerintahan.
“Apalagi saat ini sudah banyak masyarakat Cimahi yang mampu membaca aksara Sunda baku. Kesalahan ini pasti terbaca,” ucapnya.
Mang Ujang Laip menduga, kesalahan penulisan tersebut terjadi karena perancang hanya mengandalkan aplikasi digital tanpa pemahaman mendalam tentang kaidah aksara Sunda.
“Banyak yang mengira cukup mengetik huruf latin lalu mengganti font, padahal aksara Sunda memiliki aturan sendiri yang tidak bisa disamakan dengan sistem latin,” tuturnya.
Dengan anggaran yang dimiliki pemerintah daerah, ia menilai kekeliruan semacam ini seharusnya dapat dicegah sejak awal.
Baca Juga: Tindaklanjuti Instruksi KDM, Pemkot Cimahi Publikasikan APBD 2026
“Seakan-akan Cimahi tidak memiliki sumber daya manusia yang paham aksara Sunda. Padahal, demi menjaga keaslian budaya, pemerintah mestinya melibatkan tenaga lokal yang kompeten,” pungkasnya. (Eri/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

2 weeks ago
22

















































