Jejak Emas Kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi, Harta Karun Peninggalan Sejarah yang Jadi Buruan 

1 week ago 25

harapanrakyat.com,- Bagi sebagian besar orang yang melintas di atas Jembatan Ampera, Sungai Musi mungkin hanya terlihat sebagai hamparan air cokelat yang keruh dan luas. Padahal, sejak laporan media Inggris mencuat lima tahun lalu, lumpur pekat di dasar sungai di wilayah Palembang Sumatera Selatan itu diketahui menyimpan jejak emas Kerajaan Sriwijaya tak terbayangkan.

Fenomena ini bukan isapan jempol belaka. Di dasar Sungai Musi, sejarah Kerajaan Sriwijaya tidak tertulis di atas batu prasasti. Sebaliknya, sejarah itu berserakan dalam bentuk butiran emas, permata, dan artefak kuno yang kini menjadi buruan para penyelam tradisional.

Bertaruh Nyawa Demi Mencari Jejak Emas Kerajaan Sriwijaya

Fenomena perburuan harta ini bukanlah ekspedisi arkeologi canggih menggunakan kapal selam robotik. Para pemburu harta ini adalah nelayan atau warga lokal yang menyelam dengan peralatan seadanya. Mereka hanya bermodalkan kompresor angin ban, selang taman panjang untuk bernapas, dan kacamata renang yang dimodifikasi.

Baca juga: Sejarah Benteng Kuto Besak Palembang, Simbol Kekuatan Kesultanan yang Tak Tertembus

Mereka menyelam ke kedalaman sungai yang gelap gulita, meraba-raba dasar yang berlumpur. Risikonya pun sangat tinggi, mulai dari terseret arus deras, tertimbun longsoran lumpur, hingga ancaman predator sungai. 

Namun, risiko itu sepadan dengan apa yang sering mereka temukan. Apa yang bagi orang awam terlihat seperti sampah logam, di mata mereka adalah tiket untuk mengubah nasib.

Permainan Cuki asal Palembang yang asal-usulnya peralatan permainannya ditemukan dari Sungai Musi dan diduga kuat peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Foto: Muhafid/HR

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, temuan para penyelam Musi seringkali membuat geleng kepala. Benda yang paling umum ditemukan adalah koin emas kecil, manik-manik kuno, dan pecahan keramik dari Dinasti Tang atau Song. Namun, ada kalanya sungai tersebut memuntahkan benda yang jauh lebih mencengangkan.

Salah satu temuan yang paling fenomenal dan sempat menjadi buah bibir di pasar barang antik internasional adalah penemuan Patung Buddha seukuran manusia yang dilaporkan bertahtakan permata. 

Baca juga: Asa Pelaku UMKM Festival Perahu Bidar 2025 Palembang di Tengah Perkembangan Teknologi 

Selain itu, sering ditemukan pula cincin emas upacara, stempel kerajaan, hingga lempengan emas bertuliskan mantra-mantra kuno. Benda-benda ini bukanlah sampah biasa. Ini adalah sisa-sisa kemewahan Sriwijaya yang dulunya dikenal sebagai Suvarnadvipa (Pulau Emas).

Temuan jejak emas Kerajaan Sriwijaya ini seringkali tidak berakhir di museum. Sebaliknya, artefak bersejarah tersebut langsung dijual cepat kepada kolektor asing atau penadah dengan harga yang jauh di bawah nilai sejarahnya. Semua ini hanya demi menyambung hidup sang penyelam.

Penyebab Harta Kerajaan Sriwijaya Terkubur di Sungai Musi

Berbeda dengan kerajaan di Jawa, seperti Majapahit atau Mataram, yang membangun istana batu di daratan, Sriwijaya dikenal sebagai Peradaban Air (Water Civilization).

Pusat kehidupan Sriwijaya berada di atas air. Rumah penduduk, pasar, hingga istana para bangsawan dibangun di atas rakit kayu raksasa atau rumah panggung di tepian sungai. Arkeolog maritim menduga bahwa selama berabad-abad, banyak harta benda yang jatuh ke sungai. Hal itu bisa terjadi karena kecelakaan kapal, kebakaran hebat yang menghanguskan rumah rakit, atau bahkan sengaja dilarung sebagai persembahan untuk dewa air.

Karena dasar Sungai Musi terdiri dari lumpur lunak yang kedap udara (anaerobik), benda-benda logam mulia dan keramik ini terjaga kondisinya dengan sangat baik selama lebih dari seribu tahun. Lumpur itulah yang mengawetkan emas Sriwijaya hingga akhirnya tersentuh tangan para penyelam masa kini.

Baca juga: Mengungkap Peradaban Megalitikum Pasemah Sumatera Selatan, Lebih Tua dari Sriwijaya?

Kisah perburuan harta di Sungai Musi seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, ini membuktikan betapa kayanya masa lalu Nusantara. Namun di sisi lain, ini adalah tragedi pelestarian sejarah. Sungai Musi sejatinya adalah museum berjalan yang isinya sedang dijarah secara perlahan karena desakan ekonomi.

Setiap kali seorang penyelam menemukan cincin emas Sriwijaya dan menjualnya ke pasar gelap demi beras, satu keping puzzle jejak sejarah bangsa ini hilang entah ke mana. Dasar Sungai Musi masih menyimpan miliaran misteri. Ia pun menunggu apakah akan diselamatkan oleh ilmu pengetahuan, atau habis dikeruk oleh kebutuhan perut. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |