Kios Digusur, UMKM di Purwadadi Ciamis Ini Terancam Gulung Tikar Padahal Siap Ekspor ke Swiss

1 day ago 8

harapanrakyat.com,- Setelah kios yang menjadi tempat produksi UMKM-nya di Pasar Panineungan, Desa Purwajaya, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat digusur, Lia Apriliati (37) harus menelan pil pahit. Usaha keripik bermerek Ermina yang ia bangun sejak 2022 terhenti, padahal pemasarannya sudah menembus pasar luar negeri.

Lia bersama suaminya merintis usaha olahan aneka keripik berbahan dasar pisang dan varian lainnya. Produk dikemas higienis di rumah produksi, lalu dipasarkan melalui media sosial.

Usaha itu berkembang pesat. Selain melayani pasar lokal, pesanan berdatangan dari Malaysia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Korea, hingga Inggris. Selama merintis usaha, Lia juga mendapat pendampingan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Ciamis.

“Alhamdulillah selalu dibimbing, mulai dari pembuatan NIB, PIRT sampai sertifikasi halal. Itu sangat membantu usaha saya berkembang dan bisa tembus luar negeri. Awalnya pelanggan dari Pekerja Migran Indonesia (PMI), lama-lama warga negara asing juga ikut pesan. Hampir setiap hari ada pesanan, terutama dari Taiwan,” ujar Lia, Jumat (28/11/2025).

Lia mengaku tak pernah menduga usahanya harus berhenti di saat peluang besar sudah di depan mata. Ia tengah menjalin komunikasi dengan rumah ekspor untuk pengiriman ke Swiss.

Namun di saat ia berada di Kroya menjenguk mertua sakit, ibunya memberi kabar bahwa kios yang digunakan sebagai tempat produksi akan digusur karena lahannya dialokasikan untuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

“Setiba di rumah, saya sudah mendapat surat dari desa. Kaget dan tidak menyangka,” ucapnya.

Baca Juga: Pembongkaran Kios Pasar Panineungan Ciamis Memanas, Pedagang Bantah Klaim Kades

Kios UMKM Keripik Ermina di Purwadadi Ciamis Digusur Tanpa Sosialisasi Memadai dan Ganti Rugi

Lia mengaku tidak mempermasalahkan rencana pembangunan itu, tetapi yang paling ia sesalkan adalah pemberitahuan mendadak tanpa sosialisasi memadai serta tidak adanya ganti rugi bangunan.

“Kalau diberi tahu tiga bulan sebelumnya, saya bisa cari tempat lain dulu. Ini waktunya mepet. Saat peluang ekspor datang, tempat produksi harus dikosongkan segera. Bagaimana saya bisa lanjutkan pesanan? Sedih, mau menangis, tapi percuma, karena tidak ada solusi,” katanya.

Kini Lia mengaku masih bingung dan belum menemukan cara untuk melanjutkan usaha yang pernah menjadi sumber harapan keluarganya.

Baca Juga: Nasib Pilu Pasangan Lansia di Purwadadi Ciamis setelah Kiosnya Digusur Pemdes, Terpaksa Tidur di Garasi Orang

“Saya belum bisa mikir mau lanjut di mana. Mamah juga menangis memikirkan usaha ini sudah tidak bisa jalan lagi. Mungkin nanti setelah semua selesai dan mamah tenang, saya kembali dulu ke suami di Kroya (Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah). Mungkin usaha dilanjut di sana saja. Kalau di sini saya sudah tidak ada peluang, semuanya sudah hancur,” tuturnya. (Suherman/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |