KOPRI Tasikmalaya Soroti Grooming dan Eksploitasi Anak di Platform Digital

17 hours ago 8

harapanrakyat.com,- Maraknya praktik grooming dan eksploitasi anak di platform digital memicu keprihatinan serius dari Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Fenomena ini mencuat menyusul dugaan kasus yang melibatkan seorang konten kreator di Tasikmalaya, yang ditengarai memanfaatkan popularitasnya di media sosial Instagram untuk melakukan manipulasi psikologis terhadap anak dan remaja.

KOPRI Tasikmalaya Soroti Bahaya Grooming dan Eksploitasi Anak

Ketua KOPRI Kabupaten Tasikmalaya, Neneng Siti Najiah mengatakan, grooming adalah teknik manipulasi sistematis yang pelaku lakukan untuk mendapatkan kepercayaan korban.

Baca Juga: PMII Kepung Gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Soroti Pinjaman Rp 230 Miliar

Proses ini biasanya dimulai dengan pendekatan yang tampak wajar. Seperti memberikan perhatian lebih, pujian, hingga pemberian hadiah.

“Tujuannya adalah membangun ikatan emosional agar anak merasa nyaman dan dihargai. Padahal ada niat berbahaya di baliknya,” katanya, Sabtu (24/1/2026).

Pihaknya menilai, manipulasi semacam ini sangat berisiko merusak kondisi mental serta masa depan generasi muda.

Anak Bukan Komoditas Konten Digital

Selain ancaman praktik grooming dan eksploitasi anak, KOPRI Tasikmalaya juga menyoroti tren konten kreator yang menjadikan anak sebagai objek demi meraih popularitas atau keuntungan materi.

Praktik ini dinilai melanggar hak-hak anak karena seringkali dilakukan tanpa persetujuan sadar dari sang anak. Paparan publik yang berlebihan di media sosial dapat membawa dampak jangka panjang terhadap stabilitas mental dan kehidupan sosial mereka.

Baca Juga: Tunjangan Pejabat Pimpinan Tinggi di Pemkab Tasikmalaya Diduga Ganda, Mahasiswa Melapor ke Kejaksaan

Neneng menegaskan bahwa ketika anak diekspos demi kepentingan konten, hal tersebut sudah tergolong sebagai bentuk eksploitasi. “Anak bukan komoditas konten,” tegasnya.

Lanjutnya menjelaskan, meningkatnya keberanian korban untuk bersuara (speak up) belakangan ini menjadi titik terang dalam memutus rantai kekerasan.

Salah satu pemicu kesadaran publik ini adalah viralnya buku Broken Strings, yang membuka diskusi luas mengenai dampak manipulasi psikologis.

Untuk mencegah meluasnya kasus serupa, KOPRI Kabupaten Tasikmalaya mendorong beberapa langkah strategis, di antaranya peningkatan literasi digital bagi masyarakat luas.

Kemudian, penguatan edukasi bagi orang tua agar lebih waspada terhadap aktivitas digital anak. Serta regulasi tegas dari pemerintah terkait perlindungan anak di ranah siber.

Baca Juga: Mahasiswa Demo di DPRD Kota Tasikmalaya Soroti Pelaksanaan Program MBG

Tuntutan Tindakan Tegas dari Aparat

KOPRI Tasikmalaya juga mendesak aparat penegak hukum serta pengelola platform media social, untuk bertindak proaktif terhadap konten yang berpotensi mengandung unsur grooming maupun eksploitasi.

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, KOPRI berkomitmen untuk terus menjalankan fungsi advokasi dan edukasi guna menciptakan ruang digital yang ramah anak, dan aman dari segala bentuk manipulasi psikologis. (Apip/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |