Sosok putri kerajaan Galuh yang paling terkenal di perjalanan sejarah masyarakat Sunda adalah Dyah Pitaloka Citraresmi. Ia adalah putri Maharaja Prabu Linggabuana yang kala itu memerintah Kerajaan Sunda-Galuh di era abad ke-14. Berikut ini adalah profil kisah mengenai sosok istimewa dari Kerajaan Galuh tersebut.
Baca Juga: Jejak Peninggalan Kerajaan Galuh, Prasasti Mandiwunga Ciamis
Putri Kerajaan Galuh Dyah Pitaloka Citraresmi dan Kisahnya
Dyah Pitaloka Citraresmi atau dikenal sebagai Citra Rashmi era tahun 1340-1357 merupakan sosok putri Kerajaan Sunda Galuh. Berdasarkan Pararaton, sosok wanita ini dijodohkan orangtuanya dengan Hayam Wuruk yang notabene adalah raja Kerajaan Majapahit. Raja ini sangat berhasrat untuk memiliki Dyah Pitaloka sebagai permaisurinya.
Tokoh Sentral dalam Perang Bubat di Majapahit
Sosok putri Kerajaan Galuh Dyah Pitaloka Citraresmi ini merupakan tokoh sentral dalam perang Bubat. Peristiwa berdarah ini merupakan kisah sejarah yang menjadi konflik Kerajaan Galuh Sunda dengan Majapahit. Seperti kita ketahui, perang Bubat terjadi akibat adanya kesalahpahaman Raja Galuh dengan Majapahit.
Selaku Raja Galuh, Maharaja Linggabuana mempunyai asumsi jika putrinya yang bernama Dyah Pitaloka akan segera menjadi seorang ratu. Tentunya seusai sang putri dipersunting Hayam Wuruk selaku Raja Majapahit. Sedangkan, Patih Majapahit atau Gajah Mada, berpendapat Dyah Pitaloka hanyalah sekedar persembahan Kerajaan Galuh untuk Majapahit atau sebatas selir.
Bunuh Diri Demi Kehormatan Kerajaan
Perbedaan pendapat inilah yang memicu pertumpahan darah antara dua kerajaan besar di tanah Jawa tersebut. Semua rombongan dari kerajaan Sunda habis terbunuh oleh pasukan Majapahit. Sedangkan, putri Kerajaan Galuh Dyah Pitaloka nekat melakukan bunuh diri. Ini ia lakukan sebagai pilihan menjaga kehormatan dirinya serta kerajaan.
Sikap sang putri Dyah Pitaloka yang memutuskan untuk mati ini banyak diapresiasi rakyat. Pasalnya, ia memilih mengakhiri hidupnya daripada harus menjadi persembahan atau sekedar selir. Keberanian putri ini menjadi salah satu kebanggaan dan wujud sikap ksatria dari Kerajaan Galuh Sunda ketika kala itu.
Baca Juga: Raja Tamperan Barmawijaya dan Kisah Tragis di Kerajaan Galuh
Kendati demikian, tindakan putri Kerajaan Galuh ini juga menuai kontra dari beberapa orang. Ada yang menyalahkan sikap Pitaloka karena dinilai terlalu antusias saat mendapat tawaran Hayam Wuruk untuk jadi istri. Dalam naskah “Carita Parahyangan” diceritakan putri Kerajaan Sunda ini mendapat julukan “tohaan” atau sosok yang bersalah.
Dalam cerita tersebut, Dyah Pitaloka tergambar memiliki ambisi besar menikah dengan Hayam Wuruk. Ini tertulis “menta gede pameulina”. Kemudian, kala itu berangkatlah semua rombongan kerajaan Sunda ke Majapahit. Namun naas, semua orang yang ikut dalam rombongan pernikahan tersebut berakhir tragis.
Sumber lain bahkan mengatakan sikap sang putri bertentangan dengan adat istiadat Sunda. Seharusnya, pihak dari keluarga laki-lakilah yang berkunjung ke kediaman perempuan. Bukanlah sebaliknya, perempuan yang justru harus mendatangi laki-laki. Kendati memang saat itu Kerajaan Majapahit dalam masa kejayaan. Kala itu, Kerajaan Majapahit dinilai sukses mendominasi pemerintahan di Nusantara.
Sosok Cantik Jelita yang Memikat Hayam Wuruk
Di sisi lain, sosok Dyah Pitaloka sendiri merupakan wanita cantik jelita. Sedangkan, awal mula perkenalan dengan Hayam Wuruk yakni karena sang raja kala itu tengah mencari permaisuri. Hayam Wuruk lantas menyebarkan informasi untuk mencari putri yang layak jadi permaisurinya. Kala itu, tentu saja rakyat belum mengenal adanya foto. Dengan begitu, untuk menggambarkan seseorang muncullah utusan juru lukis.
Namun, usai para utusan tersebut kembali, tak ada lukisan yang memikat hati sang raja. Lalu, Hayam Wuruk mendengar berita jika putri Kerajaan Galuh sangat cantik jelita. Oleh sebab itu, ia lalu mengirim juru gambar ke Kerajaan di tanah Sunda tersebut.
Menjadi Pilihan Hayam Wuruk untuk Jadi Permaisuri
Kemudian, sejarah menyebutkan kala itu Dyah Pitaloka sukses menjadi pilihan Hayam Wuruk dengan proses pelukisan sembunyi-sembunyi. Hayam Wuruk langsung kepincut akan kecantikan sang putri. Ia pun semakin berhasrat kuat untuk segera menjadikan Pitaloka sebagai istrinya.
Baca Juga: Prasasti VI di Astana Gede Kawali Ciamis, Penekanan Larangan Berjudi Zaman Kerajaan Galuh
Terakhir, Hayam Wuruk langsung mengirim seorang utusan untuk mempersunting putri Kerajaan Galuh tersebut. Sementara itu, Raja Sunda Linggabuana selaku sang ayah sangat senang putrinya mendapat lamaran dari raja terkenal. Lalu, ia dan pasukan bergegas mengantarkan sang putri tercinta dari Kerajaan Galuh ke Majapahit. Namun, ketika rombongan sampai di Bubat Majapahit, Gajah Mada beserta pasukannya justru menghabisi nyawa mereka semua. (R10/HR-Online)

5 days ago
17

















































