Berbicara mengenai sejarah Wayang Klithik sangat erat kaitannya dengan kesenian tradisional khas Jawa, terutama di area Tengah dan Timur. Ini adalah salah satu seni pertunjukan wayang dengan memanfaatkan boneka berbentuk pipih dari bahan kayu tipis untuk dijadikan tokoh utama. Sedangkan, nama Klithik sendiri berasal dari suara yang dihasilkan saat wayang beraksi yakni klithik-klithik akibat adanya benturan kayu.
Baca Juga: Animasi Desa Timun, Kebangkitan Wayang Kulit di Kancah Global
Wayang ini pertama tercipta oleh Pangeran Pekik dan adipati Surabaya. Bahannya menggunakan kulit dan ukurannya kecil sehingga sering disebut wayang krucil. Adapun munculnya Wayang Menak Kayu sukses membuat Sunan Pakubuwana II menciptakan Wayang Klithik kayu pipih dengan dua dimensi.
Sejarah Wayang Klithik dan Pemanfaatannya
Kesenian yang masih eksis tersebut berkembang di Jawa Timur dan Tengah. Wayang ini kerap dimanfaatkan dalam rangka pementasan kisah sejarah. Sebut saja seperti Panji dan Damarwulan, lalu Menak. Berbeda dari wayang kulit pada umumnya yang fokus bercerita pada Mahabharata maupun Ramayana. Wayang Klithik sendiri lebih menekankan kisah pahlawan bersumber dari sejarah Nusantara.
Sementara itu, kesenian Wayang Klithik makin menarik karena mendapat iringan gamelan dan dimainkan dalang berpengalaman. Dalang ini sukses menghidupkan karakter wayang dengan suara serta gerakan khas. Kendati popularitas seni tradisional ini tidak sepopuler wayang kulit, namun sejarah Wayang Klithik tetap menarik atensi sejarawan dan budayawan nasional, terutama mengenai pewayangan Nusantara.
Bahkan, keberadaan wayang ini sendiri tidak hanya menjadi hiburan saja, namun juga sebagai media pendidikan serta penyampaian nilai-nilai moral sekaligus pelestarian seni lokal. Dengan bentuk unik dan cerita berbeda dari wayang kulit lainnya, Wayang Klithik kini menjelma sebagai warisan budaya nasional yang patut terjaga kelestariannya.
Asal-Usul Wayang Klithik
Banyak yang meyakini jika asal-usul sejarah Wayang Klithik muncul di era Kerajaan Majapahit, tepatnya pada abad ke-14 ke-15. Kala itu, wayang tersebut menjadi alternatif pilihan wayang kulit. Akan tetapi, bahan utamanya berbeda yakni dari kayu tipis. Sedangkan Klithik sendiri perkiraannya merupakan adaptasi Wayang Beber dan Kulit yang terlebih dahulu mengalami perkembangan pesat di Jawa.
Salah satu alasannya karena tidak semua rakyat mampu mempunyai wayang kulit dari kulit sapi maupun kerbau. Mengingat harganya yang mahal sehingga muncullah inovasi terbaru wayang berbahan kayu tipis terjangkau serta pembuatannya sangat mudah. Untuk asal-usul namanya sendiri berasal dari bunyi ketika wayang tersebut dipukul maupun saat bergerak.
Baca Juga: Sejarah Wayang Madya, Kesenian Unik Indonesia dan Karakternya
Awal mula Wayang Klithik dipakai untuk menyebarluaskan ajaran moral dan pendidikan hingga nilai-nilai pahlawan. Namun seiring berjalannya waktu, wayang tersebut sukses menjadi bagian krusial dalam tradisi kesenian tradisional Jawa. Untuk kisahnya memuat seputar tokoh seperti Panji dan kerajaan masa Kediri Jenggala.
Memasuki Era Penjajahan
Memasuki di era kolonial, sejarah Wayang Klithik masih tetap bertahan. Padahal kesenian ini tidak begitu populer seperti halnya Wayang Kulit. Bahkan sempat mengalami penurunan performa. Kendati demikian, saat ini wayang tersebut masih eksis di sejumlah pementasan kesenian tradisional, khususnya di Jawa Timur.
Sementara itu, pembuatan Wayang Klithik menggunakan kayu tipis hasil pahatan serta melalui proses pengecatan. Hasil akhirnya sangat menarik berbentuk tokoh wayang pipih. Tampilannya menyerupai Wayang Kulit, namun tidak tampak transparan. Proses produksinya membutuhkan keahlian khusus supaya setiap karakter wayang mempunyai detail indah dan juga ekspresif.
Karena menggunakan material kayu, maka ukiran Wayang Klithik jauh lebih mendetail jika kita membandingkannya dengan jenis kulit. Di sisi lain, pewarnaan produk lebih hidup. Bahkan, tidak sekedar bergantung pada siluet seperti halnya pada jenis Wayang Kulit.
Warisan Budaya Tak Ternilai
Wayang Klithik menjadi salah satu seni wayang yang keberadaannya masih eksis berdiri. Upaya pelestarian kesenian tersebut masih giat. Terutama lewat berbagai acara festival budaya dan pertunjukan pendidikan, hingga museum wayang.
Para dalang muda juga terus mendapat dorongan untuk giat mempelajari serta mengembangkan kesenian Wayang Klithik. Tujuan utamanya agar warisan budaya tak ternilai ini tetap ada hingga generasi mendatang. Wayang Klithik sendiri berperan penting dalam kemajuan budaya Jawa. Terutama untuk sarana pendidikan, hiburan masyarakat, pelestarian sejarah, dan juga media ritual dakwah Islam.
Baca Juga: Sejarah Wayang Wong Asal Cirebon yang Digandrungi Menak di Tasikmalaya
Demikian ulasan seputar sejarah Wayang Klithik yang perlu kita ketahui. Kendati semakin jarang beraksi di pementasan, namun upaya pelestarian wayang ini terus ada. Hal ini bertujuan agar tidak punah dan menjadi bagian kekayaan budaya Nusantara. Sejarah Wayang Klithik juga memiliki keunikan lain dengan dukungan kayu tipis, pipih, serta bunyi khas klithik-klithik. Bahkan cerita dalamnya lebih fokus memuat sejarah dan legenda lokal agar tetap dikenal generasi muda. (R10/HR-Online)

2 weeks ago
37

















































