Mengenal Situs Pasir Angin Bogor, Panggung Sejarah dari Megalitikum hingga Perang Dunia II

1 week ago 36

harapanrakyat.com,- Museum Situs Pasir Angin yang berada di Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang, Bogor, Jawa Barat menyimpan rahasia sejarah Indonesia yang luar biasa. Pasalnya, di situs tersebut menyimpan jejak peradaban leluhur Nusantara.

Sebagai informasi, museum ini tidak seperti museum konvensional yang hanya memajang benda-benda bersejarah dalam etalase. Namun, museum ini berdiri tepat di atas situs arkeologi asli, lokasi peradaban manusia pernah hidup dan berkembang selama ribuan tahun. 

Fakta-fakta Situs Pasir Angin Bogor 

Banyak orang mengira situs prasejarah hanya mewakili satu zaman yang beku. Namun situs ini membantah anggapan tersebut. Walaupun sering dikaitkan dengan masa perundagian atau zaman logam awal (sekitar 600-200 SM), kebenarannya jauh lebih kompleks. 

Baca juga: Mengenal Sejarah Goa Pawon Bandung Barat Sebagai Warisan Situs Purbakala

Bahkan, para arkeolog mengirim sampel arang ke Australian National University (ANU) untuk analisis penanggalan karbon-14. Hasilnya menunjukkan aktivitas manusia di situs ini berlangsung dalam rentang waktu sekitar 1000 SM hingga 1000 M.

Artinya, bukit ini menjadi saksi peradaban selama 2.000 tahun tanpa terputus. Durasi yang sangat panjang ini membuat situs ini begitu penting. Apalagi karena menyimpan bukti dari tiga era sekaligus, prasejarah, proto-sejarah, dan masa sejarah. 

Kemudian, salah satu temuan paling menakjubkan dan ikonik dari situs budaya ini adalah sebuah topeng yang terbuat dari emas. Menurut kepercayaan masyarakat pada masanya, topeng ini diperuntukkan bagi individu yang telah meninggal dunia sebagai bagian dari ritual pemakaman.

Kelangkaan topeng emas ini membuatnya istimewa. Arkeolog hanya menemukan dua topeng emas sejenis di Indonesia, satu di Pasir Angin dan satu lagi di Goan, Sulawesi Selatan. Sedangkan keberadaan topeng tersebut saat ini berada di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Cibinong dengan tujuan keamanan dan kepentingan penelitian. Meski begitu, pengunjung masih bisa menyaksikan foto serta penjelasan singkat tentang artefak tak ternilai tersebut.

Penemuan Artefak Perunggu

Selain itu, penemuan berbagai artefak perunggu, seperti kapak corong dan tongkat, juga mengukuhkan bahwa situs ini berasal dari masa perundagian. Namun, yang benar-benar mencengangkan adalah tingkat kecanggihan teknologi metalurgi yang mereka kuasai. Masyarakat kuno Pasir Angin tidak sekadar melebur logam, mereka juga ahli metalurgi yang cerdas.

Baca juga: Mengenal Berbagai Kesenian Khas Suku Baduy di Banten

Masyarakat kuno Pasir Angin mampu menciptakan perunggu yang lebih kuat dengan mencampurkan tembaga bersama timah atau arsenikum. Analisis pada artefak perunggu dari situs ini menemukan kandungan timbel (timah hitam) yang berlebih. 

Para ahli meyakini, kelebihan timbel ini bukan sebuah kesalahan, melainkan teknik canggih. Timbel berlebih membuat perunggu cair mengalir lebih mudah ke cetakan yang rumit dan menghasilkan produk akhir yang berkilau cemerlang. 

Arca-arca batu berukuran besar yang menyambut pengunjung di area museum ternyata juga memiliki kisah dramatis. Arca-arca ini berasal dari lokasi lain, yaitu Gunung Kapur Ciampea, dan baru dipindahkan ke Pasir Angin pada tahun 1984. 

Para penyelamat budaya memindahkan arca-arca tersebut karena alasan mendesak, yakni harus diselamatkan. Aktivitas penambangan kapur menggunakan dinamit menghancurkan situs aslinya, Gunung Kapur Ciampea, mengancam melenyapkan arca-arca ini selamanya.

Baca juga: Menelusuri Jejak Peradaban Purba di Situs Tugu Gede Cisolok Sukabumi

Sementara di luar bangunan museum, berdiri sebuah monolit batu besar (menhir) yang menjadi pusat kegiatan spiritual masyarakat megalitikum. Hasil ekskavasi menemukan bahwa hampir semua artefak di sekitarnya sengaja diletakkan membujur dari barat ke timur. Para ahli meyakini orientasi ini simbolis menghadap matahari terbit (timur) sebagai lambang kehidupan, dan matahari terbenam (barat) sebagai lambang kematian.

Ribuan tahun kemudian, di bukit yang sama juga memainkan peran berbeda dalam panggung sejarah dunia. Di kawasan ini, pengunjung juga menemukan sebuah Tugu Jepang. Selama Perang Dunia II, lokasi Situs Pasir Angin Bogor ini juga dijadikan pos pengawasan militer Jepang untuk memantau pergerakan tentara Sekutu. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |