Mengetahui Sejarah Yahudi di Indonesia Beserta Perkembangannya

2 weeks ago 26

Sejarah Yahudi di Indonesia bermula sejak abad sekitar ke-7 yang dibawa pedagang dan juga penjelajah dari negara Eropa. Lalu, keberadaannya berkembang pesat pada masa era penjajahan dengan komunitas di wilayah Batavia atau Jakarta. Selain itu, ada juga komunitasnya di wilayah Surabaya serta Sulawesi.

Baca Juga: Sejarah Perang Khaibar, Penaklukan Kaum Yahudi

Akan tetapi, jumlahnya mulai mengalami penyusutan signifikan setelah terjadi Perang Dunia II. Hal ini dikarenakan proses migrasi dan nasionalisasi. Dengan demikian, menyisakan komunitas dalam lingkup kecil. Namun, kini masih aktif meskipun Yahudi sendiri tidak mendapat pengakuan resmi sebagai agama.

Sejarah Yahudi di Indonesia dan Awal Mula Kedatangannya

Sejarah orang Yahudi di negara Indonesia diprediksi bermula dari kedatangan penjelajah kaum Yahudi pada era 500-an sebelum Masehi hingga tahun 1950-an. Ini mereka lakukan lewat Jalur Sutra Maritim. Setelah itu, berlanjut menjadi penduduk di Indonesia dengan status sebagai pemukim dan penjelajah.

Keberadaan mereka terus ada hingga ke masa modern di wilayah Nusantara. Pada masa penjajahan Belanda, jumlah kaum orang-orang Yahudi di Tanah Air mencapai total sekitar 2.000 orang. Mereka datang dari berbagai negara. Misalnya seperti Belanda, Jerman, Perancis, Inggris dan Spanyol. Ada juga yang datang dari Portugal, Turki, Iran, dan lainnya termasuk India dan Cina.

Mayoritas orang Yahudi tersebut berprofesi sebagai para pedagang, pegawai negeri sipil, pengacara, guru, dan juga dokter. Bahkan, beberapa orang berprofesi sebagai pengusaha, wartawan, dan lainnya. Kaum Yahudi dari berbagai profesi tersebut terlibat dalam sebuah gerakan Zionis. Ini adalah gerakan dari nasionalis Yahudi yang bertujuan untuk membangun negara Yahudi di wilayah Palestina.

Masa Penjajahan Jepang

Sejarah Yahudi di Indonesia pada masa penjajahan Jepang tahun 1942-1945, mayoritas orang-orang dari kaum ini mengalami tindak diskriminasi serta penganiayaan. Mereka bahkan harus menggunakan tanda tertentu. Tanda ini berupa bintang Daud berwarna kuning di busana mereka.

Selain itu, mayoritas juga mengalami pembatasan dalam aspek pekerjaan. Bahkan hingga pendidikan dan juga hak-hak warga sipil serta pergerakan komunitas. Beberapa dari kaum Yahudi juga mengalami penangkapan dari pihak berwajib lalu dikirim ke pusat interniran.

Perlakuan ini merupakan imbas atau konsekuensi dari aliansi Jepang dengan Jerman Nazi pada era Perang Dunia ke II. Hal ini otomatis membawa pengaruh buruk berupa sentimen anti-Semit ke wilayah penjajahan Jepang termasuk di Indonesia. Untuk menghindari proses penangkapan, banyak kaum Yahudi yang terpaksa melarikan diri ke area luar negeri.

Baca Juga: Sejarah Konflik Israel-Palestina dan Hubungan Diplomatik dengan Indonesia

Ada juga yang menyembunyikan identitas agamanya dan berpindah keyakinan. Pada intinya, komunitas kaum orang-orang Yahudi yang semula hidup relatif nyaman di masa penjajahan Belanda, harus menghadapi masa sulit dan opresif di era pendudukan Jepang. Hal ini menandakan kekuasaan Jepang membawa ketakutan sendiri bagi kaum Yahudi di masa itu.

Masa Setelah Merdeka 1945

Sejarah Yahudi di Indonesia berlanjut setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Mayoritas besar orang-orang Yahudi memilih pergi dari Nusantara. Mereka meninggalkan Indonesia lalu bermigrasi ke negara lainnya. Misalnya ke negara lain seperti Israel dan Amerika Serikat.

Ada juga kaum Yahudi yang pergi ke Australia, Kanada hingga Belanda. Hal ini karena penyebab adanya sentimen anti kaum Yahudi. Ini sangat erat kaitannya dengan konflik perang Israel dan Palestina. Lalu, penyebab lainnya yakni kurangnya pengakuan agama tersebut oleh pemerintah di Negara Indonesia.

Saat ini, orang-orang Yahudi di Nusantara membentuk sebuah komunitas kecil sekitar 100 hingga 550 orang. Mayoritas anggota terbesarnya adalah orang Yahudi Sephardi. Ini berasal dari wilayah Semenanjung Iberia. Kemudian, ada juga Yahudi Mizrahi dari Timur Tengah.

Keberadaan mereka kini tersebar di kota besar Indonesia. Contohnya Jakarta, Manado, Bandung, Surabaya, dan Medan. Selain itu, kaum Yahudi juga ada di wilayah Padang, Yogyakarta, Semarang, hingga ke Bali. Mereka memiliki latar belakang budaya Jawa, Indo-Eropa, Arab, Tionghoa, dan masih banyak lagi lainnya.

Belum Mendapat Pengakuan Negara

Agama Yahudi tidak diakui secara resmi sebagai salah satu enam agama utama di Indonesia. Keenam agama ini adalah Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Akan tetapi praktiknya tetap diperbolehkan dan mendapatkan perlindungan konstitusi. Hal ini berdasarkan UU Nomor 1 PNPS Tahun 1965 dan UUD 1945.

Dalam praktiknya sendiri para penganutnya seringkali tidak memperoleh fasilitas negara setara dan sebagian. Bahkan sebagian memilih mengaku sebagai agama lain. Tujuannya untuk menghindari diskriminasi dan memudahkan urusan administrasi KTP. Misalnya warga Yahudi mencantumkan agama “Kristen Protestan” atau lain di KTP mereka demi keamanan. 

Baca Juga: Tahukah Kamu, Mengapa Hari Minggu Ditetapkan Sebagai Hari Libur? Begini Sejarahnya

Demikian ulasan seputar sejarah Yahudi di Indonesia yang perlu diketahui. Tantangan dalam sejarah perkembangan Yahudi di Indonesia sendiri kini adanya desakan supaya hak sipil dan agama minoritas diakui sepenuhnya. Pemerintah pun memang tidak melarang praktik Yahudi. Namun hingga saat ini belum ada kebijakan menambahkannya ke daftar agama secara administratif formal. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |