Peringati Hari Braille Sedunia, Ratusan Tunanetra di Tasikmalaya Membaca hingga Tulis Harapan

2 hours ago 4

harapanrakyat.com,- Ratusan penyandang disabilitas netra memadati salah satu restoran cepat saji di Jalan Ir. Juanda, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026). Kehadiran mereka bersama para pendamping dalam rangka memperingati Hari Braille Sedunia.

Sebanyak 104 siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) dari Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis turut serta dalam kegiatan membaca dan menulis Braille.

Acara peringatan Hari Braille Sedunia ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk merajut harapan.

Baca Juga: Sempat Kesulitan Cari Tempat Belajar Sementara, Inilah Sedikit Cerita SLB Negeri Cinta Asih Soreang

Pantauan di lokasi, puluhan pendamping dengan sabar menuntun peserta menaiki tangga menuju lantai dua area kegiatan. Suasana haru sekaligus inspiratif menyelimuti ruangan saat jemari para peserta mulai meraba titik-titik timbul di atas kertas, menyusun huruf demi huruf yang menceritakan mimpi dan cita-cita mereka.

Papeditas Peringati Hari Braille Sedunia di Tasikmalaya

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Paguyuban Disabilitas Tasikmalaya (Papeditas). Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya literasi Braille sebagai “jendela dunia” bagi tunanetra.

Ketua Papeditas, Tata Tajudin menegaskan, huruf Braille merupakan bagian dari hak asasi manusia. Terutama dalam mengakses pendidikan, informasi, dan komunikasi.

“Braille adalah jembatan pengetahuan bagi teman-teman tunanetra. Tanpa ini, akses mereka terhadap informasi akan sangat terbatas,” ungkapnya.

Baca Juga: Rayakan Hari Disabilitas Internasional, SLB Aisyiyah Singaparna Tasikmalaya Ajak Siswa Ikuti Outbound

Terkait pemilihan lokasi di tempat umum, Tata menjelaskan hal tersebut dilakukan secara sengaja. Pihaknya ingin mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama di ruang publik.

“Kami ingin menunjukkan kalau mereka pun punya hak untuk hadir, berkegiatan, dan berekspresi di mana saja. Termasuk di ruang publik seperti ini,” tambahnya.

Literasi Braille Simbol Kemandirian

Nabila, salah seorang guru dari SLBN Bungursari yang turut mendampingi, menegaskan bahwa literasi Braille adalah simbol kemandirian.

“Braille bukan hanya titik-titik timbul, tetapi simbol perjuangan, kemandirian, dan martabat penyandang tunanetra,” tegas Nabila.

Nabila berharap pemerintah dan elemen masyarakat semakin peduli terhadap aksesibilitas dan inklusi sosial. Dengan dukungan yang luas, penyandang disabilitas diharapkan dapat lebih berdaya dan mendapatkan ruang yang adil dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga: Lutpi, Pemuda Tunanetra Asal Tasikmalaya Tembus UNESA Lewat Jalur SNBT tapi Terkendala Biaya

Kegiatan ini pun menarik perhatian pengunjung restoran lainnya. Banyak dari mereka yang berhenti sejenak untuk melihat proses menulis Braille. Bahkan berdiskusi mengenai pentingnya fasilitas ramah disabilitas di fasilitas umum.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra, tampak hadir dan membaur langsung dengan para peserta.

Kehadirannya memberikan motivasi tambahan bagi anak-anak SLB yang sedang menuliskan cerita pendek tentang kota kelahiran mereka, Tasikmalaya dan Ciamis. (Apip/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |