Perjalanan Bumi Ageung Cikidang Sebelum Jadi Cagar Budaya di Cianjur

1 day ago 12

Bumi Ageung Cikidang adalah salah satu peninggalan bersejarah yang terletak di Cianjur. Lebih tepatnya berada di Jl Mochamad Ali, Kelurahan Solokpandan, Cianjur, Jawa Barat. Dahulu, bangunan ini merupakan rumah besar milik Bupati Cianjur ke-10, yakni Raden Adipati Aria Prawiradiredja II.

Baca Juga: Asal Usul Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma Yogyakarta

Bumi Ageung Cianjur lebih dari sekedar hunian. Sebab, tempat ini ibarat istana kecil yang menjadi lokasi persinggahan dari para tokoh besar di dunia. Penasaran bagaimana kisahnya sebelum jadi cagar budaya? Berikut informasi selengkapnya. 

Napak Tilas Bumi Ageung Cikidang Sebelum Jadi Cagar Budaya

Sebagai informasi, Bumi Ageung memiliki arti penting, yakni rumah besar yang berada di kawasan Cikidang. Rumah ini milik bupati Cianjur ke 10 yang menjabat pada tahun 1862-1910. Sementara itu, pembangunan gedung berlangsung sejak tahun 1886.

Dahulu, Bumi Ageung berguna sebagai tempat peristirahatan. Kemudian, bangunan Bumi Ageung diwariskan kepada Raden Ayu Tjitjih Wiarsih pada tahun 1910. Ia adalah putri dari Raden Adipati Aria Prawiradiredja II.

Sejarah Bumi Ageung Sebelum Indonesia Merdeka

Dalam sejarahnya, Bumi Ageung adalah bangunan penting yang memiliki peran vital pada masa kemerdekaan Indonesia. Sebab, rumah mewah pada zamannya ini sering berguna sebagai tempat untuk merumuskan pembentukan tentara PETA. Dahulu, Gatot Mangkoepradja adalah sosok yang memimpin rapat tersebut sekitar tahun 1943-1945.

Ada banyak tokoh yang pernah singgah di Bumi Ageung Cikidang Cianjur. Selain Gatot Mangkoepradja sebagai pendiri tentara PETA, ada juga Pangkostrad tahun 67. Hal ini tersampaikan langsung oleh Rachmat Fajar, salah satu keturunannya Raden Adipati Aria Prawiradiredja II.

“Banyak (tokoh yang sempat singgah di hunian ini), ada Gatot Mangkoepradja, pencetus tentara PETA. Kemudian Pangkostrad Tahun 67, saya lupa namanya. Itu juga pernah kesini,” jelas Rachmat Fajar. 

Lebih lanjut, Bumi Ageung Cikidang juga sempat menjadi saksi penting atas penyerahan kekuasaan yang berlangsung dari pemerintah Belanda dan tentara nasional. Selain itu, bangunan juga pernah menjadi tempat perlindungan manula, perempuan dan anak-anak keturunan. Tragedi ini terjadi ketika muncul kerusuhan etnis di wilayah Cianjur sekitar tahun 1962-1963.

Bangunan Pernah Direnovasi

Sebenarnya, Bumi Ageung belum pernah direnovasi sejak pembangunanya pada akhir abad ke-19. Namun, akhirnya bangunan perlu direnovasi sebab rumah yang hancur pada akhir tahun 1940-an. Kerusakan yang terjadi merupakan akibat dari sasaran bom pasukan Jepang dan Belanda. 

Baca Juga: Situs Bungker Waluran dan Sejarah Perang Sukabumi

“Sempat renovasi, sebab pada waktu tahun 46-48an ada pengungsian besar-besaran keluarga besarnya kami dari Bumi Agung ini menuju Kuningan serta ke Cianjur Selatan, karena target sasaran bom rumah ini,” jelas Rachmat Fajar.

Bumi Ageung Cianjur Jadi Cagar Budaya

Meskipun belum resmi menjadi museum, bangunan Bumi Ageung Cianjur sudah berfungsi sebagai Cagar Budaya Nasional. Hal ini berlaku sejak tahun 2010 lalu. Pemimpin peresmian ini ialah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata setempat. 

Sebenarnya, ada banyak pihak yang menginginkan Bumi Ageung Cikidang Cianjur menjadi gedung museum. Hanya saja, banyak persyaratan yang harus dipenuhi agar bangunan bisa disebut sebagai museum. Belum lagi, mesum tentu membutuhkan SDM, jadwal, serta bimbingan di bawah yayasan maupun pendanaan dari pemerintah. 

Prosesnya yang begitu rumit memutuskan pihak pengelola untuk menjadikan Bumi Ageung Cianjur sebagai cagar budaya. Terlebih hal ini sudah diputuskan oleh menteri pariwisata tahun 2008. Saat itu, pimpinan yang bertugas untuk meresmikan bangunan adalah bapak Djatikusumo.

Warisan Benda Bersejarah

Bumi Ageung Cianjur menyimpan berbagai benda penting. Bahkan, benda-benda di dalamnya sudah berumur ratusan tahun. Sebut saja foto, mebel, peralatan makan hingga cangkir porselen dengan motif cetakan foto mendiang wajah bupati dan istrinya. Selain itu, ada pula berbagai hiasan dinding yang menarik untuk dilihat. 

Tak kalah penting, Bumi Ageung Cianjur juga menyimpan berbagai pahatan kayu ornamen dengan motif geometris. Pahatan ini memiliki visual yang tampil rapi dan presisi. Terakhir, ada pula alat-alat musik seperti kecapi suling. 

Baca Juga: Napak Tilas Pembangunan Pura Parahyangan Agung Jagatkarta Bogor

Bumi Ageung Cikidang di Cianjur bukan hanya sebagai tempat peristirahatan semata. Faktanya, bangunan ini menjadi saksi bisu atas perjuangan tentara PETA. Bahkan, bangunan juga menjadi tempat berkumpulnya beberapa tokoh besar di dunia. Oleh sebab itu, penting untuk bersama-sama melindungi bangunan tersebut agar nilai sejarah di dalamnya tetap terjaga demi generasi mendatang. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |