Sejarah Candi Ngetos di wilayah Nganjuk bermula pada abad ke-15 Masehi. Kala itu, Kerajaan Majapahit memasuki fase kejayaan di masa pemerintahan Hayam Wuruk. Para ahli arkeologi menyatakan bahwa pembangunan candi ini bertujuan untuk tempat penyimpanan abu Raja Hayam Wuruk.
Baca Juga: Mengupas Sejarah Candi Lor Nganjuk di Jawa Timur
Candi Ngetos sendiri kini masih aktif sebagai tempat ibadah Hindu di momen perayaan tertentu. Pada zaman dahulu, wilayah Ngetos sendiri memang terkenal suci hingga jadi pusat peradaban Hindu di masa Majapahit. Sebelum raja meninggal, ia berwasiat agar dimakamkan di kaki Gunung Wilis tempat candi ini berada.
Sejarah Candi Ngetos Jawa Timur dan Karakteristiknya
Pembangunan Candi Ngetos terjadi pada abad ke 15. Secara karakteristik fisik, bangunan ini telah rusak di beberapa bagian bahkan hilang. Dengan demikian, sulit untuk memperkirakan bentuk asli dari candi tersebut.
Di dalam candi terdapat arca Siwa dan juga Wisnu. Tak heran, kebanyakan orang memiliki asumsi bahwa candi Nganjuk ini beraliran Siwa Wisnu. Asumsi semakin kuat tatkala sang Raja Hayam Wuruk menganut Siwa. Awalnya, Candi Ngetos dikelilingi bangunan tembok berbentuk cincin.
Lalu, pada bangunan utama terbuat dari bata merah dan atap kayu. Ukuran panjang sekitar 9,1 m dan tinggi 10 m. Ada 4 buah relief, namun tinggal satu dan ketiga lainnya hancur. Bahkan, pigura yang semula ada juga kini tidak ada lagi.
Pada sisi kiri kanan candi ada dua relung. Diatasnya tampak ornamen mirip belalai makara. Akan tetapi jika diperhatikan belalai ini ternyata berbentuk spiral cantik. Lalu, area dinding sangat kosong dan hanya ada motif daun melengkung ke bawah dan juga horizontal.
Bagian Paling Menonjol
Bagian candi paling menonjol adalah ornamen Kala yang menghiasi sisi atas badan bangunan bersejarah tersebut. Namun, karena kondisi candi mulai aus, hanya tampak ornamen Kala di area selatan yang terlihat jelas ukirannya. Sejarah Candi Ngetos juga mencatat jika bangunan ini menarik perhatian Raffles selaku gubernur Hindia Belanda tahun 1817.
Baca Juga: Sejarah Candi Sanggrahan Tulungagung, Peninggalan Kerajaan Majapahit Bercorak Budha
Lalu secara berkala, Candi Ngetos tercatat dalam laporan Belanda tahun 1868 sampai 1917. Arkeolog asal Belanda bernama Hoepermans, kala itu melaporkan dua candi kembar berbeda ukuran bernama Candi Tajum. Namun sayangnya, candi satunya dengan ukuran kecil yang bisa diidentifikasi jadi pengiring sudah hilang.
Tempat Wisata Sejarah
Kendati Candi Ngetos tidak berukuran besar seperti candi lainnya, namun memiliki daya tarik wisata sendiri karena nilai sejarah yang cukup tinggi di dalamnya. Banyak wisatawan yang datang tertarik untuk belajar mengenai sejarah Candi Ngetos. Lokasinya juga jauh dari pusat kota dan menghadap langsung ke kawasan Gunung Wilis. Hal ini otomatis mampu menghadirkan pemandangan eksotis yang memanjakan mata pengunjung.
Mayoritas pengunjung berasal dari wisatawan lokal dan masyarakat sekitar Nganjuk. Saat hari libur, intensitas pengunjung mengalami kenaikan signifikan. Harga tiket masuknya sangat terjangkau sebesar Rp5.000 per orang. Lalu, jam operasionalnya buka setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.
Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari parkir, pusat bantuan informasi, tempat foto, warung makan, hingga toilet. Harga makanan juga termasuk murah untuk ukuran kawasan wisata. Demi menjaga keamanan, Candi Ngetos membangun pagar yang memaksa pengunjung hanya bisa menikmati candi dari jarak sekitar 3 meter saja.
Bukti Toleransi Umat Beragama
Sementara itu, Kabupaten Nganjuk sendiri mayoritas beragama Islam sehingga toleransi antar umat dan budaya tercermin kuat dalam sejarah Candi Ngetos. Hal ini menandakan, bahwa toleransi di daerah ini masih terjaga. Dengan demikian, menjadikan keberadaan candi menjadi simbol kerukunan antar agama.
Meskipun Candi Ngetos ini memuat situs arkeologi Hindu-Budha, tapi masyarakat Nganjuk tidak memandang perbedaan agama. Eksistensinya bahkan tetap ada hingga generasi mendatang. Candi Ngetos merupakan bukti nyata interaksi antarbudaya yang membuat pengunjung semakin tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai latar belakang kebudayaan di candi tersebut.
Baca Juga: Sejarah Situs Liyangan Bukti Kekayaan Arkeologi Nusantara
Sejarah dan keberadaan Candi Ngetos Jawa Timur ini menjadi simbol toleransi beragama serta warisan peninggalan Majapahit yang patut dilestarikan. Pengunjung tidak hanya akan menikmati pemandangan, namun juga bisa belajar tentang sejarah Candi Ngetos yang memuat budaya Hindu-Budha di era Kerajaan Majapahit. Untuk itu, bagi yang tertarik belajar ilmu arkeologi dan sejarah, wajib memasukan candi satu ini dalam daftar kunjungan wisata. (R10/HR-Online)

1 week ago
22

















































