Strategi Menghadapi Perubahan Aturan Free Float MSCI pada Saham Global 2026

2 hours ago 4

Saat ini pasar modal Indonesia tengah hadapi fase krusial akibat perubahan aturan Free Float MSCI. Hampir seluruh perhatian investor global dan domestik tersedot pada satu agenda besar, yaitu berubahnya metodologi perhitungan free float oleh Morgan Stanley Capital International. Selaku kompas utama manajer investasi dalam pengalokasian dana triliunan, wajar jika setiap pergeseran pada indeks MSCI tak sekadar angka, namun gelombang likuiditas yang mengangkat ataupun menenggelamkan harga saham.

Baca Juga: Cara Jual Saham Delisting yang Wajib Diketahui Para Investor

Mengenal Apa Itu Perubahan Aturan Free Float MSCI?

Sudah bertahun-tahun, Morgan Stanley Capital International menentukan bobot saham indeks berdasarkan Free Float-Adjusted Market Capitalization. Namun, mulai Mei 2026, berencana memperketat dengan cara mengubah aturan free float MSCI dengan menghitung jumlah saham yang beredar di publik.

MSCI usulkan penggunaan data KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) lebih mendalam, salah satunya MHCR (Monthly Holding Composition Report). Alasannya, karena selama ini ada perbedaan definisi antara regulator lokal dengan standar internasional. Di bawah ini merupakan beberapa usulan baru, yang menjadikan kategori saham sebelumnya dianggap free float akan diklasifikasikan ulang sebagai non-free float, mencakup:

  • Saham dalam bentuk skrip atau tidak tercatat secara elektronik di KSEI.
  • Kepemilikan korporasi, baik asing maupun lokal yang dianggap sebagai pemegang saham strategis.
  • Terakhir merupakan kategori Others tidak teridentifikasi jelas sebagai investor ritel murni.

3 Saham Paling Terpukul

Nyatanya efek dari pengetatan aturan free float MSCI terkait penurunan Foreign Inclusion Factor (FIF) maupun faktor bobot keterwakilan saham di mata investor asing. Apabila FIF turun, otomatis kapitalisasi pasar diperhitungkan sehingga otomatis mengecil dan berujung aksi jual paksa (forced sell) oleh dana indeks (ETF) yang mereplikasi MSCI. Berdasarkan simulasi data pasar terkini, awal 2026, ada 3 emiten kelas berat berpotensi alami tekanan yang berujung kerugian.

1. Emiten: Kepemilikan Korporasi Besar

Bagi emiten yang sudah masuk ke dalam indeks global MSCI, sejumlah perusahaan mulai menata ulang struktur kepemilikan. Hal ini agar memperbesar porsi free float dan meningkatkan likuiditas perdagangan saham.

Baca Juga: BUVA Siapkan Right Issue Hingga 50 Miliar Saham Baru

Bahkan sejumlah saham jadi kandidat kuat masuk indeks MSCI. Khususnya Grup Bakrie seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Hal ini memicu tekanan jual investor institusi luar negeri, sehingga harus menyesuaikan isi portofolio.

2. Sektor Komoditas & Infrastruktur

Beberapa emiten sektor energi maupun infrastruktur memiliki struktur kepemilikan terkonsentrasi pada entitas induk dan kepemerintahan. Jika jumlah saham benar-benar dipegang ritel (di bawah 5%) akan lebih kecil dari laporan sebelumnya, otomatis risiko outflow menjadi nyata.

Hall ini sangat berpengaruh dan menjadikan saham-saham alami penurunan likuiditas semu yang menjadi penyokong harga di level tinggi selama ini.

3. Emiten Minim Transparansi Kepemilikan

Seluruh saham dunia memiliki struktur kepemilikan kompleks yang banyak tersimpan dalam bentuk script (fisik) yang sayangnya akan menjadi korban utama. Jika emiten tidak segera lakukan konversi saham dalam bentuk elektronik dengan memperjelas status pemegang saham.

MSCI akan mengambil langkah konservatif, menganggap saham tidak cukup likuid untuk investor global.

Strategi Menghadapi Gejolak MSCI

Dalam situasi MSCI mengubah aturan free float, baik infestore maupun pemilik saham tidak boleh panik dan tetap taktis. Ada beberapa langkah tepat untuk mengatasinya.

  • Diversifikasi saham dengan free float murni, pastikan fokus pada emiten yang memiliki rekam transparansi kepemilikan baik dengan rasio free float sehat sesuai aturan baru.
  • Jangan lupa pantau tanggal krusial yang biasanya MSCI umumkan terkait hasil review bulan Februari & Agustus (Quarterly Review) dan Mei & November (Semi-Annual Review). Pastikan pemilik investasi sudah benar-benar mengatur posisi sebelum tanggalnya.
  • Menggunakan Analisis Fundamental sebagai jangkar, karena Rebalancing merupakan masalah likuiditas jangka pendek. Jika sebuah saham terlepas hanya karena aturan teknis MSCI, otomatis fundamental tetap bertumbuh dan menjadi peluang buy on dip jangka panjang.
  • Ada baiknya hold dulu cash di RDN dengan menunggu info MSCI tentang perubahan peraturan yang nanti diumumkan tanggal 31 Januari 2026. 
  • Pantau analisis ahli jika investor membutuhkan pandangan objektif. Analis Maybank Sekuritas rutin memberikan update terkait proyeksi aliran dana asing (foreign flow) yang membantu memitigasi risiko. 

Baca Juga: Saham PTRO Masuk MSCI Jadi Katalis Ganda Jelang Februari 2026

Aturan free float MSCI yang ketat menjadi alarm bagi emiten Indonesia untuk lebih transparan. Sebagai investor, hal ini menjadi pengingat jika likuiditas sama pentingnya dengan profitabilitas. Adapun saham paling terpukul, itulah yang gagal beradaptasi dengan standar global. Namun, di balik tekanan jual, selalu ada peluang untuk investor jeli, khususnya uang memiliki data akurat. Jangan biarkan portofolio tergerus oleh ketidaktahuan. Mulailah berinvestasi cerdas dengan memanfaatkan setiap momentum rebalancing pasar jadi upaya meraih profit maksimal alat tepat, sehingga saat terjadi perubahan aturan free float MSCI sama sekali tidak mengubah maupun merugi. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |