harapanrakyat.com,- Warga Kampung Kanyere, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, mengeluhkan aktivitas perusahaan penggilingan batu di wilayah mereka. Warga menyoroti polusi udara dan suara bising mesin yang mengganggu kenyamanan warga.
Nanang Supriatna, tokoh masyarakat setempat, mengungkapkan bahwa operasional perusahaan penggilingan batu ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Ia menyebut bahwa dampak penggilingan batu tersebut berupa kerusakan jalan, kebisingan, dan polusi udara kini tidak terhindarkan bagi warga yang tinggal berdekatan.
Baca juga: Peringati Hari Braille Sedunia, Ratusan Tunanetra di Tasikmalaya Membaca hingga Tulis Harapan
“Penggilingan batu ini sudah lama berdiri. Dampaknya terasa langsung, mulai dari jalan yang rusak, suara bising, hingga polusi udara bagi warga yang tinggal berdekatan,” ujar Nanang.
Gangguan Aktivitas Penggilingan Batu
Nanang mengaku keluhan warga sudah beberapa kali disampaikan kepada pihak perusahaan. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut signifikan untuk meminimalisir gangguan suara maupun dampak lingkungan lainnya.
“Suaranya sangat bising. Rumah saya posisinya sangat dekat dengan lokasi penggilingan. Kami berharap ada langkah konkret dari pengelola agar mesin tersebut tidak terlalu berisik,” tuturnya.
Baca juga: Aktivis Surati BPKP, Minta Seluruh Proyek Dinas PUTR Kota Tasikmalaya Diaudit Investigatif
Mesin stone crusher atau alat pemecah batu tersebut hampir setiap hari beroperasi mulai pagi hingga sore hari. Durasi operasional yang panjang ini menyebabkan warga merasa terganggu saat melakukan aktivitas harian di rumah.
Baru-baru ini, pihak perusahaan berencana menambah alat berat dan meminta persetujuan warga. Nanang secara tegas menolak menandatangani dokumen persetujuan tersebut.
Penolakan ini didasari atas minimnya komitmen perusahaan terhadap warga yang terdampak langsung. Ia merasa selama bertahun-tahun dirinya tidak pernah diajak berkomunikasi secara baik mengenai kompensasi atau solusi dampak lingkungan. “Saya yang paling terdampak selama bertahun-tahun oleh aktivitas ini. Saya berharap ada perhatian langsung dari pemilik perusahaan tanpa melalui perantara,” tegas Nanang.
Harapan Rakyat mencoba mendatangi lokasi perusahaan untuk menemui pemiliknya, Budi. Namun, saat didatangi, Budi tidak berada di tempat. Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada pukul 13.30 WIB, Budi memberikan jawaban singkat. “Lagi libur pak, tidak ada aktivitas pak,” jawabnya.
Meskipun demikian, berdasarkan pantauan di lapangan, aktivitas operasional dan mobilitas truk pengangkut pasir masih kerap dikeluhkan warga karena memicu polusi dan mengganggu ketenangan lingkungan di Kelurahan Cibunigeulis. (Apip/R6/HR-Online)

1 hour ago
4

















































