Wayang Golek Cepak Indramayu merupakan permata seni pertunjukan kesenian tradisional yang berasal dari kekayaan budaya pesisir utara Provinsi Jawa Barat. Kendati keberadaannya masih kalah populer dari Wayang Golek Purwa khas Priangan, namun Wayang Cepak mempunyai karakter, sejarah, serta filosofi sangat unik, terutama bagi masyarakat Kawasan Indramayu maupun sekitarnya.
Baca Juga: Mengenal Sejarah Wayang Klithik Kesenian Khas Jawa Timur yang Terjaga Kelestariannya
Wayang Golek Cepak Indramayu dan Asal-Usulnya
Nama “Cepak” berasal dari kepala wayang yang di atasnya rata atau datar. Dalam bahasa Sunda, istilah tersebut bernama cepak. Hal ini sangat berbeda dengan Wayang Golek Purwa yang umumnya mempunyai hiasan kepala mahkota atau gelung maupun hiasan rambut menjulang.
Perbedaan fisik ini ternyata bukanlah tanpa alasan. Wayang Cepak sendiri memang didesain untuk merepresentasikan tokoh manusia dalam lingkup sejarah atau terkenal dengan istilah babad. Hal ini jelas bukan sekadar tokoh wayang dari cerita India.
Sebut saja seperti Ramayana maupun Mahabharata. Wajah-wajah wayangnya sendiri cenderung realistis. Hal ini mencerminkan strata sosial masyarakat dari kalangan rakyat jelata hingga bangsawan serta ulama. Untuk lebih jelas seputar Wayang Golek Cepak di wilayah Indramayu, berikut penjelasan selengkapnya.
Narasi dan Lakon Sukses Menghidupkan Sejarah Lokal
Apabila Wayang Golek Purwa menceritakan tentang tokoh Pandawa dan juga Kurawa, namun Wayang Golek Cepak Indramayu memuat cerita Lakon atau Babad. Cerita ini biasanya diangkat dari kisah-kisah Babad Tanah Jawa, contohnya sejarah tentang penyebaran agama Islam zaman dahulu kala. Selain itu, wayang ini juga memuat Kisah Para Walisongo dalam melakukan dakwah agama Islam.
Wayang Cepak ini juga memuat kisah Legenda Lokal Indramayu seperti Kisah Raden Aria Wiralodra. Ia merupakan pendiri wilayah Indramayu dan berjuang melawan penjajahan hingga memicu konflik kerajaan lokal saat itu. Wayang Cepak juga memuat kisah tentang kepahlawanan Amir Hamzah yakni tokoh sastrawan nasional terkenal di Indonesia.
Penggunaan babad ini sukses menjadikan Wayang Cepak bermanfaat sebagai media edukasi sejarah bagi masyarakat Indonesia. Penonton nantinya tidak hanya akan terhibur saja. Akan tetapi juga memahami bagaimana perjuangan tokoh zaman dahulu yang memberikan nilai moral khusus untuk mereka.
Perbedaan Bahasa dan Iringan Musik
Sebagai salah satu seni pesisiran, Wayang Golek Cepak ini menggunakan Bahasa Jawa khas Indramayu atau Cirebonan/Dermayon. Bahasa tersebut menjadi sebagai pengantar utama saat pentas. Hal ini akan memberikan kedekatan emosional kuat dengan penonton lokal di wilayah tersebut.
Baca Juga: Animasi Desa Timun, Kebangkitan Wayang Kulit di Kancah Global
Sementara itu, iringan musiknya pun mempunyai cita rasa berbeda. Pasalnya, menggunakan gamelan pelog atau terkenal dengan nama salendro khas pesisir. Sedangkan, iramanya cenderung lugas, dinamis, dan juga lebih cepat jika dibandingkan wayang gaya Priangan yang mendayu. Kehadiran para sinden dengan suara vokal melengking khas pesisir pun menambah nuansa magis dan meriah di setiap pementasan.
Makna Filosofis dan Fungsinya
Bagi masyarakat sekitar, Wayang Golek Cepak Indramayu bukan hanya sekedar tontonan. Akan tetapi, pertunjukan seni tersebut menjadi bagian ritual adat. Kesenian ini kerap dipentaskan di acara Ngarot atau upacara adat saat musim tanam tiba. Kemudian, ada juga Unjungan yakni tradisi mengunjungi makam para leluhur maupun keramat.
Kemudian, wayang ini juga tampil dalam Mapag Sri. Ini merupakan ritual pesta panen bentuk syukur pada Tuhan. Secara filosofisnya sendiri bentuk kepala wayang yang rata atau cepak melambangkan aspek kesederhanaan dan setara. Ini artinya jika di hadapan Tuhan, semua manusia memiliki kedudukan sama. Fokus ceritanya sendiri pada tokoh penyebar agama juga menegaskan jika fungsi wayang ini menjadi alat dakwah yang efektif.
Tantangan di Masa Modern
Saat ini, keberadaan Wayang Golek Cepak Indramayu sendiri menghadapi tantangan cukup besar. Terutama menghadapi arus modernisasi yang kian meningkat tiap harinya. Jumlah dalang yang mampu menguasai Wayang Cepak sendiri mulai berkurang. Bahkan minat para generasi muda terhadap cerita sejarah kerap kali kalah dengan hiburan digital modern.
Oleh karena itu, para maestro setempat terus berupaya melakukan pelestarian wayang tersebut. Pemerintah daerah beserta komunitas seni juga mulai mengintegrasikan seni tradisional ini ke acara festival kebudayaan di sekolah. Hal ini bertujuan untuk memastikan Wayang Golek di Indramayu ini tidak hilang seiring perkembangan zaman.
Baca Juga: Sejarah Wayang Madya, Kesenian Unik Indonesia dan Karakternya
Wayang Golek Cepak Indramayu termasuk bukti nyata bagaimana kesenian bisa menjadi salah satu jembatan masa lalu dan modern. Lewat setiap gerak kayu dalam pertunjukan seni Wayang Golek Cepak di Indramayu tersebut, tersimpan kenangan kolektif bangsa Indonesia yang harus kita jaga bersama. Keberadaannya sukses menjadi salah satu warisan budaya Nusantara yang tak ternilai harganya. (R10/HR-Online)

2 hours ago
6

















































