harapanrakyat.com,- Agama penduduk wilayah Lakbok yang kini menjadi bagian kecamatan di Kabupaten Ciamis pada zaman dulu cukup menarik untuk diulas. Selain karena faktor geografis yang terkenal karena sebagian besar adalah hamparan perairan, Kecamatan Lakbok juga memiliki cukup banyak peninggalan bersejarah.
Berdasarkan catatan sejarah kolonial Belanda di koran Bataviaasch nieuwsblad 21-08-1909, terlihat begitu jelas interaksi awal kolonial Belanda dengan masyarakat Lakbok. Bahkan, dalam tulisan itu menggambar secara jelas kepercayaan penduduk waktu itu.
Catatan Sejarah Agama Penduduk Lakbok Tahun 1899
Dalam catatan perjalanan C.M. Pleyte tahun 1909 dan kenangan tahun 1899 yang dimuat di Bataviaasch nieuwsblad, menunjukkan agama yang dianut penduduk setempat adalah Islam. Mereka juga melihat kepercayaan itu masih bercampur kental dengan kepercayaan lokal (sinkretisme) serta pemujaan leluhur (karuhun).
Baca juga: Menguak Jejak Sejarah Rawa Lakbok dalam Catatan Kolonial, Wilayah Hitam Ciamis yang Ditakuti
Masih dari sumber yang sama, Pleyte yang juga seorang peneliti dari Belanda mengungkapkan jika masyarakat waktu itu mengucapkan “Alhamdo Lillah” (Alhamdulillah) ketika mencium aroma harum dari benda pusaka.
Selain itu, dalam sebuah acara perayaan lokal, rombongan pembawa pusaka dipimpin langsung oleh seorang Lebe. Sebutan Lebe mengarah pada pejabat desa yang mengurus masalah agama Islam, seperti halnya Amil saat ini, di tatar Sunda.
Sementara itu, masyarakat pada waktu itu juga masih mempercayai kehadiran sosok misterius yang disebut “Orang Lakbok” ketika ada sebuah perayaan. Sebutan orang Lakbok yang dianggap setengah roh itu datang dari rawa untuk mengikuti lebaran serta Garebeg yang merupakan perayaan Islam kerajaan di Alun-alun Manonjaya yang menjadi pusat pemerintahan Sukapura.
Baca juga: Makam Raden Adipati Singacala, Tokoh Teladan dari Tatar Galuh Ciamis
Kemudian, penulis dan pejabat museum yang melakukan perjalanan ekstensif di wilayah Priangan Timur ini, Pleyte melihat masyarakat saat itu sangat menghormati sosok leluhur bernama Embah Dalem Soeta Poera. Bahkan, rasa hormatnya terhadap Embah Dalem ini begitu tinggi hingga membuat mereka awalnya enggan menyentuh atau memindahkan barang-barang peninggalannya.
Saat berkunjung ke wilayah Banjarsari, Pleyte juga melihat masyarakat memperlakukan benda-benda peninggalan dengan sangat hati-hati, seolah-olah barang pecah belah yang sangat rapuh.
Dari perjalanan di wilayah Priangan Timur ini pada akhir abad 19 dan awal abad 20 ini, Pleyte menyimpulkan agama penduduk Lakbok yang tidak lagi mempraktikkan agama Hindu-Buddha. Mereka penganut Islam yang masih memegang teguh tradisi Sunda Wiwitan/Kejawen. (Muhafid/R6/HR-Online)

13 hours ago
8

















































