Kawasan Cicadas kini tengah menjadi sorotan publik berkat fenomena Desa Hantu Cicadas yang viral di media sosial sebagai perpaduan unik antara cerita rakyat digital (digital folklore), dan kreativitas warga.
Terletak di jantung Kota Bandung, pemukiman yang dulunya sangat padat ini berhasil menarik perhatian jutaan pasang mata. Sekaligus menghidupkan ekonomi lokal melalui daya tarik mistis yang dikelola secara swadaya.
Realita Kreatif di Balik Desa Hantu Cicadas
Baca Juga: Bird and Bromelia Pavilion Bandung, Taman Burung Eksotis di Kawasan Resort Premium
Fenomena ini bermula dari konten eksplorasi akun YouTube/HororJalanan. Akun tersebut memperlihatkan suasana mencekam di sebuah “desa gaib” yang diklaim tidak terdeteksi peta digital.
Meskipun secara administratif tidak menemukan desa terpencil ini, para ahli budaya menilai hal ini sebagai bentuk perkembangan cerita rakyat modern. Di mana masyarakat tertarik pada misteri lokal yang memicu imajinasi kolektif.
Realitanya, Desa Hantu Cicadas merupakan bentuk kreativitas positif dari pemuda Karang Taruna di Gang Banteng, RW 06, Kelurahan Cicadas. Mereka menyulap gang sempit sepanjang 250 meter menjadi wahana uji nyali yang menyerupai lorong hutan rimbun, lengkap dengan dekorasi pohon pisang dan bambu setiap awal Agustus.
Kehadiran Desa Hantu ini terbukti membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi sektor UMKM melalui penyelenggaraan bazar makanan dan kerajinan di sepanjang area wahana.
Dengan harga tiket yang sangat terjangkau, yaitu sekitar Rp 3.000 hingga Rp 5.000, kegiatan ini tidak hanya menghibur. Tetapi juga menjadi sarana penggalangan dana untuk kegiatan masyarakat seperti perayaan HUT RI.
Baca Juga: Menjelajahi Kampung Wisata 165 Padarincang, Oase Spiritual dan Keindahan Alam di Banten
Selain sisi komersial, warga tetap menjaga estetika lingkungan dengan mengecat tembok menggunakan gambar-gambar cerah untuk memberikan kontras pada suasana horor yang ada.
Penataan Kawasan dan Masa Depan Wisata
Sejalan dengan popularitas wisata kreatif ini, Pemerintah Kota Bandung juga melakukan penataan besar-besaran pada Mei 2026. Pemkot melakukan penertiban kios Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menutupi trotoar di sepanjang Jalan Ahmad Yani.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyatakan bahwa langkah selanjutnya adalah peningkatan fasilitas umum dan drainase. Hal ini untuk mendukung citra positif kawasan tersebut.
Baca Juga: Eksplor 5 Spot Street Food Viral di Bandung Saat Malam, Wajib Masuk Daftar Liburan Kamu
Transformasi ini menunjukkan proses pembentukan kampung wisata yang ideal dengan mengangkat nilai budaya dan keterlibatan aktif masyarakat.
Secara keseluruhan, keberadaan Desa Hantu Cicadas membuktikan bahwa narasi rasa takut yang dikelola dengan kolaborasi kuat antara warga dan pemerintah, dapat diubah menjadi peluang ekonomi berkelanjutan. Dengan wajah baru yang lebih bersih dan tertata, kawasan ini siap menjadi destinasi wisata kreatif yang berdaya saing di Kota Bandung. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

21 hours ago
17

















































