Dewan Pers Gandeng Google Perkuat Jurnalisme Berkualitas di Era AI

3 weeks ago 6

BANTEN - Di tengah gelombang inovasi kecerdasan buatan (AI) yang kian mengubah lanskap informasi, Dewan Pers Indonesia tak tinggal diam. Langkah strategis diambil dengan menggandeng raksasa teknologi global, Google, melalui program Google News Initiative (GNI). Kemitraan ini menjadi jangkar kuat untuk memastikan jurnalisme berkualitas tetap kokoh berdiri di tanah air, menghadapi segala tantangan yang dihadirkan oleh dinamika era digital.

Sebuah forum penting bertajuk 'Pembaruan GNI: Memberdayakan Ekosistem Berita Indonesia' baru saja sukses digelar di Serang, Banten, tepatnya pada Februari 2026. Acara yang diselenggarakan di Honeycomb Room, Rate Kate, ini menjadi arena diskusi mendalam mengenai masa depan profesi mulia jurnalisme. Kehadiran para pemangku kepentingan kunci, mulai dari Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, perwakilan pemerintah, praktisi media terkemuka, hingga tim Google seperti Nezar Patria, Adeel Farhan, dan Yos Kusuma, menegaskan betapa krusialnya momen refleksi ini.

Dalam pidatonya, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menyuarakan pandangan yang sarat keprihatinan sekaligus optimisme. Beliau mengakui peran tak terbantahkan Google sebagai mitra distribusi informasi. Namun, di sisi lain, ia tak lupa mengingatkan akan dua tantangan besar yang membayangi: keberlangsungan bisnis media dan kualitas produksi konten itu sendiri.

"Pertanyaan besarnya hari ini adalah, apakah jurnalis masih dibutuhkan ketika konten bisa diproduksi oleh AI? Sekarang, dari rekaman suara saja, teks bisa langsung menjadi berita, lengkap dengan berbagai insight dan produk turunan, " ungkap Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Jumat (08/02/2025).

Meskipun kemudahan yang ditawarkan AI begitu menggoda, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dengan tegas menekankan bahwa peran jurnalis justru semakin tak tergantikan. Beliau menyoroti fenomena konten sintetis yang semakin sulit dibedakan dari aslinya, sebuah ancaman nyata bagi masyarakat, terutama mereka yang tingkat literasi medianya masih perlu diasah.

"Ketika konten sintetis sudah sangat mirip dengan yang asli, publik bisa dengan mudah terkecoh. Di sinilah jurnalisme dibutuhkan: untuk melakukan verifikasi, memberi konteks, dan memastikan informasi yang sampai ke masyarakat benar serta bisa dipertanggungjawabkan, " tegas Prof. Dr. Komaruddin Hidayat.

Perubahan perilaku audiens yang kini lebih gemar menjelajahi dunia maya melalui gawai juga menjadi sorotan utama. Media konvensional, baik televisi maupun media cetak, merasakan dampak signifikan dari pergeseran ini, menuntut adaptasi cerdas tanpa mengorbankan esensi fundamental jurnalistik.

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat mengibaratkan kualitas jurnalisme laksana cahaya matahari yang sinarnya harus terus dijaga agar tetap terang. Sekalipun teknologi terus bertransformasi dan menawarkan berbagai kemudahan, prinsip-prinsip dasar jurnalisme yang meliputi akurasi, verifikasi mendalam, dan etika profesional tak boleh lekang dimakan zaman.

Melalui gelaran ini, Dewan Pers dan Google bertekad menciptakan sinergi yang konstruktif. Tujuannya jelas: memperkuat ekosistem berita di Indonesia dan memastikan jurnalisme tetap berdiri tegak sebagai garda terdepan dalam penyajian informasi yang benar, bermutu, dan dapat dipertanggungjawabkan, terutama di era digital yang semakin dipenuhi nuansa kecerdasan buatan.(Lindafang)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |