Hiu Pemotong Kue, Predator Puncak di Laut Dalam dengan Bibir Penghisap yang Kuat

4 hours ago 7

Hiu pemotong kue atau cookie cutter shark merupakan salah satu hiu laut dalam paling unik yang pernah dideskripsikan oleh ilmu pengetahuan modern. Spesies kecil ini kerap terdeteksi bukan lewat penampakan langsung, melainkan dari bekas luka berbentuk lingkaran sempurna pada paus, lumba-lumba, dan ikan besar. Fenomena tersebut mendorong banyak ekspedisi oseanografi sejak awal abad ke-20 untuk meneliti interaksi parasitik di zona gelap samudra.

Baca Juga: Punya Tubuh Besar, Begini Cara Gajah Tidur yang Cukup Unik

Penelitian yang terbit dalam Journal of Fish Biology tahun 2010 menegaskan bahwa bekas luka ini identik dengan pola gigitan Isistius brasiliensis. Hiu ini menghuni kolom air mesopelagik hingga batipelagik yang minim cahaya. Habitat tersebut membuat observasi langsung sangat terbatas dan bergantung pada data tidak langsung.

Hiu pemotong kue, Begini Taksonomi dan Identitas Ilmiahnya

Penamaan ilmiah Isistius brasiliensis dilakukan oleh Jean René Quoy dan Joseph Paul Gaimard pada 1824. Spesies ini tergolong famili Dalatiidae dalam ordo Squaliformes. Literatur klasik seperti Histoire Naturelle des Poissons mencatatnya sebagai hiu kecil bercahaya dengan struktur rahang tidak biasa.

Dalam katalog Catalog of Fishes edisi 2024, spesies ini juga terkenal dengan sebutan “cigar shark.” Julukan tersebut merujuk pada bentuk tubuhnya yang menyerupai cerutu. Panjang maksimum yang pernah dilaporkan berkisar 42–56 sentimeter berdasarkan kompilasi data NOAA.

Adaptasi Anatomi Pemotong Daging

Ciri khas hiu ini adalah caranya makan yang meninggalkan bekas luka bentuk lingkaran sempurna pada bagian tubuh mangsa. Menurut studi dalam Marine Biology Research (2012), pola luka tersebut identik di berbagai samudra dan menjadi penanda utama keberadaan spesies ini. Luka ini sering muncul pada paus, lumba-lumba, hingga hiu putih.

Hiu cookiecutter juga memiliki bibir penghisap yang kuat untuk menempel pada permukaan kulit hewan besar. Setelah melekat, gigi bawahnya yang berbentuk gergaji berfungsi untuk memotong daging mangsa. Gigi ini sangat besar dari ukuran tubuhnya dan saling bertautan sehingga membentuk satu baris pemotong.

Ketika menyerang, hiu memutar tubuhnya guna menyayat daging bentuk bulat. Hasil lukanya menyerupai pemotong kue, sesuai dengan nama populernya. Gigi yang tanggal biasanya tertelan bersama daging mangsa dan kemungkinan berfungsi untuk mendaur ulang kalsium dalam tubuh.

Strategi Bioluminesensi dan Perilaku Berburu

Hiu pemotong kue juga mempunyai ribuan fotofor di bagian perut yang memancarkan cahaya hijau kebiruan. Riset Universitas Hawaii pada 2015 menunjukkan cahaya ini menciptakan efek kontra-iluminasi. Siluet hiu menjadi sulit dibedakan dari cahaya redup permukaan.

Baca Juga: Identifikasi Bentuk Paruh Bebek dan Jenis Spesiesnya

Area leher yang tidak bercahaya membentuk “kalung” gelap. Para peneliti menduga pola ini menyerupai bayangan ikan kecil. Predator besar tertarik mendekat, kemudian justru menjadi target gigitan parasitik.

Habitat Laut Dalam dan Migrasi Vertikal

Spesies ini tersebar luas di perairan tropis dan subtropis. Catatan Global Biodiversity Information Facility menunjukkan keberadaannya di Atlantik, Pasifik, dan Hindia. Observasi sonar mengindikasikan kedalaman siang hari bisa melebihi 1.000 meter.

Pada malam hari, hiu ini naik mendekati permukaan. Pola ini populer sebagai diel vertical migration. Migrasi hingga sekitar 3 kilometer per hari menjadikannya salah satu pergerakan harian terbesar di antara ikan bertulang rawan.

Status Konservasi dan Interaksi dengan Manusia

IUCN Red List edisi 2023 mengklasifikasikan spesies ini sebagai Least Concern. Populasinya terbilang stabil karena habitat laut dalam relatif terlindungi dari penangkapan intensif. Namun, laporan Deep-Sea Research Part I tahun 2021 menyoroti potensi ancaman dari penambangan dasar laut.

Interaksi dengan manusia jarang, tetapi pernah tercatat. Angkatan Laut Amerika Serikat pada 1970-an melaporkan kerusakan kabel sonar akibat gigitan melingkar. Kasus serangan non-fatal terhadap perenang di Hawaii pada 16 Maret 2009 turut memperkaya dokumentasi ilmiah.

Peran Ekologis dalam Jaring Makanan Samudra

Hiu pemotong kue berperan sebagai parasit predator yang memengaruhi energi dalam ekosistem laut dalam. Dengan mengambil jaringan kecil tanpa membunuh mangsa, hiu ini memicu respons imun dan regenerasi pada hewan besar. Proses ini juga menunjukkan bentuk interaksi yang jarang dibahas dalam ekologi laut.

Analisis isotop stabil dalam Journal of Experimental Marine Biology and Ecology tahun 2018 mengungkapkan dietnya mencakup ikan pelagis, cumi-cumi, dan juga mamalia laut. Hasil ini menempatkannya sebagai penghubung antara tingkat trofik menengah dan atas. Keberadaannya mencerminkan kompleksitas hubungan biologis di kedalaman samudra.

Signifikansi Ilmiah dan Arah Penelitian

Cookie cutter shark menjadi model penting untuk mempelajari adaptasi ekstrem. Kombinasi bioluminesensi, rahang vakum, dan perilaku migrasi vertikal menunjukkan evolusi yang sangat terspesialisasi. Buku Sharks of the World edisi ke-2 menilai spesies ini sebagai contoh klasik predator mikroparasitik.

Teknologi kendaraan bawah laut otonom sejak 2018 mulai merekam individu hidup di habitat aslinya. Rekaman ini membuka peluang penelitian perilaku yang lebih akurat. Harapannya, data baru memperjelas dampak ekologisnya di perairan tropis.

Baca Juga: Perbedaan Buaya Laut dan Sungai Dilihat dari Ukuran, Habitat Hingga Keganasannya

Hiu pemotong kue membuktikan bahwa ukuran kecil tidak menghalangi peran ekologis besar. Spesies ini menggabungkan anatomi unik dan strategi berburu efisien untuk bertahan di zona minim cahaya. Penelitian berkelanjutan tentang hiu pemotong kue akan memperkaya pemahaman tentang dinamika kehidupan laut dalam dan hubungan antar spesies di samudra tropis. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |