Kisah Nabi Armiya dan Nebukadnezar, dari Penjara hingga Tawaran Takhta

1 day ago 11

harapanrakyat.com,- Sejarah Islam sering mencatat kisah tragis tentang utusan Tuhan yang dimusuhi dan disiksa oleh kaumnya sendiri. Namun, kisah Nabi Armiya justru memberikan pelajaran berbeda, ia justru mendapat penghormatan tinggi dari musuh yang menghancurkan negerinya. Kisah ini terjadi pada masa kehancuran Yerusalem oleh pasukan Babilonia.

Baca juga: Kisah Nabi Syamwil, Utusan Allah untuk Bani Israil yang Mengangkat Thalut Melawan Jalut

Dalam ajaran Islam, Raja Nebukadnezar, penguasa Babilonia dikenal sebagai tiran kejam. Meski begitu, ternyata ia memiliki pandangan berbeda terhadap sosok nabi tersebut dibandingkan Bani Israil, kaum Nabi Armiya, sendiri. 

Kisah Nabi Armiya Berdakwah ke Bani Israil

Jauh sebelum pasukan Babilonia mengepung gerbang kota, Allah SWT telah mengutus Nabi Armiya untuk berdiri tegak di tengah-tengah Bani Israil. Beliau membawa misi yang sangat jelas, yaitu memperingatkan mereka tentang azab pedih yang akan datang sebagai akibat dari kemaksiatan yang melampaui batas.

Baca juga: Kisah Talut dan Jalut, Bukti Kekuatan Iman Mengalahkan Kedzaliman

Hati sang nabi bergetar saat menerima wahyu tentang kehancuran negeri tempat para nabi terdahulu tinggal dan berdakwah. Ia bahkan sempat memohon kepada Allah agar tidak menyiksa umat yang merupakan keturunan kekasih-Nya, Ibrahim, Musa, dan Daud.

Namun, ketetapan langit sudah bulat karena kedurhakaan umat tersebut sudah mencapai titik nadir yang tidak bisa ditoleransi lagi. Allah menegaskan bahwa azab akan turun di negeri kaum durhaka tersebut kecuali mereka yang mendapat rahmat dan kasih sayang-Nya.

Bukannya bertaubat dan merenung, Bani Israil justru menuduh Nabi Armiya sebagai orang gila yang kehilangan akal sehatnya karena terus meneriakkan ancaman. Mereka lebih memilih hidup nyaman dalam ilusi dosa daripada menghadapi kenyataan pahit dari peringatan ilahi yang disampaikan secara gamblang.

Puncak dari penolakan tersebut adalah tindakan keji mereka menangkap dan menjebloskan sang nabi ke dalam penjara yang gelap dan pengap. Ironisnya, sosok yang diutus Tuhan untuk menjadi jalan keselamatan mereka justru dibungkam paksa dan diasingkan oleh saudara sebangsanya sendiri.

Pertemuan Ironis Raja Penakluk dan Nabi Tawanan

Setelah Baitul Maqdis hancur lebur dan puluhan ribu penduduknya ditawan, Raja Nebukadnezar justru memerintahkan pasukannya untuk membebaskan Nabi Armiya. Sang raja tiran itu merasa penasaran setelah mendengar informasi ramalan nabi terkait peristiwa itu sudah sejak jauh-jauh hari.

Dalam pertemuan tersebut, Nebukadnezar mengakui kebenaran risalah Tuhan dan menawarkan posisi mulia serta jaminan keamanan di kerajaannya kepada Armiya. Ia bahkan mencela Bani Israil sebagai seburuk-buruk kaum karena telah mendustakan nabi mereka sendiri dan menyia-nyiakan peringatan Tuhan.

Baca juga: Kisah Nabi Hanzhalah, Penakluk Burung Raksasa Pemakan Hewan dan Manusia

Namun, Nabi Armiya dengan tegas menolak tawaran fasilitas menggiurkan tersebut karena imannya tidak bergantung pada perlindungan manusia mana pun. Ia menegaskan bahwa dirinya akan selalu aman selama berada dalam perlindungan Allah dan tidak membutuhkan jaminan dari penguasa duniawi.

Kisah ini menjadi cermin abadi bahwa kehormatan sejati bukan terletak pada status sosial, melainkan pada keteguhan melaksanakan ibadah dan memegang kebenaran ilahi. Pelajaran dari kisah Nabi Armiya mengingatkan kita untuk tidak sombong menolak nasihat kebaikan sebelum azab benar-benar datang menyapa kita. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |