harapanrakyat.com,- Sejarah runtuhnya Kerajaan Majapahit terjadi sekitar tahun 1400 Jawa atau 1475 M dari raja terakhir Brawijaya yang jatuh ke putranya sendiri Raden Patah. Peristiwa itu tergambar jelas dalam buku The History of Java karya Sir Thomas Stamford Raffles.
Sebelum lebih jauh, Raffles mengungkapkan asal-usul nama kerajaan tersebut menjadi dua versi, secara harfiah dan etimologis. Namun, dalam tradisi lisan yang berkembang di sejarah Indonesia, cerita paling populer kerajaan tersebut terkait penemuan buah Maja yang rasanya pahit saat hutan Tarik (atau Wirasaba) untuk membangun pemukiman baru. Peristiwa ini kemudian menjadi dasar penamaan tempat tersebut sebagai Maja Pait, yang secara harfiah berarti Maja yang pahit.
Catatan Sejarah Runtuhnya Kerajaan Majapahit
Masih dari sumber yang sama, Raffles menuliskan menjelang akhir abad ke-14 penanggalan Jawa, Kekaisaran Majapahit yang agung berada di ambang kehancuran yang telah diramalkan. Pada akhir abad ke-14 penanggalan Jawa, narasi Keruntuhan Kekaisaran Majapahit ini bukan sekadar perang militer, melainkan puncak dari drama keluarga yang melibatkan pengasingan dan dendam masa lalu.
Meskipun raja digambarkan sebagai Prabu Brawijaya yang berbudi luhur, kerajaan ini menghadapi tekanan internal yang luar biasa. Takdir kerajaannya ditentukan oleh konflik yang bermula dari dalam istananya sendiri.
Baca juga: Mengungkap Metode Thomas Stamford Raffles Menulis Buku The History of Java
Awal mulanya, benih kehancuran Majapahit ditanam melalui intrik asmara di istana. Prabu Brawijaya memiliki hubungan dengan seorang Putri Champa. Namun, permaisuri utama yang merupakan seorang Putri Tiongkok, dilanda cemburu. Putri Champa yang sedang mengandung pun kemudian dihadiahkan kepada Aria Damar, penguasa Palembang.
Di Palembang inilah lahir Raden Patah, putra kandung Raja Majapahit yang dibesarkan dalam ajaran Islam. Ketika dewasa, Raden Patah menolak mengakui kedaulatan ayah kandungnya yang masih memeluk agama lama. Ia memilih berlayar kembali ke Jawa, bukan sebagai pangeran, melainkan sebagai pemimpin komunitas baru di Bintara (Demak) yang menentang kekuasaan pusat.
Koalisi Para Wali dan Senjata Pusaka
Konflik pun memanas ketika Raden Patah menghimpun kekuatan dengan dukungan para pemuka agama Islam, atau yang dikenal sebagai para Wali. Meskipun Sunan Ampel awalnya menyarankan kesabaran, setelah wafatnya, para wali lainnya mendesak serangan terbuka terhadap Majapahit yang dianggap kafir.
Baca juga: Prasasti Harinjing Kediri, Bukti Peradaban Kerajaan Mataram Kuno
Persiapan perang ini melibatkan strategi militer dan mistisisme tingkat tinggi. Sunan Giri, salah satu tokoh kunci, memberikan keris pusaka kepada Raden Patah untuk digunakan dalam pertempuran. Koalisi ini menandai pergeseran kekuatan politik yang drastis dari pedalaman Hindu ke pesisir Islam, yang mempercepat Keruntuhan Kekaisaran Majapahit.
Selain itu, Thomas Stamford Raffles juga menggambarkan pertempuran terakhir yang menjatuhkan Majapahit penuh dengan unsur supranatural. Pasukan koalisi Demak tidak hanya mengandalkan pedang, tetapi juga senjata gaib.
Dalam buku ini, Aria Damar dikisahkan mengirimkan sebuah kotak berisi ribuan tikus yang membanjiri pertahanan Majapahit. Sunan Giri, di sisi lain, melepaskan kawanan tawon yang keluar dari sarung kerisnya untuk menyerang musuh. Sementara itu, Sunan Bonang menggunakan tongkat sakti untuk memukul mundur pasukan kerajaan. Menghadapi gempuran yang tidak masuk akal dan mistis ini, pertahanan Majapahit pun jebol.
Baca juga: Seni Ukir dengan Aksara Kuno Menjadi Kekayaan Sejarah Bangsa Indonesia
Pada tahun Jawa 1400, atau sekitar tahun 1475 Masehi, ibu kota yang pernah menjadi kebanggaan Nusantara itu akhirnya jatuh. Raffles mencatat momen tragis ini dengan sengkalan (kronogram) yang berbunyi Sirna ilang kertaning bumi, yang menandakan lenyapnya bentuk dan kejayaan negara.
Sementara itu, Prabu Brawijaya melarikan diri dan sisa-sisa pengikut setianya yang menolak pun menyerah mundur ke pegunungan atau menyeberang ke Bali. Dengan jatuhnya Majapahit, Raden Patah pun naik tahta di Demak. Dengan adanya peristiwa sejarah runtuhnya Kerajaan Majapahit ini, menandai berakhirnya era Hindu-Buddha dan bermulanya dominasi kesultanan Islam di tanah Jawa. (Muhafid/R6/HR-Online)

1 day ago
11

















































