Indonesia terkenal dengan keberagaman budaya salah satunya lewat tradisi Ngarot Indramayu. Tradisi ini mempunyai banyak keunikan tersendiri yang mencerminkan nilai sejarah dan masyarakat setempat. Ngarot merupakan upacara meriah serta penuh makna di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Untuk mengenal lebih dekat seputar tradisi tersebut, berikut ulasan artikel selengkapnya!
Baca Juga: Asal Usul Berokan Indramayu, Kesenian yang Memunculkan ‘Monster Seram’
Tradisi Ngarot Indramayu, Asal-usul Istilah dan Maknanya
Tradisi ini telah ada sejak dulu saat praktik pertanian dimulai. Ini menunjukkan hubungan yang harmonis antar manusia dan juga alam. Selain itu, juga mampu memupuk rasa kebersamaan di lingkup komunitas. Istilah “Ngarot” sendiri diambil dari bahasa Sunda ngarot yang artinya “minum.” Secara artian nilai sejarah, istilah ini berarti menyegarkan diri sebelum mulai bekerja keras untuk bertani.
Upacara Ngarot juga telah eksis sejak abad 16. Maknanya sebagai wujud rasa syukur terhadap hasil panenan petani yang melimpah sekaligus doa bagi kesuksesan lahan pertanian. Budaya ini juga merupakan tradisi merayakan nilai-nilai semangat gotong royong serta rasa syukur di kalangan komunitas petani.
Pelaksanaanya sangat berarti untuk generasi muda karena di dalamnya memuat nilai kerja keras dan penghormatan, serta kebersamaan sosial. Selain itu, tradisi Ngarot Indramayu ini juga menjadi ajang para pemuda untuk mengenal satu sama lain. Mereka bahkan bisa menjalin persahabatan, asmara. Tak heran, banyak orang menyebut acara ini sebagai “festival cinta.”
Prosesi Pelaksanaan Tradisi Ngarot
Rangkaian tradisi Ngarot Indramayu biasanya terselenggara di musim kemarau. Terutama saat para petani mulai mempersiapkan lahan sawah untuk mereka tanami. Tradisi ini kerap dilaksanakan di Desa Lelea Indramayu karena dianggap sebagai pusatnya. Acara mulai dengan pertemuan warga di sebuah balai desa. Pada tahap ini diiringi musik serta tarian tradisional.
Baca Juga: Sejarah Siger Sunda, Mahkota untuk Pengantin Wanita
Kemudian, para pemuda serta pemudi memakai pakaian adat dengan warna cerah. Dalam hal ini, para wanita mengenakan kebaya bermahkota bunga yang menjadi simbol kesucian dan juga kesuburan. Sedangkan, para pria mengenakan batik dan ikat di bagian kepala sebagai wujud simbol kekuatan dan siap bekerja.
Waktu pagi menjadi momen paling berkesan di sepanjang jalan desa tersebut. Sejumlah pengunjung ramai memadati acara. Penampilan muda-mudi dengan aksesoris menawan tersebut diarak di kerumunan banyak orang. Mereka semua bersuka cita dan penuh kebahagiaan.
Sementara itu, iringan musik gamelan serta lengkingan vokal para sinden membuat suasana makin sakral. Terlebih lagi ada penambahan aroma wangi bunga kenanga. Di dalamnya mengandung mitos jika bunga yang menghiasi kepala gadis Ngarot itu nantinya bakalan layu apabila yang mengenakan tidak gadis. Terutama saat ikut proses ritual Ngarot dan doa sedang berlangsung.
Mengalami Tantangan di Era Urbanisasi
Di era urbanisasi dan juga modernisasi makin pesat saat ini, tradisi Ngarot Indramayu menghadapi tantangan besar untuk menjaga keasliannya. Kendati demikian, masyarakat lokal senantiasa berupaya untuk melaksanakan pelestarian budaya. Tentunya dengan bantuan sinergi dari pemerintah.
Hal ini otomatis membuat perayaan tahunan ini selalu menjadi daya tarik para wisatawan. Keberadaannya sukses menjadi ajang untuk memperkenalkan budaya kepada khalayak luas serta memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal. Selain itu. Ngarot tidak hanya sekedar acara budaya saja, namun juga mengandung nilai syukur, rasa kebersamaan, dan penghormatan pada alam.
Warisan Budaya yang Patut Dilestarikan
Tradisi ini mengingatkan betapa pentingnya seseorang melestarikan warisan budaya. Budaya di wilayah Indramayu ini sekaligus jadi cerminan kekayaan kebudayaan Tanah Air. Lewat ritual dan perayaan ini, maka otomatis terus menginspirasi serta mampu menyatukan semua elemen masyarakat.
Sekedar informasi, tradisi Ngarot setiap tahunnya diikuti sekitar 120 peserta. Sejumlah 70 orang merupakan gadis setempat dan 50 pemuda. Konon, tradisi ini juga menjadi simbol mulai menanam padi di sawah sejak abad ke 16 menuju 17 awal. Eksistensinya kini menjadi warisan budaya yang harus senantiasa lestari.
Baca Juga: Tradisi Nenjrag Bumi Sunda Wujud Syukur Kelahiran Bayi di Jawa Barat
Ketika menghadapi era modern saat ini, tradisi Ngarot Indramayu mengingatkan masyarakat terkait akar budaya serta nilai sebuah komunitas. Apabila memiliki kesempatan berkunjung ke Jawa Barat untuk menyaksikan upacara tradisi Ngarot Indramayu, maka hal ini menjadi sebuah kesempatan emas. Pasalnya, tradisi tersebut memberikan pengalaman berkesan soal gambaran mendalam kekayaan budaya Tanah Air. (R10/HR-Online)

2 hours ago
2

















































