Menilik Sejarah Situs Pasir Cabe Banjar, Tempat Syiar Islam dan Ketenangan Jiwa

1 week ago 25

harapanrakyat.com,- Situs Pasir Cabe di Dusun Sukaharja, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat, menyimpan nilai sejarah religi yang mendalam. Tempat tersebut diyakini sebagai petilasan atau tempat singgah Kiai Hasan dan Husein, seorang tokoh penyiar agama Islam di masa lampau.

Di dalam kawasan Situs terdapat sejumlah batu yang diyakini sebagai panyawangan atau tempat duduk yang digunakan Kiai Hasan dan Husen. Terdapat beberapa titik batu yang diyakini sebagai panyawangan atau tempat duduk, konon dulunya digunakan untuk beristirahat dan mengamati wilayah sekitar oleh Hasan dan Husen.

Baca Juga: Situs Buyut Banjar Indramayu, Kisah 41 Prajurit Monyet Kutukan

Juru Kunci Situs Pasir Cabe, Iming, mengungkapkan tempat tersebut bukan sekadar area perbukitan biasa, melainkan titik penting dalam perjalanan syiar Islam.

Menurutnya, Hasan dan Husen menggunakan lokasi tersebut sebagai tempat niis (menenangkan diri) dan kontemplasi sekaligus panyawangan atau tempat memantau wilayah sekitar.

“Ini adalah petilasan Kiai Hasan dan Husen. Tempat singgah, tempat niis dalam istilah Sunda dan tempat beliau menyebarkan agama Islam pada masanya,” ujar Iming kepada wartawan, Jumat (16/01/2026).

Menurut Iming, nama “Pasir Cabe” yang dikenal masyarakat saat ini sebenarnya memiliki sejarah tersendiri. Ia menyebut bahwa identitas asli tempat tersebut sempat disembunyikan karena alasan tertentu di masa lalu.

Baca Juga: Situs Air Cikahuripan di Banjar Konon Punya Kekuatan Magis

“Yang terkenal sekarang itu Pasir Cabe. Namun sebenarnya ada sejarahnya, nama aslinya bukan itu, cuman disembunyikan dulu. Kedepannya, saya akan buka dan ceritakan lebih detail sejarah aslinya,” tambahnya.

Situs Pasir Cabe Tempat Mencari Ketenangan Batin

Situs Pasir Cabe kerap didatangi warga yang ingin berziarah atau sekadar mencari ketenangan batin di tengah himpitan permasalahan hidup yang dihadapinya.

Dalam istilah Sunda, tempat ini juga disebut sebagai panyawangan, yakni lokasi untuk memantau atau melihat wilayah sekitar. Tempat tersebut juga dikenal memberikan suasana yang menenangkan secara batiniah.

“Orang sering datang ke sini karena suasananya tiis (tenang). Jadi, kalau ada yang sedang punya masalah, datang ke sini katanya merasa lebih tenang atau dingin pikirannya,” kata Iming.

Baca Juga: 28 Situs Cagar Budaya Tersebar di Kota Banjar, Berikut Daftarnya

Meski mulai dikenal, pihak pengelola atau juru kunci sangat menjaga ketat akses ke area inti Situs. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesucian dan kebersihan tempat yang dianggap keramat tersebut.

Iming menegaskan bahwa pengunjung tidak boleh sembarangan masuk tanpa tujuan yang jelas.

“Banyak yang datang, tapi tidak semua diperbolehkan masuk ke area tertentu. Namanya tempat keramat harus dipelihara, jangan sampai dirusak. Ini adalah tempat penyebar agama, jadi harus bersih dan terjaga,” tegasnya. (Muhlisin/R9/HR-Online/Editor-Dadang)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |