harapanrakyat.com,- Mempelajari sejarah Candi Srikandi membawa kita pada jejak peradaban Mataram Kuno di Dataran Tinggi Dieng. Bangunan bersejarah ini terletak tepat di antara Candi Arjuna dan Candi Puntadewa di Banjarnegara. Oleh karena itu, eksistensi situs budaya kuno ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Kelompok Candi Arjuna.
Pemerintah pada masa lalu membangun mahakarya ini sebagai tempat penyembahan suci umat Hindu. Masyarakat Jawa Kuno mendirikan struktur kubus ini pada abad kedelapan hingga awal abad kesembilan Masehi. Raja-raja dari Wangsa Sanjaya merintis pembangunan kawasan percandian tersebut dengan sangat teliti.
Baca juga: Candi Kedaton Jambi, Situs Percandian Hindu-Buddha Terluas di Asia Tenggara
Sementara itu, bentuk denah candi ini bujur sangkar dengan ukuran tepat tiga koma delapan meter. Struktur batur candi tidak memiliki hiasan sama sekali agar terlihat lebih sederhana. Bagian depan candi posisinya agak menjorok ke luar yang berfungsi sebagai pintu masuk utama.
Pada bagian pintu masuk candi kondisinya sudah rusak parah akibat zaman. Namun, pengunjung masih dapat melihat sisa ambang pintu atas dan juga bawahnya. Sayangnya, bagian atap candi saat ini sudah hancur termakan usia yang sangat panjang.
Mengungkap Sejarah Candi Srikandi Melalui Relief Trimurti
Keistimewaan utama dalam peninggalan purbakala ini terletak pada pahatan relief Trimurti yang menghiasi dinding luarnya. Pengunjung dapat melihat ukiran Dewa Wisnu, Dewa Siwa, dan Dewa Brahma secara terpisah pada setiap sisi. Relief Dewa Wisnu terpahat dengan sangat indah pada dinding bagian utara bangunan.
Selanjutnya, ukiran Dewa Siwa menempati dinding sisi timur candi bersejarah tersebut. Terakhir, relief Dewa Brahma terlihat cukup jelas pada dinding sisi selatan bangunan. Kondisi relief tersebut saat ini memang sudah mengalami kerusakan akibat faktor usia dan cuaca.
Biarpun begitu, keberadaan relief dewa utama Hindu ini tetap menyimpan makna filosofis tinggi. Penggambaran dewa-dewa Trimurti ini menjadikan bangunan tersebut sangat unik di kawasan percandian Dieng.
Baca juga: Candi Gedong dalam Buku History of Java, Terkubur di Bawah Pohon Beringin Blitar
Faktanya, tidak ada candi lain di kompleks tersebut yang memiliki pahatan dewa Hindu serinci ini. Selain itu, para ahli memperkirakan candi Hindu beraliran Syiwa ini merupakan salah satu peninggalan tertua. Pembangunannya benar-benar sangat memperhatikan nilai-nilai spiritual yang luhur bagi masyarakat kala itu.
Alhasil, monumen purbakala ini selalu memikat perhatian banyak wisatawan maupun para ahli arkeologi dari penjuru dunia. Setiap pahatan batu kuno menyimpan cerita masa lalu yang menanti untuk kita pelajari bersama. Kita dapat membayangkan betapa hebatnya peradaban arsitektur pada masa Kerajaan Mataram Kuno tersebut.
Fakta Pemugaran Candi Srikandi
Proses perbaikan monumen purbakala ini terus berjalan dengan sangat baik hingga kini. Kita dapat belajar banyak dari sejarah Candi Srikandi tersebut melalui proses pemugarannya.
Pemerintah terus berupaya menjaga kelestarian cagar budaya ini agar tidak hilang ditelan oleh zaman. Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah secara aktif melakukan rehabilitasi menyeluruh terhadap reruntuhan bangunan. Proses rehabilitasi ini bertujuan kuat untuk mengembalikan kondisi candi seperti bentuk aslinya di masa lalu. Mereka menyusun kembali batu-batu andesit yang terpecah dengan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi.
Langkah perbaikan ini dinilai sangat penting mengingat status candi sebagai warisan leluhur nusantara. Bahkan, sebagian pahatan candi yang tadinya rusak kini mulai terlihat lagi bentuk aslinya berkat pemugaran. Hal ini menjadi angin segar bagi upaya pelestarian sejarah Indonesia.
Kawasan Dataran Tinggi Dieng sendiri saat ini telah menyandang status sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Oleh sebab itu, pelestarian peninggalan sejarah di wilayah ini mendapatkan prioritas yang sangat tinggi dari negara. Masyarakat lokal juga ikut berperan merawat lingkungan agar kawasan situs tetap bersih dan nyaman. Mereka menyadari betul bahwa pesona sejarah dan budaya ini membawa dampak positif bagi perekonomian warga.
Baca juga: Sejarah Candi Gatotkaca, Peninggalan Abad Kedelapan di Dataran Tinggi Dieng
Tentunya, keindahan alam pegunungan dan kekayaan budaya harus selalu berjalan secara beriringan dan seimbang. Wisatawan yang datang berkunjung wajib mematuhi aturan perlindungan agar struktur bangunan kuno tetap utuh selamanya. Sinergi yang sangat baik ini akan senantiasa menjamin keberlanjutan sektor pariwisata sejarah.
Menjaga kelestarian sejarah Candi Srikandi adalah kewajiban moral bagi kita semua rakyat Indonesia. Generasi muda harus menumbuhkan rasa peduli terhadap mahakarya nenek moyang ini.
Kesimpulannya, eksistensi peninggalan Wangsa Sanjaya ini teramat berharga bagi kekuatan identitas bangsa Indonesia. Keunikan gaya arsitektur dan pesona relief Trimurti memberikan wawasan mendalam tentang kejayaan peradaban masa lampau. Kita semua memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk terus mendukung program pelestarian monumen bersejarah ini.
Pariwisata yang terus berkembang pesat di Dieng sungguh tidak boleh merusak tatanan cagar budaya setempat. Memahami sejarah Candi Srikandi secara utuh akan memupuk rasa bangga terhadap besarnya kekayaan bumi nusantara. Pastinya, pesona mahakarya klasik peninggalan abad kedelapan ini akan terus bersinar abadi melintasi segala zaman. (Muhafid/R6/HR-Online)

4 hours ago
7

















































