Sejarah Pesantren Gentur Cianjur menyimpan peranan penting dalam dunia pendidikan agama Islam. Sejak awal berdirinya, pondok pesantren ini telah menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan spiritual bagi masyarakat sekitar. Tradisi dan keilmuan yang diajarkan berakar kuat hingga jadi pedoman penting bagi masyarakat.
Baca Juga: Sejarah Pesantren Sukamiskin, Ponpes Tertua di Bandung
Seiring perkembangan zaman, Pondok Pesantren Gentur terus menghasilkan generasi yang unggul dalam ilmu agama. Keberhasilan pendidikan ini tak lepas dari sosok pendirinya, yakni KH. Ahmad Syathibi bin Muhammad Sa’id Al-Qonturi atau Mama Gentur. Ia adalah ulama besar yang sangat dihormati dengan gelar Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-Kamil Al-Wara`.
Sejarah dan Latar Belakang Pesantren
Pondok Pesantren Gentur terkenal luas dengan nama Darul Falah. Bangunan ini berdiri di tengah indahnya pesona alam Cianjur, Jawa Barat. Sosok pendirinya adalah Mama Gentur, ulama yang lahir di Kampung Gentur, Kec. Warungkondang, Kab. Cianjur, Jawa Barat.
Pada masa berdirinya, pesantren Gentur berfokus untuk memberikan pengajaran Islam dengan pengembangan akhlak yang baik. Lembaga pendidikan Islam ini terus menekankan akan pentingnya pembelajaran spiritual di lingkungan yang kondusif.
Dalam sejarahnya, Pesantren Gentur tidak hanya terkenal karena sistem pendidikan agamanya yang kuat. Namun, lembaga ini juga terkenal dengan karomah dari para pengajarnya. Salah satu sosok pengajarnya adalah Mama Aang Nuh Gentur. Ia dianggap sebagai salah satu ulama yang membanggakan di Tanah Pasundan.
Seiring berjalannya waktu, Pondok Pesantren Gentur tercatat memberikan kontribusi besar dalam pendidikan Islam. Lembaga ini membawa peran penting dalam mempertahankan tradisi intelektual Islam, khususnya di wilayah tersebut. Dedikasi keilmuan serta spiritualitas yang berlangsung menjadikan sejarah Pesantren Gentur Cianjur sebagai simbol kearifan lokal sekaligus kebanggaan masyarakat Cianjur.
Riwayat Hidup Mama Gentur
Sebenarnya, tak ada yang tahu pasti bulan dan tahun kelahiran KH. Ahmad Syathibi bin Muhammad Sa’id Al-Qonturi atau Mama Gentur. Beliau adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya adalah Mama H. Muhammad Sa’id, sementara ibunya Ibu Hj. Siti Khodijah.
Baca Juga: Sejarah Resolusi Jihad, Gugah Semangat Ulama Lawan Penjajah
Ketika kecil, Mama Gentur memiliki sapaan Adun. Setelah pulang kembali dari Mekkah, namanya berganti menjadi Dagustani. Hingga akhirnya, gelarnya menjadi KH. Ahmad Syathibi atau Mama Gentur, sapaan khas dari anak muridnya. Setelah berdedikasi memajukan pesantren, Mama Gentur akhirnya meninggal pada Rabu, 14 Jumadil Akhir 1365 Hijriyah atau sekitar tanggal 15 Mei 1946 di Cianjur.
Sebagai informasi, ketiga saudara Mama Gentur merupakan sosok yang berjasa dalam perkembangan agama Islam. Di antaranya adalah sebagai berikut.
- Hj Ruqiyah: Seorang Pengajar di Ponpes Cipadang Cianjur.
- Mama H. Yahya alias Mama H. Ilyas: Pengajar Ponpes Babakan Bandung di Sukaraja, Sukabumi.
- Mama Gentur Kidul alias Mama H. Muhammad Qurthubi: Pengajar Ponpes Gentur, Warungkondang, Cianjur.
Pendidikan Mama Gentur
Sebelum menjadi tokoh sejarah Pesantren Gentur Cianjur, Mama Gentur lebih dulu mengembara ke Pesantren Kresek. Ia menginap di Kresek, kemudian diantarkan ke Pesantren Bojong. Setelah tiba, Mama Gentur menjalani sumpah bahwa ia tidak memiliki ilmu sihir.
Setelah resmi menjadi murid, ia menjalani hidup sederhana dengan makan sambal roay dan talas. Selama 40 hari, ia berhasil menghafal kitab penting dalam ilmu agama. Mama Gentur juga berhasil menyelesaikan pendidikannya hanya dalam waktu satu tahun. Padahal, santri lainnya butuh waktu dua tahun untuk menyelesaikan pendidikan.
Suatu ketika, Kyai Rusdi, santri senior di Pesantren Bojong meminta Mama Gentur untuk menemaninya belajar di Pesantren Gudang yang berada di Tasikmalaya. Di sana, Mama Gentur menetap sekitar 9 tahun. Selama di pesantren Gudang, Mama Gentur banyak berziarah ke Geger Manah.
Berlanjut, Mama Gentur memulai perjalanan ke Mekkah dengan bimbingan Syekh Hasbullah. Awalnya, Syekh Hasbullah meremehkan kemampuan Mama Gentur. Namun, ia sangat kagum setelah tahu bahwa Mama Gentur memiliki pemahaman kitab Tuhfatul Muhtaj yang baik. Setelah belajar selama tiga tahun di Mekkah, Mama Gentur diminta kembali ke Cianjur dan menjadi pemimpin di sana.
Baca Juga: Sejarah Pesantren di Jawa Barat Tahun 1800-1900, Basis Pendidikan Islam yang Ditakuti Belanda
Sejarah Pesantren Gentur Cianjur tak lepas dari peran Mama Gentur sebagai sosok pendiri yang disegani. Sejarah Pesantren Gentur Cianjur yang begitu melegenda ini membawa peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat. Nilai keilmuan, keteladanan akhlak dan perjuangan dakwah yang diwariskan akan terus menjadi pedoman bagi generasi penerusnya. (R10/HR-Online)

2 hours ago
3

















































