Sejarah Candi Kalasan dan Teknologi Kuno Vajralepa yang Membuat Ukiran Awet Berabad-abad

1 day ago 12

harapanrakyat.com,- Sejarah Candi Kalasan sering luput dari perhatian, terutama wisatawan yang hanya terpukau pada kemegahan Borobudur atau Prambanan saat berkunjung ke Yogyakarta. Padahal, situs yang berlokasi di tepi jalan raya Jogja-Solo ini menyimpan sejarah Indonesia yang mengejutkan, yakni sebagai candi Buddha tertua.

Situs budaya ini tampak sederhana dari luar, namun di balik dinding batunya, tersimpan kronik panjang tentang awal mula kejayaan Wangsa Syailendra dan rahasia teknologi yang mendahului zamannya.

Sejarah Candi Kalasan Lebih Tua dari Prambanan

Prasasti Kalasan mencatat dengan jelas bahwa candi ini selesai dibangun pada tahun 778 Masehi atau pertengahan abad kedelapan. Fakta ini secara otomatis menempatkan Candi Kalasan sebagai bangunan Buddha tertua di Yogyakarta, lebih tua setengah abad dibandingkan Candi Prambanan.

Keberadaannya menjadi penanda penting babak awal dominasi arsitektur jenius dari Wangsa Syailendra di wilayah Kerajaan Mataram Kuno. Kalasan adalah babak pembuka atau purwarupa dari kemampuan para arsitek kuno sebelum mereka menciptakan mahakarya kolosal Candi Borobudur beberapa dekade kemudian.

Baca juga: Fakta Sejarah Nabi Muhammad Hidup Sezaman dengan Kerajaan Tarumanegara

Sementara itu, pembangunan candi ini diprakarsai oleh Maharaja Tejapurnapana Panangkaran atau Rakai Panangkaran. Ia adalah seorang raja yang memerintah di persimpangan dua dinasti besar. Meskipun ia berasal dari Wangsa Sanjaya yang bercorak Hindu, ia dengan tulus membangun tempat suci ini untuk menghormati ajaran Buddha.

Atas saran para penasihat keagamaan, sang raja mendirikan bangunan ini untuk memuliakan Bodhisattva wanita bernama Dewi Tara sekaligus sebagai vihara bagi para biksu. Candi ini menjadi simbol toleransi dan pengikat perkawinan politik antara dua keluarga kerajaan yang berbeda keyakinan pada masa itu.

Rahasia Teknologi Kuno Vajralepa

Keindahan ukiran Candi Kalasan yang masih awet dan halus hingga detik ini ternyata berkat lapisan pelindung kuno bernama Vajralepa. Ini bukanlah plesteran semen biasa, melainkan formula kedap air dari abad kedelapan yang terbuat dari campuran getah pohon dan bahan alami lainnya.

Inovasi teknologi kuno ini berfungsi layaknya laminasi alami yang memperhalus detail pahatan batu andesit agar tampak sempurna. Selain itu, lapisan ini efektif melindungi pori-pori batu dari serangan lumut dan jamur perusak selama lebih dari seribu tahun lamanya.

Baca juga: Sejarah Candi Pawon yang Menyimpan Misteri Tempat Pembakaran Jenazah Raja Indra

Di sisi lain, saat memasuki ruang utama candi, pengunjung akan merasakan kekosongan ruangan yang megah, tanpa objek pemujaan utama. Para ahli meyakini bahwa di sinilah dulunya berdiri sebuah arca Dewi Tara, kolosal setinggi enam meter yang terbuat dari bahan perunggu.

Hilangnya arca raksasa tersebut menyisakan misteri besar mengenai ke mana perginya logam berharga itu dan bagaimana cara memindahkannya. Kita hanya bisa membayangkan betapa memukaunya pantulan cahaya di ruangan ini ketika sang dewi perunggu masih bertahta anggun di singgasananya.

Warisan Candi Kalasan di Budaya Populer

Warisan sejarah ini ternyata tidak hanya hidup di buku teks, tetapi juga diabadikan dalam budaya populer era digital modern. Candi Kalasan dipilih sebagai bangunan keajaiban atau Wonder untuk peradaban Melayu dalam game strategi legendaris Age of Empires II: Rise of Rajas tahun 2016 silam.

Baca juga: Sejarah Candi Mendut, Permata Tersembunyi yang Lebih Tua dari Borobudur

Jutaan pemain strategi di seluruh dunia kini membangun replika digital candi ini sebagai syarat untuk meraih kemenangan dalam permainan mereka. Hal ini membuktikan bahwa pesona arsitektur Nusantara mampu melintasi batas waktu dan media untuk diceritakan kembali kepada generasi baru.

Candi Kalasan bukan sekadar tumpukan batu mati, melainkan bukti hidup toleransi dan inovasi teknologi nenek moyang orang Indonesia yang luar biasa. Memahami sejarah Candi Kalasan membuka mata kita bahwa peninggalan berharga seringkali tersembunyi dalam keheningan yang tidak bersuara paling keras. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |