harapanrakyat.com,- Sejarah Candi Prambanan sangat menarik untuk kita pelajari. Apalagi ketika Anda mendengar nama candi yang satu ini, pikiran kita langsung tertuju pada arsitektur Hindu kuno yang megah. Termasuk juga kisah abadi Roro Jonggrang yang dikutuk menjadi arca ke-1.000.
Dikutip dari berbagai sumber sejarah Indonesia, ada beberapa fakta menarik untuk membuka tabir baru mengenai mahakarya tersebut. Di balik citra populer dan dongeng rakyat yang mendarah daging, terdapat lapisan-lapisan kisah yang jauh lebih mengejutkan.
Fakta Sejarah Candi Prambanan
Masyarakat luas mengenal nama “Prambanan”, tetapi hanya sedikit yang mengetahui bahwa nama tersebut bukan nama asli yang para pembangun berikan. Berdasarkan bukti paling otentik, yaitu Prasasti Siwagrha yang bertarikh 856 Masehi, mereka menamai kompleks candi megah ini sebagai Siwagrha.
Baca juga: Sejarah Candi Sambisari, Ditemukan Petani yang Sedang Mencangkul setelah Tertimbun Berabad-abad
Dalam bahasa Sanskerta, nama ini mempunyai makna yang kuat dan jelas: ‘Rumah Siwa’. Nama ini langsung menunjukkan bahwa para pendiri candi bertujuan menjadikannya pusat pemujaan tertinggi untuk Dewa Siwa.
Lantas, dari mana nama “Prambanan” muncul? Sejumlah pakar mencoba menerangkan asal-usulnya. Teori pertama menyebutkan bahwa “Prambanan” merupakan perubahan dialek dari frasa Hindu Para Brahman, yang memiliki arti “Brahman Agung”.
Sementara itu, teori lain menghubungkannya dengan akar kata bahasa Jawa, mban, yang bermakna “memikul tugas”. Ini merujuk pada kewajiban suci para dewa dalam menjaga keselarasan alam semesta.
Mengetahui nama aslinya, Siwagrha, bukan sekadar fakta kecil dalam sejarah. Ini merupakan upaya mengembalikan hakikat, yang mengalihkan fokus kita dari sekadar monumen besar menjadi sebuah rumah sakral yang hidup. Para pendiri mendedikasikan rumah suci ini sepenuhnya untuk kemuliaan Sang Mahadewa.
Dibangun untuk Tandingan Politis Candi Borobudur
Sementara itu, Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu memulai pembangunan Candi Prambanan sekitar tahun 850 Masehi. Proyek ini bukan hanya sekadar proyek keagamaan. Banyak sejarawan meyakini bahwa Wangsa Sanjaya memberikan respons politis dan simbolis yang kuat terhadap Candi Borobudur, dan terutama Candi Sewu (candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur), yang merupakan mahakarya Wangsa Sailendra yang beragama Buddha. Pembangunan ini bukan hanya bertujuan mendirikan tempat ibadah, melainkan mengeluarkan pernyataan kekuasaan yang tegas.
Pendirian Siwagrha menandai kembalinya Wangsa Sanjaya sebagai penguasa dominan di Jawa setelah Wangsa Sailendra memiliki periode pengaruh yang kuat. Proyek raksasa ini juga menunjukkan adanya pergeseran dukungan keagamaan kerajaan. Mereka beralih dari Buddha Mahayana, yang sebelumnya mendapat dukungan dari Sailendra, kembali ke Hindu aliran Saiwa.
Oleh karena itu, setiap jengkal kemegahan Prambanan tidak hanya memuja Dewa Siwa, tetapi turut mengukuhkan legitimasi Wangsa Sanjaya di atas warisan monumental Wangsa Sailendra.
Kemudian, Prasasti Siwagrha mengungkap salah satu fakta paling mencengangkan tentang Prambanan, yakni para penguasa Mataram Kuno melakukan proyek rekayasa sipil berskala masif demi pembangunan candi ini. Para insinyur kuno pada abad ke-9 telah melaksanakan tindakan luar biasa, yakni membelokkan aliran sungai yang besar.
Prasasti tersebut mencatat bahwa mereka memindahkan aliran Sungai Opak. Sungai ini awalnya melengkung ke arah timur dan mengalir terlalu dekat dengan lokasi candi. Tujuannya ada dua: pertama, melindungi fondasi candi dari ancaman erosi.
Baca juga: Makam Keramat Mundu Cirebon, Napak Tilas Dakwah Islam di Tanah Pasundan
Kedua, dengan menimbun bekas aliran air sungai, mereka memperoleh lahan yang jauh lebih luas. Ketersediaan lahan baru inilah yang memungkinkan realisasi visi ambisius membangun 224 candi perwara. Skala sebesar ini tidak mungkin tercapai di lahan aslinya.
Fakta ini menjadi bukti bisu. Bagi para penguasa saat itu, Siwagrha bukan sekadar candi, melainkan pertaruhan warisan peradaban yang layak menggeser aliran air sungai.
Legenda Roro Jonggrang Bukanlah Sejarah Aslinya
Kisah Bandung Bondowoso yang harus membangun 1.000 candi dalam satu malam untuk menikahi Roro Jonggrang merupakan cerita yang paling masyarakat kaitkan dengan Prambanan. Namun, kita perlu memahami bahwa kisah dramatis ini hanyalah sebuah dongeng atau legenda rakyat, bukan catatan yang bersifat sejarah.
Masyarakat lokal menciptakan legenda ini berabad-abad setelah kompleks candi ditinggalkan dan mulai mengalami keruntuhan. Karena tidak mengetahui sejarah tersembunyi Prambanan yang sesungguhnya, mereka menciptakan cerita imajinatif. Cerita ini bertujuan menjelaskan asal-usul ratusan reruntuhan candi yang terlihat misterius dan megah.
Legenda tersebut secara spesifik terhubung dengan arca dewi Durga Mahisasuramardini yang berada di ruang utara Candi Siwa. Masyarakat mempercayai arca tersebut sebagai perwujudan Roro Jonggrang yang dikutuk guna menggenapi candi ke-1.000 yang kurang.
Kenyataannya, Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Kuno membangun Candi Prambanan. Meskipun bukan fakta sejarah, legenda Roro Jonggrang telah memperkaya warisan budaya Prambanan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas dan daya tarik candi hingga hari ini.
Sebagian Besar Kompleks Candi Telah Hilang
Pemandangan Prambanan hari ini, dengan candi-candi utama yang menjulang tinggi, sudah terasa sangat mengagumkan. Tetapi, coba bayangkan jika pemandangan tersebut dikelilingi oleh ratusan candi lain. Fakta mengejutkan mengungkap bahwa kompleks Candi Prambanan awalnya terdiri dari total 240 candi.
Baca juga: Candi Bojongmenje Bandung, Warisan Tertua Sejak Abad 6 Masehi
Zona inti yang paling suci sejatinya tidak hanya memuat delapan candi, melainkan 16 bangunan terperinci: 3 Candi Trimurti (Siwa, Wisnu, Brahma), 3 Candi Wahana (Nandi, Garuda, Angsa) di hadapannya, 2 Candi Apit, 4 Candi Kelir di penjuru mata angin, dan 4 Candi Patok di setiap sudut. Di bagian luarnya, kompleks ini dikelilingi oleh 224 Candi Perwara (candi pengawal) yang tersusun rapi dalam empat baris konsentris.
Mengapa Balai Pelestarian Cagar Budaya tidak membangun kembali candi-candi perwara ini? Aturan restorasi purbakala sangat ketat, mereka hanya dapat memugar sebuah candi jika minimal 75 persen batu aslinya masih ada dan ditemukan.
Karena banyak batu asli yang hilang atau hancur, sebagian besar dari 224 Candi Perwara itu kini hanya menyisakan fondasinya. Ini memberikan gambaran betapa jauh lebih luas visi awal para pembangunnya, sekaligus pengingat tentang betapa besar kerusakan yang mahakarya ini alami.
Dari sejarah Candi Prambanan ini, bangunan tersebut bukanlah sekadar tumpukan batu kuno yang indah atau latar belakang dari sebuah legenda di Indonesia. Candi ini merupakan arsip raksasa yang menyimpan banyak lapisan cerita, mulai dari ambisi politik antar dinasti, kejeniusan rekayasa sipil yang melampaui zamannya, pergeseran keyakinan, hingga perubahan zaman yang tak terelakkan. (Muhafid/R6/HR-Online)

2 hours ago
3

















































