harapanrakyat.com,- Sejarah kembang api tidak terlepas dari perjalanan panjang ribuan tahun lalu. Di tengah kemeriahan pesta cahaya di berbagai momen, seperti tahun baru ternyata hal menarik yang perlu kita ketahui.
Di balik keindahan kembang api versi modern yang saat ini bisa kita nikmati, ternyata tersimpan cerita panjang sejarah dunia yang membentang lebih dari 2.000 tahun. Tentu saja ini adalah sebuah perjalanan yang jauh lebih mengejutkan dari yang kita duga.
Sejarah Awal Kembang Api
Jauh sebelum bubuk mesiu ditemukan, kembang api yang pertama sama sekali tidak mengandung bahan kimia. Berawal dari Tiongkok kuno sekitar abad ke-2 SM, pada era Dinasti Han.
Baca juga: Karya Ajip Rosidi, Sastrawan Majalengka Penting di Indonesia
Masyarakat pada masa itu biasa melemparkan batang bambu ke dalam bara api. Panas yang hebat itu kemudian menyebabkan udara yang terperangkap di dalam ruas-ruas bambu mengembang dengan cepat, lalu meledak dengan suara keras dan mengejutkan.
Mereka menyebut praktik ini sebagai Baozhu, yang secara harfiah berarti “bambu yang meledak”. Tujuannya bukan semata untuk hiburan visual, melainkan memiliki tujuan spiritual.
Masyarakat Tiongkok kuno percaya, suara ledakan yang keras itu dapat menakut-nakuti serta mengusir roh jahat, khususnya saat mereka menyambut datangnya tahun yang baru. Fenomena alam yang sederhana ini meletakkan fondasi bagi tradisi global yang kita saksikan hari ini.
Selain itu, lompatan terbesar dalam kembang api ini ternyata datang bukan dari seorang insinyur atau ahli militer. Namun ide ini datang dari laboratorium alkemis yang terobsesi mencari keabadian.
Sekitar tahun 800 Masehi, saat Dinasti Tang berkuasa di Tiongkok, para ahli kimia mencampurkan kalium nitrat, belerang (sulfur), dan juga arang. Tujuan utama mereka bukanlah menciptakan bahan peledak. Sebaliknya, mereka berusaha menemukan resep ramuan kehidupan kekal.
Namun, di tengah penelitian itu, mereka justru menciptakan salah satu penemuan paling berpengaruh dalam sejarah alih-alih menemukan keabadian. Setelah menyadari campuran itu dapat menghasilkan ledakan, mereka mulai memasukkannya ke dalam tabung bambu atau gulungan kertas.
Penemuan ini pun kemudian menjadi cikal bakal petasan dan kembang api modern, yang mengubah tradisi dari sekadar ledakan bambu menjadi ledakan kimia yang lebih terkontrol dan kuat.
Hampir Seribu Tahun Tanpa Warna-Warni Cerah
Meskipun para alkemis telah membuka kotak Pandora berisi ledakan kimia, para penerus mereka masih membutuhkan waktu hampir seribu tahun lagi untuk benar-benar melukis langit.
Baca juga: Patung Tertinggi di Dunia dari India Hingga Myanmar
Bayangkan saja, selama hampir satu milenium, pertunjukan kembang api itu sunyi dari warna. Tidak ada biru safir atau merah delima yang kita kenal sekarang. Mengapa hal ini terjadi?
Kembang api awal hanya menghasilkan suara dentuman keras serta percikan cahaya sederhana berwarna oranye atau perak. Meskipun demikian, pertunjukan itu terasa begitu ajaib bagi para pedagang Arab dan Suriah yang pertama kali menyaksikannya, hingga mereka menyebutnya ‘bunga Tiongkok’ (Chinese flowers).
Lalu, terobosan besar baru terjadi pada tahun 1830-an. Para ahli kimia di Italia akhirnya menyempurnakan teknik penambahan berbagai logam dan bahan kimia ke dalam bubuk mesiu, demi menghasilkan warna-warna yang cemerlang. Mereka menemukan bahwa stronsium menghasilkan warna merah. Kemudian barium menghasilkan warna hijau, tembaga menghasilkan warna biru dan natrium menghasilkan warna kuning. Sejak saat itulah langit malam bisa dilukis dengan palet warna yang memukau seperti yang kita kenal saat ini.
Hiburan Para Raja, Bukan Pesta Rakyat
Sementara itu, penjelajah legendaris Marco Polo membawa teknologi kembang api dari Tiongkok ke Italia pada akhir abad ketigabelas. Namun, pertunjukan ini tidak langsung menjadi hiburan bagi semua orang. Selama berabad-abad, kembang api adalah tontonan yang sangat mahal, rumit, dan eksklusif, hanya dinikmati oleh keluarga kerajaan dan kaum super-elit.
Pertunjukan ini menjadi simbol kekuasaan dan kemegahan. Inggris mencatat salah satu yang pertama kali terjadi di Eropa, yakni pada pernikahan Raja Henry VII tahun 1486. Ratu Elizabeth I juga sangat menyukainya hingga ia menciptakan posisi khusus di istananya yang disebut “Master Kembang Api”.
Meski begitu, bagi rakyat jelata, pemandangan ini bisa sangat menakutkan. Kombinasi suara, api, dan ledakan yang kacau membuat sebagian orang mengira bahwa kiamat telah tiba, dan bahwa langit sedang runtuh ke bumi.
Baru pada abad kesembilan belas, ketika produksi massal dimulai, kembang api menjadi lebih terjangkau dan aman. Dari gambaran sejarah kembang api tersebut, menjadi ilmu pengetahuan baru bagi kita, apalagi ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perayaan publik, seperti malam Tahun Baru. (Muhafid/R6/HR-Online)

3 hours ago
3

















































