Sejarah Wayang Potehi dan Akulturasi Budaya Tionghoa di Indonesia

3 hours ago 7

Sejarah wayang potehi menjadi salah satu bukti panjangnya interaksi budaya Tionghoa dengan masyarakat Nusantara. Wayang ini tidak hanya dikenal sebagai kesenian tradisional, tetapi juga merepresentasikan sejarah akulturasi selama berabad-abad. Hingga saat ini, potehi masih lestari di sejumlah daerah, terutama Jawa, meskipun jumlah pementasannya tidak sebanyak dulu.

Baca Juga: Sejarah Wayang Gedog, Berkembang dari Masa Kerajaan, Dakwah Islam hingga Era Modern

Sejarah Wayang Potehi dari Tiongkok hingga Indonesia

Wayang potehi dulunya berasal dari tradisi masyarakat Tionghoa bagian selatan. Sebutan “potehi” berasal dari tiga kata, yaitu “pou” atau kain, “te” alias kantong, dan “hi” artinya pertunjukan wayang. Nama tersebut menggambarkan bentuk boneka yang menyerupai kantong kain serta dimainkan menggunakan tangan.

Menurut berbagai catatan sejarah, kesenian ini sudah populer sejak masa Dinasti Jin pada tahun 265–420 Masehi. Popularitasnya kemudian meningkat pada era Dinasti Song antara tahun 960–1279. Dalam pertunjukannya, boneka bergerak melalui perantara lima jari tangan sang dalang. Tiga jari bagian tengah mengendalikan kepala tokoh. Sisanya ibu jari dan jari kelingking menggerakkan kedua tangan boneka.

Selain catatan sejarah, potehi juga memiliki kisah legenda menarik. Konon kesenian ini lahir dari kreativitas 5 orang tahanan yang sedang menunggu hukuman mati. Untuk menghilangkan kesedihan, mereka membuat pertunjukan sederhana menggunakan peralatan yang tersedia di dalam penjara.

Panci, piring dan berbagai benda lain menjadi alat musik pengiring. Pertunjukan tersebut menghasilkan bunyi yang menarik perhatian sang kaisar. Setelah mengetahui kisah para tahanan itu, kaisar kabarnya memberikan pengampunan. Meski bersifat legenda, cerita ini menunjukkan bagaimana seni sering kali lahir dari kreativitas manusia dalam situasi sulit.

Awal Mula Masuk ke Nusantara

Sejarah wayang potehi masuk ke Nusantara sekitar abad ke-16 sampai 19. Prosesnya berkaitan erat dengan kedatangan para pedagang serta perantau Tionghoa. Mereka membawa berbagai unsur budaya dari kampung halaman, termasuk pertunjukan tradisional. Seiring bertambahnya komunitas Tionghoa di berbagai pelabuhan penting, wayang potehi makin populer di kalangan masyarakat setempat.

Pada masa awal perkembangannya, wayang potehi lebih banyak menampilkan cerita klasik dari Tiongkok. Kisah kepahlawanan, peperangan, hingga legenda kerajaan menjadi tema utama dalam pementasan. Beberapa lakon yang cukup populer antara lain Si Jin Kui, Cu Hun Cau Kok dan Lo Thong Sau Pak.

Baca Juga: Sejarah Wayang Othok Obrol, Seni Tradisional Kreatif Khas Wonosobo

Sebagai informasi tambahan, perjalanan wayang potehi di Indonesia tidak selalu berjalan mulus. Pada periode 1970-an hingga 1990-an, kesenian ini mengalami masa sulit akibat pembatasan terhadap berbagai ekspresi budaya Tionghoa. Akibatnya, pertunjukan menjadi semakin jarang. Situasi mulai berubah setelah era reformasi, ketika ruang untuk menampilkan budaya Tionghoa kembali terbuka. Sehingga kesenian ini dapat berkembang lagi.

Cerita Kian Berkembang

Semakin berjalannya waktu, repertoar cerita dari wayang potehi semakin beragam. Tokoh-tokoh populer seperti Sun Go Kong dari kisah Perjalanan ke Barat turut hadir dalam setiap pertunjukan. Adaptasi cerita sejarah ini membuat wayang potehi lebih mudah masyarakat terima dari berbagai kalangan penonton.

Menariknya, sejumlah karakter dari cerita Tiongkok juga memberikan pengaruh pada seni pertunjukan daerah lokal. Beberapa tokoh dalam ketoprak bahkan memiliki kemiripan atau terinspirasi dari figur-figur yang sering muncul. Keunikan itulah yang membuatnya kian populer di Tanah Air.

Akulturasi Budaya Tionghoa di Indonesia

Hal yang tak kalah menarik dari sejarah wayang potehi adalah proses akulturasinya dengan budaya Indonesia. Awalnya pertunjukan ini menggunakan dialek Hokkian sebagai bahasa utama. Namun untuk menjangkau penonton yang lebih luas, banyak kelompok kemudian menggunakan bahasa Indonesia dalam pementasan.

Akulturasi juga terlihat dari para pelaku seni yang terlibat. Tidak sedikit pemain, dalang, maupun pendukung pertunjukan yang berasal dari berbagai latar belakang etnis. Kondisi tersebut menjadikan wayang potehi sebagai ruang pertemuan budaya luar biasa. Hal yang hampir tidak ada di pertunjukan lainnya.

Dalam satu pertunjukan biasanya butuh 5 orang pemain. 2 orang bertugas menggerakkan dan menghidupkan karakter wayang. Sementara 3 orang lainnya memainkan alat musik pengiring. Instrumen yang populer meliputi tambur, simbal, gong, suling, rebab, hingga alat musik tradisional khas Tionghoa lainnya.

Wayang potehi juga memiliki fungsi lebih luas dari sekadar hiburan. Di sejumlah kelenteng, pertunjukan sering digelar sebagai bagian dari kegiatan keagamaan maupun tradisi masyarakat Tionghoa. Di sisi lain, pementasan di ruang publik membuat kesenian ini semakin dekat dengan masyarakat umum.

Baca Juga: Jejak Sejarah Wayang Ajen hingga Diakui Dunia

Sejarah wayang potehi memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dari Tiongkok dapat tumbuh dan beradaptasi di Indonesia. Melalui proses akulturasi panjang, kesenian ini tidak hanya mempertahankan akar tradisinya, tetapi juga menyerap berbagai unsur lokal. Karena itu, pelestarian wayang potehi menjadi penting sebagai upaya menjaga warisan budaya sekaligus sejarah. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |