harapanrakyat.com,- Tim Severe Acute Respiratory Infections (SARI) atau infeksi saluran pernapasan akut berat Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung membenarkan ada 10 orang di Jawa Barat yang terpapar virus influenza tipe A H3N2. Masyarakat menyebutnya Superflu.
Ketua Tim Penyakit Infeksi New-Emerging dan Re-Emerging (Pinere) RSHS Bandung, dr. Yovita Hartantri, SpPD(K)PTI mengatakan, seusai pandemi Covid-19, Kementerian Kesehatan menginstruksikan ke semua rumah sakit vertikal untuk melakukan surveilans. Ini dilakukan kepada pasien yang mengalami gejala batuk hingga demam.
Baca juga: Pekan Ini, Pemprov Jabar Bakal Monev Penggunaan Bankeu di Desa Panggalih Garut
“Surveilans di RSHS berlangsung sejak Agustus 2023. Setiap pasien yang datang ke sini, kami selalu tanyakan apakah mereka memiliki gejala batuk, nyeri menelan, demam, hingga sesak napas. Jika mereka mengalami itu, kami tes swab,” kata Yovita di RSHS Bandung, Kamis (8/1/2026).
Pasien Bergejala Superflu di Jawa Barat
Selama proses surveilans berjalan, tim SARI RSHS mengirimkan 47 sampel pasien bergejala batuk hingga ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan. Hal ini dilakukan karena ada peningkatan kasus Superflu di sejumlah negara bagian utara. Sedangkan, pasien bergejala Superflu di Jawa Barat terjadi pada Januari 2025. Namun, peningkatan signifikan terjadi pada Agustus. Selanjutnya, September dan Oktober merupakan puncaknya. Meskipun, pada November terjadi penurunan drastis pasien bergejala Superflu.
“Pasien bergejala flu meningkat sejak awal 2025, peningkatan tajam pada Agustus, September, Oktober puncaknya, tapi November turun. Kami kirim sampel ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan Jakarta,” ujarnya.
Berdasarkan hasil uji laboratorium di Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan pada 2 Januari 2026, tercatat ada 10 pasien yang terpapar Superflu.
Yovita menyebut, sebelum dinyatakan terpapar Superflu, 10 pasien itu sudah menjalani perawatan di RSHS. Terdapat 2 pasien di September, 8 pasien di Oktober, dan 2 pasien di November 2025. “Kami baru dapat surat 2 Januari 2026 bahwa ada 10 kasus influenza tipe A H3N2. Tapi sebelumnya mereka sudah mendapatkan perawatan,” ucapnya.
Baca juga: DPMD Jawa Barat Ingatkan Soal Regulasi Pengelolaan Dana Desa ke Kades Panggalih Garut
Yovita menambahkan, dari total 10 pasien Superflu, 2 pasien merupakan anak-anak. Delapan pasien berusia sekitar 22 sampai 60 tahun, dan 2 pasien berusia 60 tahun ke atas.
Berdasarkan total pasien Superflu, terdapat 2 orang yang mengalami gejala berat, sehingga harus mendapatkan perawatan di ruang intensif. Kemudian, ada 1 orang yang meninggal dunia, tetapi penyebabnya bukan karena Superflu melainkan komorbid atau sejumlah penyakit bawaan.
“Ada dua yang mengalami gejala berat hingga dirawat ruang intensif. Satu meninggal tapi karena komorbid gagal jantung dan stroke, bukan oleh Superflu,” katanya. (Reza/R6/HR-Online)

21 hours ago
7

















































