harapanrakyat.com,- Tokoh budaya Kota Banjar, Jawa Barat, Ki Demang Wangsafyudin, menggelar tradisi jamasan ratusan benda pusaka milik pribadinya bertepatan dengan bulan Muharam atau Tahun Baru Islam. Sebagian koleksi yang dirawat tersebut bahkan diperkirakan telah berusia lebih dari 100 tahun.
Prosesi jamasan dilakukan sebagai bentuk perawatan fisik benda-benda pusaka sekaligus upaya melestarikan tradisi, nilai leluhur, dan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Ki Demang menjelaskan, jamasan merupakan ritual membersihkan benda-benda pusaka, seperti keris, tombak, kujang, gamelan hingga kereta kencana. Selain memiliki nilai budaya, proses ini juga bertujuan menjaga kondisi logam agar tidak rusak akibat korosi.
Baca Juga: Inspektorat Ungkap Hasil Pengawasan Problem BUMDes Sukamukti Kota Banjar
“Jamasan ini untuk membersihkan pusaka-pusaka yang banyak mengandung racun atau korosi,” kata Ki Demang kepada harapanrakyat.com, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, seluruh benda yang dijamas merupakan koleksi pribadi dengan jumlah lebih dari 100 pusaka. Beberapa di antaranya diperkirakan telah berusia lebih dari satu abad.
Koleksi tersebut terdiri dari berbagai jenis keris bergaya Solo, Yogyakarta, Pajajaran, Galuh, Majapahit, hingga Cirebon. Selain itu, terdapat pula aneka tombak dan kujang pusaka.
“Yang paling tua berupa keris, kujang, dan tombak. Usianya lebih dari 100 tahun,” ujarnya.
Baca Juga: Minta Oknum Perangkat Desa Diberhentikan, Warga Datangi Kantor Pemdes Waringinsari Kota Banjar
Tokoh Budaya Kota Banjar Gunakan Bahan Khusus untuk Jamasan
Dalam prosesi jamasan, Ki Demang menggunakan bahan-bahan khusus yang mengikuti pakem warisan leluhur. Bahan tersebut meliputi air bersih, minyak wangi khusus siraman, air jeruk nipis, air kelapa muda, hingga warangan untuk mempertahankan pamor logam.
Ia menambahkan, tradisi jamasan lazim dilakukan setiap memasuki Tahun Baru Islam atau penanggalan Jawa. Selain menjaga kondisi fisik pusaka, ritual tersebut juga menjadi cara merawat nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya.
Baca Juga: BPKPD Kota Banjar Gelar Tahlilan dan Doa Bersama untuk Dua Korban Terjatuh dari Tower
“Di tengah masyarakat yang mulai banyak melupakan sejarah dan adat istiadat, masih ada yang merawat pusaka secara rutin sesuai pakem yang telah ditentukan,” pungkasnya. (Muhlisin/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

11 hours ago
8

















































