Toto Izul Fatah: Negara Bicara Stabilitas, Rakyat Membaca Jayabaya

7 hours ago 9

harapanrakyat.com,- Pemerintah menyampaikan klaim stabilitas, sebaliknya sebagian masyarakat justru kembali menoleh pada ramalan-ramalan leluhur untuk membaca arah zaman. Fenomena ini menjadi sorotan Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, dalam tulisannya yang berjudul ‘Menguji Ramalan Leluhur di Tengah Zaman Kacau’.

Menurut Toto, ramalan selama ini kerap dipandang sebagai sesuatu yang dekat dengan mitos, tahayul, dan tidak rasional. Namun dalam kenyataannya, ramalan seperti yang dikaitkan dengan Jayabaya, Sabdo Palon, hingga Nostradamus tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Ia menilai, ketertarikan publik terhadap ramalan bukan semata karena unsur mistisnya, melainkan karena masyarakat sedang mencari cara untuk memahami situasi yang dirasa semakin rumit dan sulit diprediksi.

“Ketika ekonomi terasa menekan, kehidupan sosial kacau, pemerintah tampak gagap, dan dunia diguncang berbagai ketegangan global, publik kembali menoleh pada ramalan-ramalan leluhur,” tulis Toto dikutip Selasa (2/6/2026).

Baca Juga: Toto Izul Fatah: Pemimpin Lalim dan Anti Kritik Pasti Tumbang, Tinggal Tunggu Waktu

Menurutnya, ramalan pada dasarnya merupakan bahasa simbolik yang mencerminkan kecemasan sosial. Saat negara dianggap tidak mampu menjelaskan keadaan secara meyakinkan, masyarakat cenderung mencari makna melalui narasi budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Toto mencontohkan ramalan Jayabaya yang sering dikaitkan dengan datangnya masa kalabendu atau zaman penuh kekacauan, ketika tatanan moral dianggap terbalik dan kepemimpinan kehilangan wibawa. Sementara Sabdo Palon kerap dimaknai sebagai simbol kembalinya nilai-nilai moral dan spiritual ketika masyarakat merasa semakin jauh dari akar budayanya.

Baca Juga: Aklamasi Daniel Mutaqien, Jalan Tengah Golkar Jabar Menuju Konsolidasi Besar

Meski demikian, ia mengingatkan agar ramalan tidak dipahami secara harfiah sebagai kepastian masa depan. Menurutnya, yang lebih penting adalah menangkap pesan moral dan kritik sosial yang terkandung di dalamnya.

“Ramalan leluhur lebih tepat dibaca sebagai alarm kebudayaan daripada naskah sakral yang menentukan masa depan,” ujarnya.

Toto Izul Fatah Soroti Kondisi Masyarakat yang Percaya Ramalan

Toto juga menyoroti kondisi yang dirasakan masyarakat saat ini. Mulai dari melemahnya daya beli, sulitnya lapangan pekerjaan, kebijakan yang dinilai kurang konsisten, hingga menurunnya kepercayaan publik terhadap elite dan institusi negara.

Dalam situasi seperti itu, lanjutnya, ramalan menjadi relevan bukan karena kekuatan magisnya. Namun sebaliknya karena realitas yang dihadapi masyarakat terasa semakin sulit dipahami dengan penjelasan-penjelasan resmi.

Karena itu, Toto berpandangan bahwa yang dibutuhkan bukanlah masyarakat yang larut menjadi pemburu ramalan. Tetapi kemampuan membaca peringatan yang tersimpan di balik berbagai nubuat leluhur.

Baca Juga: Survei LSI Denny JA: Mayoritas Publik Tegas Tolak Pilkada Dipilih DPRD

“Ramalan harus menjadi cermin, bukan candu. Ia mengingatkan bahwa sebuah negeri bisa tampak baik-baik saja, padahal sesungguhnya sedang bergerak menuju kerapuhan,” pungkasnya. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |