harapanrakyat.com,- Polemik mengenai batas antara kritik dan penghinaan dalam ruang digital mencuat di kalangan aktivis mahasiswa Tasikmalaya. Aktivis mahasiswa, Muhamad Miqdar Nurdin, melontarkan kritik terhadap konten Tiyo Ardianto yang dinilainya telah mengarah pada serangan personal terhadap Presiden RI, Prabowo Subianto. Tiyo sendiri merupakan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gajah Mada yang vokal mengkritik pemerintah.
Kritik terhaap Tiyo disampaikan Miqdar melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, mmiqdarrrrr pada Senin (15/6/2026). Dalam unggahan itu, ia menyoroti konten Tiyo Ardianto yang menyamakan ‘Prabowo’ dengan seekor kucing scabies (berjamur).
Menurut Miqdar, kritik terhadap pemerintah merupakan hak setiap warga negara yang dijamin konstitusi. Namun, kritik seharusnya disampaikan melalui argumentasi yang berbasis data dan substansi kebijakan, bukan melalui simbol atau narasi yang berpotensi mengarah pada ejekan personal.
Baca Juga: Aksi Kreatif Guru SD di Tasikmalaya, Edukasi Ekologi Lewat Nobar Film Pesta Babi
“Kritik terhadap pemerintah adalah hak konstitusional bagi warga negara termasuk mahasiswa. Namun ketika kritik direduksi menjadi ejekan personal, yang muncul bukan lagi kritik kebijakan melainkan penghinaan simbolik yang miskin substansi,” tulis Miqdar dalam unggahannya.
Mahasiswa tersebut menilai ruang demokrasi membutuhkan perdebatan yang sehat dan argumentatif. Karena itu, ia menyayangkan jika diskursus publik lebih didominasi oleh sensasi dibandingkan pembahasan substansi persoalan.
Ia juga menegaskan bahwa kualitas kritik semestinya diukur dari kekuatan data, analisis, serta solusi yang ditawarkan kepada publik.
Unggahan Miqdar kemudian memicu beragam tanggapan warganet. Ratusan komentar muncul dan memperlihatkan perbedaan pandangan mengenai cara menyampaikan kritik terhadap pemerintah maupun kepala negara.
Debat Soal Etika Kritik dalam Konten Tiyo Ardianto
Perdebatan semakin berkembang setelah aktivis mahasiswa lainnya, Harris Aufa, memberikan tanggapan melalui akun media sosial pribadinya, gibumism. Harris menilai fokus pembahasan seharusnya tidak bergeser pada persoalan etika penyampaian kritik semata.
“Narasi kritik yang disampaikan oleh Tiyo akhirnya digeser hanya menjadi persoalan sopan santun,” ujar Harris dalam video yang diunggahnya.
Harris bahkan mengajak Miqdar untuk berdiskusi dan berdebat secara terbuka guna menguji argumentasi masing-masing.
“Saya tantang saudara Muhamad Miqdar Nurdin untuk berdebat secara publik dengan saya. Tentukan tempat, waktu dan tanggalnya,” kata Harris.
Baca Juga: Ribuan Warga Rancapaku Tasikmalaya Meriahkan Tahun Baru Islam dengan Pawai Obor
Hingga kini belum ada tanggapan lanjutan terkait ajakan debat terbuka tersebut. Polemik yang berkembang di media sosial itu pun masih menjadi perhatian publik, terutama terkait batas antara kebebasan berekspresi, kritik politik, dan etika dalam ruang demokrasi. (Rafi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

5 hours ago
5

















































