harapanrakyat.com,- Pemerintah Desa bersama Lembaga Adat Desa (LAD) dan seluruh elemen masyarakat Desa Paledah, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menggelar peringatan Hari Jadi desa tersebut yang ke-203.
Momen bersejarah ini menjadi ajang mempererat persatuan masyarakat yang terdiri dari dua suku, yakni Sunda dan Jawa, melalui serangkaian kegiatan religi dan pelestarian budaya lokal.
Ketua Panitia Hari Jadi Desa Paledah, Mahpud mengatakan, rangkaian acara dimulai sejak Selasa, 16 Juni 2026, bertepatan dengan momentum 1 Muharram 1448 Hijriah.
Kegiatan diawali dengan pawai taaruf keliling desa yang menampilkan gunungan hasil bumi dari swadaya masyarakat. Dilanjutkan dengan ziarah kubur ke makam Syekh Mukhtar, tokoh penyebar agama Islam di wilayah setempat.
Baca Juga: Menelusuri Sejarah Gunung Bojogede Pangandaran, Ada Makam Utusan Mataram
“Kami ingin mengimplementasikan visi misi Kepala Desa untuk menyatukan masyarakat. Di Paledah ini terdapat dua suku besar, Jawa dan Sunda. Melalui momentum ziarah dan kegiatan budaya, kami ingin memberikan motivasi sekaligus menguatkan kembali kerukunan antar warga,” terang Mahpud kepada harapanrakyat.com, Rabu (17/6/2026).
Pelestarian Budaya Lokal di Desa Paledah Pangandaran
Mahpud menambahkan, pada hari kedua pelaksanaan acara, Rabu (17/6/2026), panitia menggelar Tradisi Ruwat Bumi sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan hasil pertanian.
Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan santunan anak yatim. Serta pagelaran seni wayang kulit berdasarkan hasil musyawarah mufakat bersama para tokoh masyarakat.
Langkah ini diambil untuk menjaga eksistensi budaya daerah agar tetap dikenal oleh generasi penerus. Selain wayang kulit, Desa Paledah juga memiliki tiga grup kesenian Kuda Lumping (Ebeg) yang legalitasnya telah diakui dan terdaftar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
“Kami berharap sinergi antara ulama, tokoh budaya, pemerintah desa, petani, dan pemuda dapat terus terjaga demi mewujudkan Desa Paledah yang makmur dan sejahtera,” kata Mahfud.
Sejarah Nama Paledah dan Filosofi Kelokalan
Sementara itu, Kepala Desa Paledah, Yanto menjelaskan, peringatan hari jadi ini merupakan momentum penting untuk merefleksikan sejarah perjuangan para perintis desa.
Baca Juga: Kemeriahan 1 Muharram di Cimerak Pangandaran, Ribuan Warga Datangi Makam Eyang Sembah Jawa
Berdasarkan catatan sejarah, wilayah ini awalnya berupa area hutan (gerumbul) yang dikenal dengan nama Ciporoan atau Negara Siluman.
Pada tahun 1756, seorang tokoh bernama Aki Abin bersama kerabatnya melakukan babat alas (ngabukbak) untuk membuka pemukiman. Seiring berjalannya waktu, terjadi peristiwa jebolnya tanggul sungai di wilayah tersebut, sehingga masyarakat menyebutnya Padabedah.
“Namun, pada masa pemerintahan kolonial Belanda, para pejabat Belanda saat itu kesulitan melafalkan kata Padabedah. Lidah mereka lebih mudah menyebutnya Paledah. Akhirnya, nama Paledah resmi disepakati dan digunakan hingga saat ini,” jelas Yanto.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga situs-situs sejarah peninggalan leluhur yang ada di desa. Seperti situs Mbah Gedeng Mataram, Mbah Jagapati, Dayang Sumbi, dan Bojo Sela. Tokoh-tokoh tersebut merupakan para pejuang dan perintis awal pemukiman Desa Paledah.
Di samping itu, keunikan letak geografisnya yang dikelilingi oleh aliran Sungai Citanduy dan Sungai Ciseel turut membentuk karakter masyarakat yang multikultural. Untuk menjaga keseimbangan tersebut, pihak desa menerapkan kebijakan rotasi kebudayaan dalam setiap perayaan hari jadi.
“Tahun ini kami menggelar pertunjukan wayang kulit, karena setengah dari warga kami adalah suku Jawa. Insya Allah, tahun depan kami akan menampilkan wayang golek yang merepresentasikan budaya Sunda. Langkah ini sudah mendapat kesepakatan bersama demi menjaga kebersamaan,” tambah Yanto.
Pemberdayaan Lembaga Adat Desa (LAD)
Di tempat yang sama, Ketua Lembaga Adat Desa (LAD) Paledah, Kiai Husen, mengungkapkan rasa syukurnya karena Desa Paledah telah mendapatkan pengesahan resmi dari Bupati Pangandaran terkait keberadaan lembaga adat. Proses verifikasi ini melibatkan penilaian ketat dari tingkat dusun, kabupaten, hingga provinsi.
Baca Juga: Daftar Desa Adat di Indonesia Paling Unik, Destinasi Wisata Budaya yang Wajib Dikunjungi
Tugas utama LAD adalah merawat, memelihara, dan melestarikan adat istiadat yang masih kental di tengah masyarakat. Termasuk tradisi agraris seperti babarit (ritual sebelum menanam padi), tradisi pascapanen. Hingga seni komunikasi tradisional menggunakan lisung.
Kiai Husen juga mengonfirmasi adanya bukti otentik mengenai sejarah desa berupa manuskrip kuno yang ditulis pada tahun 1823. Manuskrip tersebut dibacakan langsung oleh Kepala Desa pada malam pembacaan sejarah sebagai bagian dari edukasi bagi generasi muda.
“Kolaborasi antara ulama dan tokoh adat di Desa Paledah sudah berjalan sangat harmonis. Tidak ada pertentangan antara adat dan agama, keduanya berjalan beriringan untuk memajukan desa,” pungkas Kiai Husen. (Madlani/R3/HR-Online/Editor: Eva)

3 hours ago
6

















































