harapanrakyat.com,- Ancaman gempa bumi dan tsunami yang membayangi pesisir selatan Pulau Jawa bukan lagi sekadar isu, melainkan tantangan nyata yang menuntut kesiapsiagaan terintegrasi. Menyadari tingginya risiko tersebut, pemerintah pusat kini mendorong Kabupaten Pangandaran, untuk menjadikan vegetasi mangrove sebagai garis pertahanan utama atau “sabuk hijau” dalam strategi mitigasi bencana daerah.
Baca Juga: Memahami Dinamika Bumi Lewat Konsep Teori Tektonik Lempeng
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, dalam kunjungannya ke Pangandaran pada Sabtu (13/6/2026), menegaskan bahwa daerah yang berada di pesisir selatan Pulau Jawa memiliki tingkat kerawanan yang perlu diantisipasi secara serius. Karena itu, menurutnya, penguatan mitigasi harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan daerah, termasuk melalui pendekatan berbasis lingkungan.
“Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah memperluas kawasan vegetasi mangrove di sepanjang garis pantai. Selain berfungsi menjaga ekosistem pesisir, mangrove juga memiliki peran penting sebagai pelindung alami, yang dapat membantu mengurangi kekuatan gelombang saat tsunami terjadi,” kata Suharyanto.
Baca Juga: Diguyur Hujan Deras, Tebing Jalan di Banjarharja Pangandaran Longsor
Mengadopsi Praktik Terbaik dari Pesisir Selatan untuk Hadapi Ancaman Gempa dan Tsunami
Suharyanto mencontohkan sejumlah wilayah di pesisir selatan yang telah menerapkan strategi serupa, di antaranya kawasan Parangtritis. Menurutnya, wilayah tersebut memiliki karakteristik ancaman yang hampir sama dengan Pangandaran. Sehingga, penanaman mangrove menjadi bagian dari upaya mitigasi yang terus dilakukan.
“Tentu, keberadaan sabuk hijau di kawasan pantai dapat berfungsi sebagai lapisan perlindungan tambahan, yang membantu mengurangi dampak gelombang. Selain itu juga, memberikan waktu lebih bagi warga untuk melakukan evakuasi ketika terjadi bencana,” paparnya.
Langkah serupa yang diterapkan di Pacitan dapat menjadi referensi bagi daerah lain, dalam membangun ketahanan terhadap ancaman tsunami dan gempa. Pendekatan tersebut, menggabungkan perlindungan lingkungan dengan strategi pengurangan risiko bencana yang berkelanjutan.
Lebih lanjut Suharyanto menekankan, bahwa program rehabilitasi dan penanaman mangrove tidak harus dilaksanakan dalam skala besar secara bersamaan. Daerah dapat memulainya secara bertahap dengan menentukan lokasi-lokasi yang dinilai paling membutuhkan perlindungan pesisir.
“Kami berharap, pemerintah daerah segera melakukan pemetaan kawasan prioritas yang berpotensi dikembangkan menjadi area konservasi mangrove,” tambah Suharyanto.
Menurutnya, langkah tersebut dinilai penting sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan wilayah pesisir menghadapi ancaman gempa dan tsunami. Sekaligus juga, menekan potensi kerugian akibat bencana di masa mendatang.
Baca Juga: Tanah Bergerak Terjang Desa Celak Gununghalu KBB, 4 Rumah Rusak 37 Keluarga Terancam
“Kami berharap keberadaan mangrove tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan. Tetapi juga, menjadi benteng alami yang mampu meningkatkan keselamatan masyarakat yang tinggal di kawasan pantai Pangandaran,” pungkasnya. (Kiki/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

6 hours ago
8

















































