Bangga! Tak Hanya di Indonesia, Kopi Bandung Barat Kini Dinikmati Berbagai Negara

1 day ago 16

harapanrakyat.com,- Kopi dari Kabupaten Bandung Barat (KBB) ternyata punya daya tarik yang tak pernah pudar. Bahkan kini, nama kopi tersebut makin harum hingga ke mancanegara. Bukan sekadar dikenal di dalam negeri, biji kopi hasil kebun warga setempat, kini rutin dikirim melintasi samudra hingga sampai ke gelas penikmat kopi di benua lain.

Baca Juga: Tembus Pasar Jepang, Kopi Bunar Tasikmalaya Angkat Kesejahteraan Petani Bunihurip

Salah satu yang sukses menembus pasar global adalah kelompok tani Java Halu Farm. Kelompok tani ini mengolah hasil panen dari wilayah Gununghalu dan Sindangkerta. Produk mereka kini rutin berlayar menuju berbagai negara. Mulai dari Australia, Jepang, Vietnam, hingga wilayah Eropa dan Timur Tengah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KBB, Lukmanul Hakim mengungkapkan, bahwa permintaan terus meningkat hingga tahun 2026. Seperti ke Australia tercatat ada pesanan sebanyak 3,8 ton. Kemudian ke Jepang 2 ton, dan ke Vietnam bahkan mencapai 10 ton.

“Kami pun turut mendukung petani dengan melatih kemampuan mereka. selain itu jugam menyediakan fasilitas penjemuran dan alat pengolahan, agar kualitas pertanian dapat terjaga,” ucapnya, Minggu (28/6/2026).

Keberhasilan kopi asal Bandung Barat ini sebetulnya bukanlah milik satu kelompok saja. Kelompok tani Ranting Estate di Cikalongwetan juga berhasil memasarkan kopinya ke negara-negara Asia Timur.

“Bahkan rekan mereka dari Lembang, Kelompok Tani Global Makmur juga sudah mengirimkan hasil kebunnya hingga ke Jerman,” kata Lukmanul.

Baca Juga: Dorong Pertanian Lebih Modern, DKPP Bandung Barat Genjot Produktivitas dan Daya Saing

Jejak Kopi Bandung Barat Masa Kolonial

Kisah kejayaan kopi di tanah Priangan ternyata sudah dimulai sejak berabad-abad silam. Catatan sejarah tersebut tertulis dalam buku Priangan karya Andries de Wilde yang terbit tahun 1829.

“Pemandangan dari pusat pemerintahan Kabupaten Bandung ke arah pegunungan sekelilingnya hamparan kebun kopi dan sawah berundak-undak menyerupai bangunan teater raksasa,” tulis Andries dalam karyanya itu.

Andries turut mencatat, bahwa pada masa itu, pengiriman kopi masih sangat bergantung pada perahu. Dalam bukunya berjudul Priangan yang terbit tahun 1829, ia menjelaskan rute pengangkutan kopi asal Bandung Barat ini. Untuk menuju Batavia, harus menyusuri aliran Sungai Citarum, melewati wilayah Bayabang hingga sampai ke Cikao.

Baca Juga: Jelajahi Surga Kopi di Solo: Dari Kedai Legendaris 1947 hingga Roastery Modern yang Kekinian

Kini, lokasi Bayabang yang dulunya berada di batas wilayah KBB dan Cianjur, sudah tidak tampak lagi karena terendam air Waduk Cirata. Sementara itu, kawasan Cikao yang masuk wilayah Purwakarta, hingga kini masih menyimpan jejak keberadaan tempat penyimpanan kopi zaman dahulu. (Eri/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |