Masyarakat Soroti Maraknya Pembangunan Villa di Sepanjang Sungai Cijulang Pangandaran

22 hours ago 15

harapanrakyat.com,- Pesatnya pembangunan villa dan bangunan usaha wisata di sepanjang aliran Sungai Cijulang hingga kawasan Batu Karas, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mulai memicu kekhawatiran masyarakat.

Warga setempat mendesak Pemerintah Kabupaten Pangandaran untuk memperketat pengawasan lingkungan. Hal itu menyusul maraknya alih fungsi lahan dan ancaman pencemaran limbah yang berpotensi merusak ekosistem wisata unggulan tersebut.

Perwakilan Paguyuban Masyarakat Cijulang Bersatu, Endang Sukara mengungkapkan, area bantaran sungai dari kawasan Green Canyon hingga Jembatan Sodongkopo kini semakin padat oleh penginapan komersial dan restoran.

Baca Juga: Ketua DPRD Pangandaran Ingatkan Pelaku Wisata Wajib Siaga Kebakaran Usai Insiden Kampung Turis

Berdasarkan pantauan di lapangan, pertumbuhan bangunan baru terus meningkat signifikan dengan adanya lebih dari sepuluh villa baru yang posisinya semakin mendekati bibir sungai.

Ia bahkan mengaku sempat mendapati adanya oknum pelaku usaha yang membuang limbah operasional langsung ke anak sungai yang bermuara ke Sungai Cijulang.

Kondisi ini memicu pertanyaan besar terkait komitmen pemerintah daerah dalam mengawasi izin. Termasuk pengelolaan limbah para pelaku usaha pariwisata di kawasan tersebut.

“Sekarang dari Green Canyon sampai Jembatan Sodongkopo itu sudah banyak berdiri villa. Pertanyaannya, pengelolaan limbahnya ke mana, dan apakah ada pengawasan ketat dari pemerintah atau tidak. Jangan sampai menunggu kawasan ini penuh dan bermasalah dulu baru ditangani. Pengawasan harus dilakukan sejak sekarang,” tutur Endang kepada harapanrakyat.com, Rabu (10/6/2026).

Baca Juga: Sungai Citarum di Karawang Tercemar Limbah Pabrik Kertas, Pemprov Jawa Barat Segera Beri Sanksi

Lanjutnya menjelaskan, Sungai Cijulang merupakan urat nadi pariwisata yang sangat krusial karena terintegrasi langsung dengan destinasi dunia, Green Canyon.

Ancaman Ekologis Jangka Panjang

Oleh karena itu, pihaknya meminta Pemkab Pangandaran melalui dinas terkait untuk memperluas fokus pengawasan lingkungan. Jangan hanya terpusat di kawasan Pantai Pangandaran saja.

Selain masalah limbah komersial, Endang juga menyoroti ancaman ekologis jangka panjang berupa bencana banjir. Risiko ini muncul akibat menyusutnya daerah resapan air. Karena banyaknya lahan rawa di sekitar aliran sungai yang mulai ditimbun untuk area komersial.

Persoalan ini diperparah oleh kiriman sampah dari wilayah hulu. Aliran Sungai Cijulang yang melintasi beberapa kecamatan mulai dari Langkaplancar, Cigugur, Parigi, Cimerak, hingga Cijulang, kerap membawa sampah yang menumpuk di muara dekat Jembatan Sodongkopo dan Bojong Salawe.

Saat ini, volume sampah plastik di area muara mulai meningkat drastis. Fenomena tersebut kerap dikeluhkan oleh warga setempat yang sering kali justru mendapat sampah plastik saat memancing di kawasan muara Bojong Salawe.

Baca Juga: Upaya Menjaga Kelestarian Alam, Ratusan Pohon Ditanam di Bantaran Sungai Citanduy Kota Banjar

Masyarakat setempat memahami bahwa geliat investasi pariwisata ini membawa dampak positif terhadap perputaran ekonomi dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Namun, warga menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi mutlak harus berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan hidup.

Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk memperketat tata ruang, melakukan audit Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) para pelaku usaha. Serta mengoptimalkan sistem pengelolaan sampah yang memadai di setiap desa di sepanjang aliran sungai demi menjaga aset alam Pangandaran. (Madlani/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |