harapanrakyat.com,- Mengulas rekam jejak Candi Badut selalu memberikan perspektif memikat mengenai dinamika sejarah Nusantara. Bangunan suci ini berdiri sebagai salah satu situs arkeologi paling krusial dari era Kerajaan Kanjuruhan, sekaligus menjadi saksi bisu kemajuan peradaban masa lampau di tanah Jawa.
Situs purbakala berbahan batu andesit ini berada di kawasan Tidar, Desa Karangwidoro, Kabupaten Malang. Akses menuju lokasi terbilang mudah karena posisinya tidak jauh dari pusat perkotaan. Hal inilah yang membuat Candi Badut kerap menjadi jujukan masyarakat, baik untuk keperluan studi sejarah maupun destinasi wisata edukasi.
Baca juga: Sejarah Candi Kidal Peninggalan Kerajaan Singasari yang Ditemukan Thomas Stamford Raffles
Berdasarkan kajian arkeologis, kompleks peribadatan ini diperkirakan berdiri sejak abad ke-8 Masehi. Pembangunannya diinisiasi langsung oleh penguasa Kerajaan Kanjuruhan saat itu, yakni Raja Gajayana. Kronik pembangunan tempat suci ini terekam dengan jelas dalam Prasasti Dinoyo yang bertarikh 760 Masehi.
Kronologi Sejarah Penemuan Kembali Candi Badut
Sebelum menampakkan kemegahannya seperti sekarang, situs ini sempat terisolasi dan tertimbun tanah selama beratus-ratus tahun. Keberadaannya baru teridentifikasi kembali pada tahun 1921 oleh seorang pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda bernama Maureen Brecher. Penemuan struktur batu yang berserakan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah kolonial melalui proyek restorasi besar-besaran.
Dari segi visual, arsitektur Candi Badut menyimpan keunikan tersendiri yang memantik perhatian para peneliti. Kendati berada di kawasan timur Pulau Jawa, langgam bangunannya justru mengadopsi gaya candi khas Jawa Tengah. Ciri utamanya terlihat pada bentuk tubuh candi yang cenderung tambun dan tambun, kontras dengan karakteristik candi Jawa Timuran yang umumnya ramping.
Baca juga: Mengungkap Jejak Sejarah Candi Jago di Jawa Timur
Nama “Badut” sendiri diyakini erat kaitannya dengan latar belakang masa muda Raja Gajayana. Dalam lembar sejarah Indonesia, sang raja waktu kecil memiliki nama panggilan Liswa, yang dalam bahasa setempat bermakna pelawak atau penghibur. Atas dasar romatika sejarah itulah, masyarakat kemudian mengidentikkan tempat ini sebagai tempat ibadah sang “pelawak”.
Karakteristik Relief dan Ornamen Suci
Magnet utama dari Candi Badut terletak pada keindahan seni pahat yang menempel di dinding bangunan. Salah satu relief yang menonjol adalah visualisasi kepala raksasa yang digambarkan tanpa rahang bawah. Motif hias yang dikenal sebagai Kalamakara ini memiliki kemiripan corak dengan ornamen kuno yang ditemukan di kompleks percandian Dataran Tinggi Dieng.
Baca juga: Fakta Menarik Seputar Sejarah Candi Dwarawati di Dataran Tinggi Dieng
Di bagian dalam ruangan utama (garbagriha), candi ini menyimpan media pemujaan sakral berupa lingga dan yoni yang masih terjaga dengan baik. Simbolisme tersebut mempertegas status Candi Badut pada zamannya sebagai pusat peribadatan bagi para penganut agama Hindu sekte Siwa.
Kini, lingkungan di sekitar candi ditata dengan asri dan dikelilingi pepohonan hijau yang memberikan nuansa sejuk. Meski begitu, pihak pengelola cagar budaya dituntut ekstra waspada terhadap pertumbuhan akar pohon besar yang berisiko merenggangkan susunan batu purbakala tersebut. Pembersihan berkala terus dilakukan demi merawat struktur bangunan agar warisan luhur Kerajaan Kanjuruhan ini tetap lestari dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang. (Muhafid/R6/HR-Online)

2 hours ago
8

















































