harapanrakyat.com,- Masyarakat adat Kampung Naga di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat masih menyimpan ingatan kolektif atas peristiwa sejarah pembakaran kampung oleh gerombolan DI/TII pada tahun 1956. Peristiwa tersebut mengakibatkan seluruh permukiman, termasuk dokumen dan naskah sejarah Kampung Naga, musnah dilalap api.
Salah seorang pemuda adat Kampung Naga, Rendy Armady, mengatakan pembakaran terjadi setelah leluhur Kampung Naga menolak ajakan untuk bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII).
“Kami kehilangan dokumen tertulis. Sejarah kami dihanguskan karena leluhur kami memilih setia pada prinsip dan menolak ajakan DI/TII,” kata Rendy kepada Harapan Rakyat, Minggu (31/5/2026).
Baca Juga: Kunjungan KDM Tengah Malam Berujung Penutupan Kampung Naga Tasikmalaya Selama Tiga Bulan
Dokumen Asal-usul dan Sejarah Masyarakat Kampung Naga Tasikmalaya Habis Terbakar
Menurutnya, seluruh rumah panggung yang ada saat itu habis terbakar, termasuk berbagai dokumen yang menyimpan catatan asal-usul dan sejarah masyarakat Kampung Naga.
Meski kehilangan jejak sejarah dalam bentuk tulisan, masyarakat adat Kampung Naga tetap mempertahankan tradisi dan nilai-nilai warisan leluhur hingga saat ini. Berbagai aturan adat, pola tata ruang permukiman, hingga falsafah hidup masyarakat masih dijalankan secara turun-temurun
Rendy menjelaskan, salah satu bentuk pelestarian adat dilakukan melalui penyelenggaraan upacara adat yang rutin digelar setiap tahun. Masyarakat Kampung Naga melaksanakan enam kali upacara adat yang bertepatan dengan hari-hari besar Islam.
“Tradisi itu tetap kami jalankan sebagai bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga,” ujarnya.
Saat ini Kampung Naga dihuni oleh 287 jiwa yang tergabung dalam 102 kepala keluarga. Masyarakat setempat juga tetap mempertahankan berbagai aturan adat, termasuk pembatasan jumlah bangunan dan penggunaan teknologi tertentu di kawasan kampung adat.
Menurut Rendy, hilangnya dokumen sejarah tidak membuat masyarakat Kampung Naga melupakan identitas mereka. Sebaliknya, generasi muda terus berupaya menjaga dan meneruskan nilai-nilai adat yang diwariskan oleh para leluhur.
Baca Juga: Jadi Korban Curanmor, Pemuda Tasikmalaya Ini Malah Senang: Motornya Kembali Full Modifikasi
“Kami menjaga sejarah itu melalui kehidupan sehari-hari dan menjalankan adat yang sudah diwariskan secara turun-temurun,” katanya. (Rafi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

9 hours ago
8

















































