harapanrakyat.com,- Sosok Eyang Sembah Jawa menjadi salah satu tokoh berpengaruh di wilayah Desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Pada peringatan 1 Muharram 1448 H, ribuan masyarakat mendatangi lokasi tersebut.
Baca juga: Kemeriahan 1 Muharram di Cimerak Pangandaran, Ribuan Warga Datangi Makam Eyang Sembah Jawa
Selain untuk memeriahkan pergantian tahun baru Islam, mereka juga memaknai momen tersebut dengan mengingat tokoh lokal yang dianggap begitu berperan besar terhadap wilayah tersebut pada zaman dulu.
Sejarah Eyang Sembah Jawa
Pemimpin sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Qira’atussab’ah, Kiai Asep Abdullah Siradj mengungkapkan, berdasarkan penuturan yang berkembang di masyarakat, Eyang Sembah Jawa merupakan tokoh yang hidup pada abad ke-17.
Kedatangannya ke wilayah Legokjawa dalam rangka memperdalam perjalanan leluhurnya dalam berbagai aspek kehidupan. Ketika memasuki wilayah tersebut, nama Legokjawa disebut-sebut sudah lebih dahulu ada.
“Jadi minimal kita memperingati di Desa Legokjawa ini dari kurun waktu itu. Dan Eyang Sembah Jawa masih keturunan Galuh, hanya lahirnya di Padjajaran. Beliau menikah dengan putri kedua Surya Kencana yang disebut Dewi Tara atau Nyai Putih dan dikaruniai tiga orang putra,” tuturnya, Selasa (16/6/26).
Baca juga: Pawai Obor dan Lomba Bedug Semarakkan Tahun Baru Islam dan HUT ke-48 Desa Jangraga Pangandaran
Asep menjelaskan, setelah mengabdi di Mataram, Eyang Sembah Jawa kembali ke Padjajaran dan disambut oleh Surya Kencana. Pada saat itu ia kemudian dinikahkan dengan Dewi Tara atau Nyai Putih.
“Kemudian beliau melanjutkan proses kepemimpinan setelah mertuanya, Surya Kencana, yaitu menjadi Wiradadaha ke-6,” ucap Kiai Asep.
Setelah menyelesaikan masa kepemimpinannya sebagai Wiradadaha ke-6, Eyang Sembah Jawa kembali ke Legokjawa dan menetap bersama keluarganya hingga akhir hayat.
“Beliau dikebumikan tepatnya di Blok Sumur Gede. Keturunannya hingga sekarang masih ada. Bahkan salah satu benang merah yang dapat digunakan untuk menelusuri sejarah Desa Legokjawa adalah dari zaman Eyang Sembah Jawa atau Pangeran Dipasantana, sebagaimana masyarakat Legokjawa menyebutnya,” paparnya.
Nama Dipasantana sendiri disebut merupakan gelar yang diberikan oleh Raja Mandala. Menurut Kiai Asep, tokoh tersebut memiliki beberapa gelar berbeda sesuai dengan perjalanan hidup dan pengabdiannya.
“Kalau saat menjadi Wiradadaha beliau diberi gelar Dipalaksana. Ketika di Mataram diberi gelar Dipasanta. Nama aslinya adalah Surya Kartawinangun alias Dipalaksana alias Dipasanta,” jelasnya.
Nama-nama yang Merujuk Eyang Sembah Jawa
Di Legokjawa, lanjut Asep, terdapat tiga sebutan yang paling dikenal masyarakat terhadap tokoh tersebut. “Hanya di Legokjawa yang paling masyhur ada tiga sebutan, yaitu Kipangsiun, Dipasantana, dan Sembah Jawa. Kipangsiun karena beliau setelah menjadi Bupati di Sukapura disebut demikian. Dipasantana karena gelar dari Mandala. Sedangkan Sembah Jawa karena beliau menjadi salah satu tokoh yang memperbaharui kembali sejarah Legokjawa,” katanya.
Asep menegaskan, bahwa dalam kajian sejarah lokal yang berkembang di masyarakat, Eyang Sembah Jawa menjadi pintu utama untuk menelusuri perjalanan panjang Desa Legokjawa. Sementara itu, penyebutan Legokjawa sebagai desa tertua didasarkan pada belum ditemukannya catatan resmi mengenai tanggal maupun tahun berdirinya desa tersebut.
Baca juga: Meriahnya Hajat Laut Pangandaran 2026, dari Karnaval Dongdang hingga Istighosah
“Karena pada abad ke-17, dari perjalanan Eyang Sembah Jawa, nama Legokjawa sudah ada. Kalau ingin memperdalam tentu bisa dilakukan penelitian arkeologis atau kajian sejarah yang lebih mendalam,” papar Kiai Asep.
Legokjawa sejak Abad ke-13
Bahkan berdasarkan catatan yang diwariskan para sesepuh, nama Legokjawa diyakini telah dikenal sejak sekitar abad ke-13. “Kalau memang abad ke-13, tentu desa-desa lain belum ada. Tetapi titik tengah yang dapat kita pegang adalah abad ke-17 saat perjalanan Sembah Jawa. Yang saya ketahui, sampai catatan kementerian mengenai kependudukan pun nama Legokjawa tidak tercatat tanggal maupun tahun lahirnya,” paparnya.
Baca juga: Kenaikan BBM Hantam Pelaku Perahu Wisata di Grand Canyon Pangandaran, Terpaksa Beli Pertalite Eceran
Menurutnya, berbagai catatan sejarah mengenai Legokjawa memang masih ditemukan dalam bentuk fragmen-fragmen cerita dan penuturan lisan. Namun hingga saat ini belum ditemukan dokumen yang secara pasti menyebutkan kapan desa tersebut didirikan. “Sejarahnya ada, tetapi hanya sepatah dua patah. Yang menyatakan kapan Desa Legokjawa lahir itu tidak ada,” ucap Kiai.
Lebih lanjut, Asep menggambarkan sosok Eyang Sembah Jawa sebagai pribadi yang memiliki pemahaman mendalam dalam bidang agama sekaligus pemerintahan. “Sosok Eyang Sembah Jawa ini memahami sisi agama dan kepemerintahan. Beliau adalah sosok multitalenta. Dulu Sukapura jika sekarang mungkin setara wilayah provinsi. Bisa dikategorikan sebagai gubernur ke-6 di Sukapura, karena sebelum Sukapura ada Kerajaan Padjajaran,” ujarnya. (Kiki/R6/HR-Online)

5 hours ago
8

















































