Wacana menjadikan PSGC Ciamis sebagai klub satelit Persib Bandung kini mulai bergulir hangat di kalangan penggemar dan pemerhati sepak bola nasional. Rencana strategis ini memiliki konsep yang sangat berbeda dari langkah serupa yang pernah Persib tempuh terhadap klub asal Blitar beberapa tahun lalu, yang saat itu berakhir dengan berbagai permasalahan hukum serta identitas.
Mantan anggota Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), Eko Noer Kristiyanto, menyoroti bahwa kasus Blitar sejak awal sudah tidak ideal karena adanya satu badan hukum, yaitu PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB), yang mengelola dua klub profesional sekaligus dalam satu cabang olahraga.
Baca Juga: Selangkah Lagi, PSGC Ciamis Resmi Jadi Tim Satelit Persib Bandung
Kondisi di mana dua entitas profesional bernaung di bawah satu PT dianggap tidak sesuai dengan prinsip profesionalisme organisasi olahraga kompetitif.
Tantangan Legalitas dan Identitas Klub Satelit Persib
Berdasarkan rekomendasi BOPI, seharusnya dibentuk PT baru yang terpisah agar kedua klub memiliki entitas hukum mandiri dan tidak saling bergantung secara struktural.
Terkait hal ini, Eko Maung menekankan pentingnya pemisahan manajemen. “Nggak boleh PT-nya satu, itu berarti nggak profesional,” tegasnya melalui media sosial, Senin (15/6/2026).
Selain masalah badan hukum, persoalan identitas juga menjadi catatan penting dalam sejarah klub satelit Persib sebelumnya. Perubahan nama Blitar menjadi Bandung United saat itu tanpa melalui kongres resmi. Padahal regulasi mengharuskan identitas lama tetap melekat minimal selama satu musim kompetisi penuh.
Pengamat menilai pencabutan akar historis sebuah klub dari kota asalnya dapat merusak ikatan emosional suporter, yang merupakan fondasi keberlangsungan klub.
Baca Juga: Persiapan PSGC Ciamis di Liga 2, Aturan Deposit hingga Penjajakan Kerja Sama dengan Persib Bandung
PSGC Punya Kedekatan Historis dengan Persib
Berbeda dengan kasus Blitar, PSGC Ciamis dianggap memiliki kedekatan historis dan emosional yang lebih organik dengan Persib Bandung. Karena basis suporternya secara tradisional berafiliasi kuat.
“Orang Ciamis atuh, makanya semoga dapat legitimasi kuat dari masyarakat,” katanya.
Ia meyakini kedekatan sosial ini bisa memberikan pijakan yang lebih kokoh jika manajemen PT PBB merealisasikan rencana ini.
Namun, pertanyaan mengenai legalitas tetap menjadi isu krusial, terutama jika di masa depan PSGC berhasil promosi ke Liga 1 dan berada di level yang sama dengan Persib.
Pengamat juga menyebut titik transisi dari Liga 3 ke Liga 2 sebagai fase paling kritis karena di sanalah aspek legalitas, struktur PT, kekuatan financial. Serta infrastruktur harus terpenuhi secara profesional.
Hingga saat ini, manajemen Persib Bandung belum memberikan pernyataan resmi apakah mereka akan menaungi PSGC dalam satu atap. Atau membentuk entitas terpisah untuk menjalankan peran sebagai klub satelit Persib. (Revi/R3/HR-Online/Editor: Eva)

2 hours ago
3

















































