harapanrakyat.com,- Dataran Tinggi Dieng menyimpan banyak peninggalan masa lampau yang sangat menarik bagi para pecinta sejarah Indonesia. Salah satu bangunan kuno yang memiliki cerita unik dalam lembaran sejarah tentang Candi Setyaki ini adalah temuan pondasi yang kini telah berdiri megah. Bangunan bersejarah ini terletak sekitar 200 meter di sebelah barat kelompok percandian Arjuna yang sangat populer.
Baca juga: Fakta Menarik Seputar Sejarah Candi Dwarawati di Dataran Tinggi Dieng
Situs peninggalan keagamaan Hindu ini diperkirakan dibangun pada periode abad kedelapan hingga abad kesembilan Masehi. Selanjutnya, berbeda dengan kompleks lainnya, tempat suci ini hanya terdiri atas satu bangunan induk tanpa adanya candi pendamping atau perwara. Para wisatawan yang berkunjung dapat merasakan langsung suasana magis dari situs budaya kuno yang masih kental terasa di kawasan ini.
Sejarah Penemuan dan Pemugaran Candi Setyaki
Pada saat pertama kali ditemukan, kondisi bangunan kuno ini sangatlah tidak lengkap karena hanya tersisa bagian fondasi kakinya saja. Kendati demikian, reruntuhan batu komponen pembentuk tubuhnya masih banyak berserakan di sekitar lokasi situs bersejarah tersebut. Oleh karena itu, para ahli purbakala dari pemerintah kemudian memutuskan untuk melakukan serangkaian upaya pelestarian yang serius.
Langkah awal penataan lingkungan di sekitar area ini pertama kali dilakukan pada tahun 2004 silam. Tujuan utama dari penataan kawasan wisata Dieng ini adalah untuk menampakkan bagian kaki yang masih terpendam di dalam tanah. Setelah itu, proses pembongkaran serta pemugaran kembali hingga bagian tubuh pertama akhirnya dilaksanakan pada tahun 2008.
Baca juga: Sejarah Candi Semar Banjarnegara yang Ditemukan Tentara Belanda Tahun 1814
Kegiatan pelestarian ini tidak berhenti sampai di situ karena pencarian susunan percobaan bagian tubuh terus dilanjutkan. Hasil dari pencarian batu-batu tersebut kemudian menjadi dasar pijakan untuk rekonstruksi lanjutan pada tahun 2010. Kini, bangunan tersebut telah sukses berdiri kokoh sehingga mampu menampilkan keindahan arsitektur masa lalu yang sangat memukau.
Namun, tantangan pelestarian belum usai karena lingkungan di sekitarnya kerap mengalami perubahan akibat pemanfaatan lahan pertanian. Erosi tanah pada musim hujan seringkali membawa sedimen lumpur yang masuk dan menutupi kembali areal di sekitar candi. Penataan lingkungan secara berkelanjutan terus digalakkan agar warisan leluhur ini tetap aman dari ancaman kerusakan alam.
Keunikan Arsitektur Relief
Keistimewaan lain yang bisa diamati dari situs ini adalah keberadaan relief yang menampakkan ciri khas bangunan bercorak Hindu. Walaupun kondisinya sudah tidak utuh lagi, para peneliti masih bisa mengidentifikasi ukiran dewa perang Kartikeya. Dewa yang merupakan putra dari Dewa Siwa tersebut digambarkan sedang menunggangi wahananya yang berupa seekor burung merak.
Selain itu, dinding bangunan Situs Budaya ini juga memperlihatkan pahatan seorang tokoh yang membawa atribut Dewa Siwa. Atribut sakral yang dipegang oleh tokoh tersebut masih terlihat cukup jelas yaitu berupa camara atau alat kebut lalat. Bukti-bukti ukiran ini semakin menguatkan identitasnya sebagai tempat pemujaan agama Hindu beraliran Siwa pada masa kejayaan kerajaan kuno.
Baca juga: Fakta Menarik di Balik Sejarah Candi Puntadewa Dieng Banjarnegara
Pada bagian tubuh bawahnya, terdapat pula hiasan panil yang menampilkan bentuk-bentuk binatang seperti kijang, singa, dan sapi. Makna filosofis dari keberadaan hewan-hewan ukiran tersebut masih terus menjadi objek penelitian para ahli sejarah hingga saat ini. Hiasan ragam satwa ini tentunya menambah daya tarik visual bagi siapa saja yang mengamati detail arsitekturnya secara langsung.
Sisa-sisa Bangunan Dharmasala
Hal menarik lainnya adalah penemuan struktur batur di sebelah barat yang diyakini sebagai sisa-sisa bangunan Dharmasala. Tempat yang mirip pendopo ini dulunya berfungsi sebagai lokasi persiapan bagi para pendeta sebelum melaksanakan upacara keagamaan. Keberadaan fasilitas ini menunjukkan bahwa kawasan suci tersebut dahulunya sering digunakan untuk ritual peribadatan berskala besar.
Baca juga: Sejarah Candi Sembadra di Dataran Dieng Banjarnegara, Bangunan Kuno Aliran Hindu Syiwa
Memahami rangkaian cerita masa lalu dari bangunan ini memberikan kita wawasan berharga tentang kecerdasan nenek moyang bangsa Indonesia. Fakta mengenai sejarah panjang berdirinya Candi Setyaki membuktikan bahwa peradaban masa lampau telah memiliki teknologi konstruksi yang sangat maju. Oleh karena itu, kita semua wajib menjaga peninggalan berharga ini agar terus bisa dinikmati oleh generasi mendatang.
Kunjungan ke situs purbakala di dataran tinggi ini tidak hanya menyegarkan pikiran tetapi juga memberikan pengetahuan mendalam tentang sejarah peradaban Candi Setyaki. Anda bisa merasakan langsung hembusan angin sejuk sambil memandangi hamparan wisata alam yang mengelilingi kawasan suci tersebut. Harus diingat, semoga upaya perawatan situs ini terus berjalan lancar sehingga warisan leluhur kita tidak hilang ditelan oleh arus perkembangan zaman. (Muhafid/R6/HR-Online)

11 hours ago
11

















































