harapanrakyat.com,- Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih kering dan berdampak pada ketersediaan air bersih, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi resmi menetapkan status siaga darurat kekeringan. Status tersebut diberlakukan selama kuartal ketiga tahun ini, yakni mulai 1 Juli hingga 30 September 2026. Status ini sebagai langkah antisipatif, agar seluruh jajaran pemerintah daerah lebih sigap merespons apabila terjadi kelangkaan air bersih.
Baca Juga: Hadapi Kemarau 2026, Pemprov Jawa Barat Perkuat Mitigasi Kekeringan dan Karhutla
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan menjelaskan, langkah ini merupakan prosedur rutin setiap kali beralih ke musim kemarau. Penetapan status siaga darurat kekeringan menjadi landasan, agar pengelolaan sumber daya dan penanganan potensi masalah dapat berjalan lebih cepat dan terkoordinasi dibandingkan hari biasa.
Menurut data pantauan BMKG, pola cuaca tahun ini sedikit berbeda karena musim kering datang terlambat dan berpotensi berakhir lebih cepat. Namun pengaruh fenomena alam El Nino membuat suhu udara terasa lebih panas dan tanah lebih cepat kering. Meski masih ada kemungkinan turun hujan sesekali dengan kisaran curah tertentu, kewaspadaan tetap harus dijaga agar tidak terjebak kondisi darurat.
“Kondisi terasa lebih gersang meski sesekali turun hujan. Hal ini karena bertepatan dengan pengaruh El Nino, sehingga kita tidak boleh lengah,” jelasnya, Sabtu (4/7/2026).
Baca Juga: BPBD Sumedang Perkuat Mitigasi Hadapi Ancaman Kekeringan Dampak El Nino
Status Siaga Darurat Kekeringan Berbekal Pengalaman Kejadian Sebelumnya
Peningkatan status ini juga disertai penguatan kesiapan personel serta kelengkapan peralatan. Kerja sama dengan instansi terkait dipererat, agar jika sewaktu‑waktu dibutuhkan penyaluran bantuan, prosesnya tidak terhambat.
“Hingga saat ini, pemantauan lapangan baru mencatat gejala kekeringan ringan di satu wilayah, namun terus diperluas jangkauannya,” ucapnya.
Pemerintah pun mengambil pelajaran berharga dari peristiwa dua tahun lalu. Di mana, hampir seluruh lingkungan di 15 kelurahan melaporkan kesulitan mendapatkan air bersih. Pengalaman itu menjadi dasar penyusunan langkah antisipasi dengan menetapkan status siaga darurat kekeringan, agar kerugian tidak terulang sama besarnya.
Baca Juga: Tekan Eksploitasi Air Tanah, Pemkot Cimahi Setop Pengeboran Sumur Artesis Baru
Selain persiapan aparat, dukungan warga menjadi kunci utama keberhasilan melewati masa sulit ini. Masyarakat diimbau mulai berhemat, menampung air saat tersedia, dan menghindari pemborosan agar cadangan yang ada cukup untuk kebutuhan sehari‑hari. (Eri/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

8 hours ago
5

















































