harapanrakyat.com,- Pergerakan tanah melanda Dusun Caricangkas, RT 003 RW 003, Desa Karyamukti, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Akibat kejadian tersebut, dua rumah warga dilaporkan ambruk, sementara empat rumah lainnya terancam.
Peristiwa ini terjadi pada Senin (2/2/2026) dini hari, saat wilayah Sumedang diguyur hujan deras dengan intensitas tinggi. Selain hujan, abrasi sungai yang terus berlangsung diduga memperparah kondisi tanah di kawasan tersebut.
Salah satu pemilik rumah yang ambruk, Nunu Nugraha menuturkan, tanda-tanda awal kejadian sudah terdengar sejak pukul 02.00 WIB. Saat itu, warga yang sedang terlelap tidur dikejutkan oleh suara retakan tanah. Longsor kemudian terjadi menjelang pagi, sekitar pukul 05.30 WIB, setelah salat Subuh.
“Dapur itu baru dibangun dan sebelumnya sudah dua kali disangga serta satu kali dipasang cerucuk,” kata Nunu saat ditemui di rumahnya, Selasa (3/2/2026).
Akibat kejadian tersebut, bagian dapur kamar mandi rumah serta sejumlah perabotan rumah tangga hancur terbawa longsor. Kerugian materi yang dialaminya diperkirakan mencapai Rp60 hingga Rp70 juta rupiah.
“Bagian rumah saya yang rusak itu dapur. Untungnya dapur tidak menyatu dengan bangunan utama, meskipun posisinya menempel. Sekarang tinggal di rumah adik mengungsi dulu untuk sementara waktu,” ucapnya.
Pergerakan Tanah di Sumedang Terdeteksi Sejak November 2025
Sementara itu Kepala Dusun Caricangkas, Agiska menjelaskan, pergerakan tanah sebenarnya sudah terdeteksi sejak November 2025. Pihak dusun dan desa telah melaporkan kondisi tersebut kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta mengajukan permohonan bantuan ke instansi terkait.
“Warga bersama pemerintah desa sudah berupaya melakukan penanganan sementara, seperti membuat cerucuk dan tembok penahan tanah sederhana secara gotong royong. Namun, kami terkendala keterbatasan material,” kata Agiska.
Baca Juga: Lomba Mural Nasional Warnai Kawasan Sport Center Tadjimalela Sumedang
Ia menyebutkan, saat ini terdapat sekitar enam rumah yang terancam, dengan empat rumah mengalami retakan cukup parah dan dua rumah telah ambruk hingga sekitar 50 persen kerusakan. Kondisi tersebut dinilai sangat berbahaya apabila rumah tetap dihuni, mengingat pergerakan tanah kini bisa terjadi secara tiba-tiba, bahkan tanpa hujan.
“Karena cuaca masih ekstrem, kami khawatir akan terjadi longsor susulan yang dampaknya bisa lebih luas. Kami berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat segera membantu, terutama untuk pembangunan TPT atau bronjong di wilayah ini,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, seluruh warga yang rumahnya terdampak telah diarahkan untuk mengungsi ke rumah saudara atau tetangga terdekat.
“Posisi rumah yang ambruk saat ini sudah dikosongkan. Yang mengungsi berarti ada enam orang dari keluarga bapak Nunu 5, yang rumah itu satu orang,” ungkapnya.
Agiska menambahkan, saat BPBD melakukan peninjauan pada Senin pagi sekitar pukul 08.00 WIB kemarin, masih terdengar suara retakan dari struktur bangunan yang tersisa. Hal tersebut semakin menguatkan kekhawatiran warga akan potensi longsor lanjutan.
Baca Juga: Seni Tradisional Khas Sumedang Sambut Kunjungan Delegasi Kedutaan Kuwait
“Demi keselamatan bersama, kami minta warga tidak memaksakan tinggal di rumah yang kondisinya sudah tidak aman,” pungkasnya. (Aang/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

18 hours ago
8

















































