Ritual menuba adat tuai sorotan ketika kebakaran hutan dan lahan kembali mengancam sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan. Sebagai ritual khas masyarakat Suku Dayak, menuba adat menjadi bentuk ikhtiar bersama untuk memohon turunnya hujan. Sehingga harapannya proses penanganan bencana bisa semakin mudah serta cepat.
Baca Juga: Upacara Tiwah Suku Dayak, Tradisi Mengantar Arwah ke Lweu Tatau
Seperti masyarakat Indonesia ketahui, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla membawa dampak besar. Kobaran api menghanguskan kawasan hutan, mengganggu aktivitas warga, serta menghasilkan kabut asap yang berbahaya. Di tengah kondisi tersebut, berbagai upaya termasuk ritual terus dilakukan untuk mengendalikan sekaligus mencegah kebakaran semakin meluas.
Ritual menuba pada dasarnya merupakan tradisi menangkap ikan masyarakat adat Dayak yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Prosesnya berlangsung di hulu Sungai Arut. Tepatnya di kawasan Teluk Pamali, Desa Riam, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.
Menariknya, menuba ternyata tidak hanya berkaitan dengan kegiatan menangkap ikan. Lebih dari itu, ritualnya juga menjadi bagian dari nilai budaya dan spiritual masyarakat setempat. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat memanjatkan doa dan harapan kepada Sang Pencipta. Dalam pelaksanaannya, doa tersebut membawa harapan agar hujan segera turun.
Harapan itu menjadi semakin penting ketika kemarau meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan. Kegiatannya pun muncul sebagai bentuk kebersamaan masyarakat dalam menghadapi kondisi alam yang terasa sulit. Seperti saat ini ketika berbagai upaya telah tim lakukan, namun kebakaran masih melebar dan belum mampu teratasi secara maksimal.
Pelaksanaan ritual menuba adat tidak hanya berlangsung seperti proses menangkap ikan biasa. Pasalnya, masyarakat akan melangsungkan upacara sebelum penangkapan ikan dimulai. Selain itu, cairan alami dari tanaman tuba digunakan untuk membantu menangkap ikan secara bersama-sama.
Baca Juga: Mulud Adat Bayan Lombok Masuk KEN 2026: Intip Keunikan Tradisi Leluhur yang Mendunia
Akar tanaman tuba yang sudah terkumpul terlebih dahulu ditumbuk hingga menghasilkan cairan pekat. Suara tumbukan akar tuba terdengar dari tepian sungai sebagai bagian dari rangkaian tradisi. Masyarakat kemudian melarutkan cairan tersebut ke dalam aliran sungai dan beberapa titik penting. Proses tersebut membuat penangkapan ikan dapat berlangsung secara berkelompok.
Ratusan Masyarakat Ikut Meramaikan Tradisi
Tak kalah menarik, setiap ritual berlangsung, setidaknya ratusan masyarakat berkumpul di sekitar kawasan sungai. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan adat dan bersiap untuk menangkap ikan. Di satu titik Teluk Pamali misalnya, lebih dari 800 warga dilaporkan berkumpul. Sementara itu, ratusan warga lainnya mengikuti kegiatan di bagian sungai yang membentang dari hulu hingga hilir.
Antusiasme masyarakat menjadi salah satu pemandangan unik dalam pelaksanaan tradisi menuba adat. Warga dari sejumlah desa di Kecamatan Arut Utara hadir untuk mengikuti kegiatan bersama tersebut. Masyarakat dari beberapa desa di Kabupaten Lamandau juga datang ke lokasi. Mereka menyaksikan sekaligus mengikuti rangkaian tradisi yang berlangsung di Hulu Sungai Arut.
Kegiatan tersebut bahkan kerap mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Termasuk pemimpin daerah di Kotawaringin Barat serta sejumlah pejabat daerah. Bagi masyarakat, kebersamaan dalam menuba memiliki arti mendalam. Termasuk menjadi momen mempertemukan warga dalam satu kegiatan yang berangkat dari budaya leluhur.
Menangkap Ikan dengan Alat yang Ramah Lingkungan
Setelah cairan dari akar tuba mengalir dan menyebar ke dalam sungai, para peserta mulai menunggu hasilnya. Tidak lama kemudian, suasana di sekitar aliran air semakin ramai ketika ikan perlahan muncul ke permukaan. Warga yang telah bersiap segera bergerak untuk menangkapnya menggunakan berbagai peralatan sederhana.
Beragam ikan sungai kemudian berhasil ditemukan dalam kegiatan tersebut. Baung, lais, tapah dan belida menjadi beberapa jenis yang sering muncul. Jenis lainnya yang hidup di perairan sungai Kalimantan antara lain patin, jelawat, toman hingga gabus. Sebagian warga langsung membawa pulang hasil tangkapan untuk bahan makanan bersama keluarga.
Baca Juga: Tradisi Pasola Sumba, Tampilkan Peperangan dengan Kuda dan Tombak
Bagi masyarakat Dayak di Hulu Sungai Arut, ritual menuba adat memang bukan pengganti upaya pemadaman kebakaran. Sebaliknya, masyarakat menjalankan ritual adat dengan menuba sebagai bagian dari doa dan usaha bersama menghadapi bencana. Di tengah ancaman karhutla Kalimantan, kegiatan tersebut memperlihatkan kekuatan kearifan lokal dalam menyatukan masyarakat. (R10/HR-Online)

18 hours ago
14

















































